Tampilkan postingan dengan label BERITA - FauNa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA - FauNa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 April 2009

Canberra

KOMPAS, Selasa, 28 April 2009 03:15 WIB
Aksi protes yang ini memang kelewatan. Seekor ikan hiu masih hidup digeletakkan begitu saja di ambang pintu kantor sebuah surat kabar. Demikian menurut seorang polisi di Canberra, Jumat pekan lalu. Mungkin maksudnya mau memprotes surat kabar tersebut, tetapi ikan yang tak berdosa malah menjadi korban. Hiu muda dari Port Jackson dengan panjang sekitar 70 sentimeter itu digeletakkan di kegelapan pagi di luar kantor surat kabar tersebut di Warrnambool, pesisir tenggara Negara Bagian Victoria, Australia. Masih untung, kata polisi bernama Jarrod Dwyer, ikan itu tampak menggeliat-geliat saat disiram air. Ikan malang itu masih bernapas. Apa pun alasan protesnya, yang pasti polisi berjanji akan mencari si pelaku yang melakukan kekejaman terhadap binatang dan memperkarakannya.

Readmore »»

Kamis, 05 Maret 2009

Satwa Langka - Warga Selamatkan Dua Pesut Mahakam

KOMPAS, Kamis, 5 Maret 2009 05:24 WIB
Samarinda - Sekitar 200 warga Kampung Pela, Kecamatan Kotabangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, berhasil menyelamatkan dua pesut mahakam (Orcaella brevirostris) yang terperangkap di daerah genangan air mirip danau dekat perkampungan mereka. Dua mamalia langka ini kemudian dikembalikan ke Sungai Pela, anak Sungai Mahakam.


”Yang diselamatkan adalah induk dan anak pesut,” kata Direktur Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) Budiono di Samarinda, Rabu (4/3). Induk pesut diperkirakan berusia tujuh tahun, panjang 2 meter, dan bobot 200 kilogram.

Adapun anak pesut diperkirakan berumur tiga tahun, panjang 1,3 meter, dan bobot 130 kilogram. ”Keduanya terperangkap di genangan itu saat banjir sebulan lalu,” kata Saldian (36), warga Kampung Pela, yang dihubungi dari Samarinda, Rabu. Warga menemukan pesut itu Senin (2/3) lalu.

Sering berkeliaran

Sebelumnya, pesut itu diketahui sering berkeliaran di perairan Sungai Mahakam di sekitar Kampung Pela. Untuk ke daerah genangan tersebut, satwa ini lewat semacam saluran yang terhubung dengan Sungai Pela, anak Sungai Mahakam. Saluran sedalam 40 sentimeter itu bisa dilewati kawanan pesut ketika banjir dengan ketinggian 1,5 meter.

Saldian mengatakan, daerah itu menjadi salah satu lokasi pencarian ikan memakai jaring-jaring atau rengge oleh warga setempat. Pesut diketahui berada di sana ketika banyak rengge milik warga yang jebol. ”Setelah kami telusuri ternyata ada pesut, makanya kami hubungi RASI,” kata Saldian.

Budiono mengaku gembira karena seluruh warga kampung yang mencapai sekitar 200 orang terlibat menyelamatkan dua pesut tersebut. Saat ini populasi pesut mahakam diperkirakan 90 ekor.

Pesut juga dijumpai di Kecamatan Muara Pahu pada pertemuan Sungai Kedang Pahu dengan Sungai Mahakam dan di Kecamatan Muara Kaman pada pertemuan Sungai Kedang Rantau dengan Sungai Mahakam.

Budiono mengatakan, gangguan terhadap pesut, antara lain, adalah lalu lalang kapal dan rengge. Suara kapal juga mengganggu sistem sonar untuk mencari ikan dan berkomunikasi dengan pesut lainnya. Jaring nelayan dari nilon tidak bisa dideteksi pesut sehingga pesut sering terperangkap dan akhirnya mati.

Gangguan lainnya terhadap habitat pesut di Sungai Mahakam juga berasal dari pencemaran tambang batu bara. Pencemaran itu menyebabkan pesut tidak bisa hamil.

Di Kecamatan Muara Pahu, warga setempat menganggap penting keberadaan pesut sehingga perlu dilestarikan. Jika tidak ada pesut berkeliaran di sungai-sungai di Muara Pahu, itu bertanda bahwa Sungai Mahakam akan meluap dan banjir sehingga masyarakat bisa mengantisipasi sebelumnya.

Readmore »»

Warga Selamatkan Bayi Orangutan Korban Sawit

KOMPAS, Kamis, 5 Maret 2009 04:29 WIB
Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah menerima penyerahan seekor bayi orangutan (Pongo pygmaeus) berumur sekitar satu tahun yang diselamatkan warga dari areal pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit di Desa Tanjung Hanau, Kecamatan Hanau, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Pangkalan Bun, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah (BKSDA Kalteng), Eko Novi Setiawan, ketika dihubungi dari Palangkaraya, Rabu (4/3), menuturkan, bayi orangutan tersebut ditemukan warga Tanjung Hanau. Warga selanjutnya menyerahkan bayi orangutan itu kepada seorang anggota Satuan Polisi Pamong Praja Kecamatan Hanau bernama Muzakie Rakhman. Muzakie menampung dan merawat bayi orangutan itu selama tiga hari kemudian mengabarkan ke BKSDA Kalteng. Mengutip penjelasan Muzakie, Eko menuturkan, bayi orangutan diserahkan karena warga desa tak sanggup merawat dan memeliharanya. Di sekitar tempat penemuan bayi orangutan itu tidak lagi dijumpai induknya.

Readmore »»

KEGANASAN HARIMAU - Satu Lagi Korban Tewas Diterkam

KOMPAS, Kamis, 5 Maret 2009 05:34 WIB
Palembang - Hingga Rabu (4/3) sudah sembilan orang tewas diterkam harimau dalam lima pekan terakhir karena habitat hewan buas itu diganggu. Seorang pembalak liar, kemarin, ditemukan tewas akibat diterkam harimau di kawasan hutan Sungai Medak, Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi Didy Wurjanto saat dihubungi mengatakan, identitas pembalak yang tewas itu belum diketahui karena jenazahnya langsung dibawa pergi dari lokasi oleh cukong.
Lokasi kejadian berjarak 5-10 kilometer dari lokasi tewasnya korban kedelapan, yaitu di Sungai Medak. Saat ini BKSDA Jambi telah mengirimkan petugas ke lokasi untuk mengumpulkan informasi.
”Mereka menyadari bahwa tindakan mereka ilegal sehingga secara diam-diam korban dievakuasi dan dibawa ke kampung halamannya. Korban bukan penduduk sekitar karena tidak melapor,” kata Didy.
Dua orang ditangkap
Rabu dini hari, dua tersangka penjerat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Desa Tanjung Pasar, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, ditangkap oleh satuan polisi kehutanan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan Kepolisian Resor Indragiri Hilir.
Tersangka A dan M diambil dari rumah mereka pada Rabu dini hari dan dibawa ke Kepolisian Sektor Pelangiran.
”Kami berharap polisi dapat meneruskan proses hukumnya sampai ke pengadilan,” ujar Rachman Sidik, Kepala BBKSDA Riau di Pekanbaru.
Rachman mengatakan, A dan M adalah tokoh utama di balik kematian tiga harimau di Desa Tanjung Pasar beberapa waktu lalu. Keduanya diduga pelaku penjeratan harimau.
Seperti diberitakan, dalam dua pekan di bulan Februari, empat ekor harimau sumatera mati dijerat warga. Tiga harimau mati di Desa Tanjung Pasar tanggal 10 dan 16 Februari, dan seekor harimau mati di Desa Gaung, Kecamatam Gaung, tanggal 24 Februari.
Tiga ekor harimau di Desa Tanjung Pasar dijerat karena memangsa beberapa ternak warga, sedangkan harimau di Gaung dijerat setelah sebelumnya menerkam dua penjaga kebun kelapa sawit, Mamat dan Toni.
Secara terpisah, Kepala BBKSDA Riau Wilayah I Rengat Edi Susanto mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian setempat untuk mengusut tuntas kasus kematian hewan langka itu.

Readmore »»

Jumat, 27 Februari 2009

KONFLIK LINGKUNGAN - Usut Kematian Harimau

KOMPAS, Sabtu, 28 Februari 2009 00:58 WIB
Pekanbaru - Menteri Kehutanan MS Kaban minta Kepolisian Daerah Riau mengusut kematian empat ekor harimau di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Warga tidak boleh membalas dendam dengan membunuh hewan langka itu meski rugi akibat ternak mati dimangsa harimau.

”Harimau memiliki habitat yang jelas. Masyarakat yang mendesak keberadaan hewan itu dengan berbagai alasan. Saya meminta Polri menghukum warga yang menjerat harimau,” ujar Kaban di Pekanbaru, Jumat (27/2).
Dua pekan terakhir empat ekor harimau mati dijerat warga di Kecamatan Pelangiran dan Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir. Di Pelangiran, dua harimau dibunuh karena makan ternak warga. Di Gaung, harimau mati dijerat setelah menyerang penjaga kebun, Toni dan Mamat.
Menurut Kaban, warga yang di pinggiran hutan semestinya sadar bahwa areal permukiman mereka merupakan daerah lintasan harimau. Harimau yang keluar dari hutan pasti dipicu oleh kondisi ketiadaan makanan.
”Kalau ada harimau makan ternak, semestinya diberitahukan kepada petugas kehutanan,” kata Kaban. Ia menyatakan, kehutanan di Riau bermasalah akibat belum ada rencana tata ruang dan wilayah yang jelas.
Secara terpisah, Direktur Eksekutif Walhi Riau Johny Setiawan Mundung mengatakan, kematian empat ekor harimau selama dua pekan menunjukkan ketidakmampuan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengantisipasi konflik harimau dan manusia.
”BBKSDA Riau memiliki peta penyebaran harimau. Semestinya disosialisasikan ke masyarakat bahwa permukiman mereka berada di lintasan harimau sehingga ada aturan main yang jelas kalau terjadi konflik,” kata Mundung.
Di Aceh, dalam dua tahun terakhir, sedikitnya delapan orang tewas diterkam harimau saat berada di kebun di tepi hutan. Oleh karena itu, masyarakat membunuh harimau. Tidak sedikit pula harimau yang dipelihara warga atau instansi.
Hal itu diungkapkan Juru Bicara Yayasan Leuser Internasional (YLI) Chik Rini, di Banda Aceh, Jumat. Sebagian besar konflik manusia dengan harimau terjadi di Aceh Selatan dan pantai barat Aceh. Di pantai timur, yang terjadi adalah konflik manusia dengan gajah. ”Kerusakan hutan dan pembukaan lahan perkebunan yang tidak aktif selama masa konflik menjadi salah satu penyebabnya,” kata Rini.
Dalam dua bulan terakhir, dua kali harimau turun ke permukiman warga dan memangsa ternak di Trumon, Aceh Selatan. Warga yang mencoba melepas harimau dari perangkap babi digigit oleh harimau itu.
Berdasarkan catatan YLI, sembilan harimau mati. Dua harimau lain saat ini berada di tangan warga Keude Bakongan dan salah satu instalasi militer di wilayah Aceh Selatan. (SAH/MHD)

Readmore »»

Selasa, 24 Februari 2009

Harimau Sumatera - Enam Warga Jambi Tewas dalam Sebulan

Selasa, 24 Februari 2009 00:10 WIB
Jambi, Kompas - Setidaknya sudah enam orang tewas diterkam harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae ) dalam sebulan terakhir di wilayah Desa Sungai Gelam, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi. Dinas Kehutanan diminta segera mengantisipasi perambahan dan pembalakan liar di dalam hutan negara yang merupakan habitat harimau.


”Jika persoalan ini tidak segera diatasi, korban yang tewas dimangsa harimau bisa terus bertambah. Bukan kesalahan harimau, tetapi ini lebih sebagai ulah manusia mengusik habitat satwa liar tersebut,” ujar Didy Wurjanto, Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Jambi, Senin (23/2).

Minggu malam lalu bertambah satu lagi korban. Pembalak liar kayu, Khoiri (20), warga Lampung, tewas dimangsa harimau saat menyusun kayu-kayu curian dalam kawasan eks hak pengelolaan hutan Rimba Karya Indah di Desa Sungai Gelam, perbatasan Jambi dan Sumatera Selatan.

Dari studi jejak harimau yang diduga sebagai pemangsa, harimau itu berjenis kelamin laki-laki dengan panjang 4 meter. (ITA)

Readmore »»

Senin, 23 Februari 2009

Harimau Serang Warga

KOMPAS, Selasa, 24 Februari 2009, 01:01 Wib
Seekor harimau menyerang Toni (35), penjaga kebun di Desa Gaung, Kecamatan Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, Minggu (22/2) sekitar pukul 23.30.
Beruntung nyawa Toni dapat diselamatkan meski tubuhnya terluka cukup parah. Toni terluka akibat cakaran harimau di sekujur tubuh. Lengan kanannya pun patah. Toni selamat setelah temannya sesama penjaga kebun, Mamat (28), datang dan menebas harimau itu dengan parang. Saat itu Toni sedang bergumul dengan harimau. ”Banyak bekas cakaran di sekujur tubuhnya dan yang paling parah di dada, punggung, serta paha. Secara umum, kondisinya sudah membaik,” ujar Direktur RS Puri Husada Tembilahan, yang dihubungi dari Pekanbaru, Senin (23/2). Syamsidar, Humas WWF Riau, mengungkapkan, masuknya harimau ke areal warga adalah dampak dari kerusakan lingkungan di wilayah itu. ”Harimau semakin sulit mencari makan di hutan karena sudah berubah menjadi kebun sawit,” katanya. (sah)

Readmore »»

Minggu, 15 Februari 2009

Jelajah Kalimantan - Orangutan di Sungai Rungan, Kenangan...

KOMPAS, Minggu, 15 Februari 2009 00:40 WIB

Seekor orangutan (Pongo pygmaeus wumbii) di atas pohon di Pulau Kaja, Sungai Rungan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin (2/2). Pulau Kaja adalah tempat introduksi atau semacam pelatihan bagi orangutan sebelum dilepasliarkan. Orangutan merupakan satwa yang dilindungi undang-undang sebab terancam punah.

Beberapa orangutan berdiam di pohon melintang di atas Sungai Rungan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Mata binatang itu penuh selidik memandang kami walau tak lama kemudian berlalu dengan cuek. Dari atas kapal kayu, kami buru-buru mengambil kamera, membidik. Wajah purba Kalimantan itu pun kami simpan dalam memori kamera.

Sungai ibarat masa lalu Kalimantan, sedangkan jalan adalah masa kini dan masa depan pulau itu. Masa depan yang suram.

Sembilan hari menyusuri jalan darat Trans-Kalimantan dari Nunukan, Kalimantan Timur, hingga Palangkaraya, kami tak lagi menyaksikan wajah lama Kalimantan, yang sering digambarkan sebagai rimba raya dengan aneka satwa. Di sepanjang jalan darat itu, hutan telah dibabat habis diganti dengan ladang sawit.

Maka, setiba di Palangkaraya, Tim Jelajah Kalimantan 2009 memutuskan beristirahat sejenak, menghirup bau hutan dan melihat geliat kehidupan di sungai. Dengan perahu kayu, The Rahai’i Pangun Jungle River Cruise Boat berukuran 20 meter x 6 meter, kami menyusuri sungai menuju Pulau Kaja. Pulau itu di tengah-tengah Sungai Rungan, anak Sungai Kahayan, tempat tinggal sekawanan orangutan.

Satwa yang menjadi ikon Kalimantan itu sengaja ditempatkan di Pulau Kaja sebagai pulau persinggahan untuk adaptasi sebelum dilepasliarkan di hutan. Orangutan cuek terhadap kedatangan kami, mudah diartikan sebagai belum siapnya mereka dikembalikan ke habitatnya. Mereka yang sudah liar dan menghindar dari manusia—predator utama mereka—siap dilepas.

Selain melihat orangutan, mata pelancong juga dimanjakan hijaunya alam Kalteng dengan kehidupan masyarakat setempat. Di tepi sungai, di Kampung Dayak Sei Gohong, misalnya, ramai pengangkutan karet dari perahu ke truk untuk dibawa ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Kami juga kerap berpapasan dengan belasan perahu kayu. Di sungai ini, transportasi sungai masih memperlihatkan geliatnya. Ketika hari menjelang senja, terlihat belasan orang memancing di tepi sungai. Kami pun saling bertukar salam dengan melambaikan tangan.

Penjelajahan Sungai Rungan sangat kami nikmati. Inilah penawar letih setelah berhari-hari dibanting-banting di Jalan Lintas Selatan Trans-Kalimantan. Air sungai yang tak bergejolak membuat perahu meluncur tenang seolah melaju di jalan tol.

Namun, harga untuk menikmati potret masa lalu Kalimantan itu tak murah. Untuk menyusuri Sungai Rungan dengan The Rahai’i Pangun Jungle River Cruise Boat selama dua jam, pelancong harus merogoh Rp 400.000 per orang. Namun, jika ingin berkelana lebih bebas, perahu dapat disewa seharga Rp 5,8 juta per hari (turis domestik) atau 1.200 dollar AS untuk turis mancanegara.

Operator kapal juga menawarkan paket sewa perahu selama 5 hari 4 malam atau 3 hari 2 malam. Paket sewa perahu ditunjang fasilitas kapal yang cukup nyaman, yakni lima kamar yang dilengkapi toilet dan pancuran mandi. Pelancong pun diajak singgah di kampung-kampung Dayak di hulu sungai.

Dengan harga sewa yang lumayan mahal untuk ukuran kocek Indonesia, umumnya, penyewa Rahai’i Pangun berasal dari Amerika Serikat, Australia, Afrika Selatan, Inggris, dan Belanda. Namun, pelancong yang ingin berhemat tetap saja bisa menikmati jalur yang sama karena selain menggunakan The Rahai’i Pangun itu, siapa pun bisa menyewa perahu-perahu kecil milik warga dengan harga yang jauh lebih murah meriah, yaitu sebesar Rp 150.000-250.000 untuk waktu dua jam hingga empat jam.

Dua perempuan Inggris

Wisata berperahu menyusuri Sungai Kahayan dan Sungai Rungan mulai hidup dua tahun ini atas inisiatif dua perempuan Inggris, Lorna Dawson-Collins dan Gaye Thavisin.

Lorna dan Gaye memilih angkutan wisata sungai karena infrastruktur jalan sering kali rusak. Mereka yakin jalur wisata yang bertumpu pada jalan darat akan mati. Lagi pula, tiada nilai jual dari wisata berbasis jalan di pulau yang datar ini sebab tiada pemandangan spektakuler.

Lorna memang telah jatuh hati dengan Kalimantan sehingga membuka paket wisata itu. Dia fasih berbahasa Indonesia dan telah bermukim di Palangkaraya sejak tahun 1996. Ketika itu, Lorna berkiprah di LSM Lembaga Pengembangan Masyarakat yang Berlanjut.

Keinginannya membuka paket wisata, menurut Lorna, tak semata untuk meraup keuntungan, tetapi juga untuk memberdayakan masyarakat dengan ekowisata. Pemasukan dari wisata diharapkan Lorna mendorong masyarakat untuk melestarikan hutan yang tersisa, termasuk mengendalikan penangkapan satwa.

Selain itu, tambah Lorna, 25 persen dari keuntungan bisnis ekowisata menggunakan kapal Rahai’i Pangun akan dijadikan dana mikrokredit untuk memberdayakan ekonomi masyarakat daerah setempat.

Impian Lorna dan Gaye ini menjadi oase di tengah obsesi Pemerintah Indonesia dan sejumlah elite pengusaha yang sibuk dengan mimpi-mimpi mengubah hutan menjadi ladang sawit dan menggantikan sungai serta kanal-kanal yang dibangun sejak ratusan tahun lalu dengan jalan raya.

Lorna dan Gaye sepertinya harus bekerja keras untuk mewujudkan mimpi mereka karena sungai-sungai di Kalimantan saat ini semakin menyusut saat kemarau dan banjir saat musim hujan. Apalagi limbah dari tambang liar terus mencemari sungai-sungai itu. (RYO/AIK/BRO/CAS/FUL)

Readmore »»

Satwa Liar - Sporc Kejar Pencuri Bayi Harimau

Jumat, 13 Februari 2009 01:28 WIB
Jambi, Kompas - Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat atau Sporc menelusuri pencuri bayi harimau dari dalam kawasan eks hak pemanfaatan hutan Rima Karya Indah, Kabupaten Muaro Jambi. Induk harimau tersebut kini dikarantina di Kebun Binatang Taman Rimbo Jambi guna menghindari berlanjutnya perburuan satwa liar tersebut.

”Kami telah mengirim Sporc untuk terus melacak pelaku pencurian dan penjualan bayi harimau. Si bayi harus ditemukan dan dikembalikan kepada induknya,” ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi Didi Wurjanto, Kamis (12/2).

Menurut Didi, tewasnya tiga warga Sungai Gelam dan Pematang Raman di Muaro Jambi oleh terkaman induk harimau akibat kemarahan harimau setelah mengetahui bayinya dicuri orang. Pencurian bayi harimau diperkirakan terjadi saat sang induk tengah pergi berburu makanan di tempat lain.

Pada Kamis kemarin, induk betina harimau telah dipindah ke Kebun Binatang Taman Rimbo Jambi setelah sehari sebelumnya masuk jebakan yang dipasang tim BKSDA dalam hutan. Lalu, harimau itu diangkut dengan truk menempuh perjalanan hampir enam jam menuju Kota Jambi.

Aktivis konservasi harimau sumatera, Debby Martyr, menilai, tindakan BKSDA Jambi untuk mengarantina harimau tersebut sudah sesuai dengan strategi konservasi. ”Kami memang tidak bisa lagi terlalu romantis. Keberadaan harimau berdekatan dengan manusia. Ini dapat membahayakan manusia, juga membahayakan harimau itu sendiri dari perburuan liar,” ujarnya.

Debby menambahkan, pemerintah selanjutnya perlu mempertimbangkan kawasan yang cocok untuk harimau tersebut dilepaskan sehingga dapat hidup aman tanpa gangguan manusia.

Ia memperkirakan populasi harimau sumatera kurang dari 400 ekor. Jambi memiliki kawasan konservasi harimau, di antaranya Taman Nasional Berbak, Taman Nasional Bukit Tigapuluh, dan Taman Nasional Kerinci Seblat. (ITA)

Readmore »»

Jual Bagian Binatang Ditangkap

KOMPAS, 13 Februari 2009, 01:01 Wib
Polda Metro Jaya, Kamis (12/2) pukul 11.00, menangkap para pedagang di Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, yang menjual bagian organ hewan yang dilindungi. Bagian-bagian dari binatang itu adalah
kepala dan kulit macan tutul, rahang hiu, gading dan gigi gajah, serta kulit beruang. Barang-barang itu dijual dengan harga Rp 10 juta-Rp 15 juta. Dari empat toko, polisi menangkap empat tersangka. Mereka dijerat UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Pasal 40 Ayat 2 juncto Pasal 21 Ayat 2b KUHP, dengan hukuman lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Demikian dikatakan Kepala Satuan Sumber Daya Lingkungan Polda Metro Ajun Komisaris Besar Rudi Setiawan, Kamis. (WIN)

Readmore »»

Kamis, 12 Februari 2009

Harimau Sumatera Masuk Jebakan BKSDA

KOMPAS, Kamis, 12 Februari 2009 02:00 WIB
Harimau sumatera betina dewasa yang masuk perangkap dibawa tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi untuk dikarantina di Jambi, Rabu (11/2). Harimau yang diduga menerkam tiga warga Desa Sungai Gelam, Muaro Jambi, hingga tewas ini ditangkap untuk menghindari perburuan liar.


Jambi, Kompas - Seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) betina tertangkap dalam jebakan milik tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi, Rabu (11/2). Harimau yang sebelumnya diketahui menerkam tiga warga di Sungai Gelam, Muaro Jambi, hingga tewas ini akan dikarantina dan kemudian dilepas kembali ke habitat yang lebih aman.
Dari jebakannya yang dipasang dalam kawasan eks hak pemanfaatan hutan (HPH) Rimba Karya Indah, harimau diangkut menggunakan truk dan kemudian menempuh perjalanan hampir enam jam mencapai kantor BKSDA di Kota Jambi. Harimau dewasa berukuran berat lebih dari 300 kilogram dan panjang 2 meter tersebut menggeram keras berulang kali karena dikerumuni banyak orang.
Kepala BKSDA Jambi Didi Wurjanto menjelaskan, pihaknya terpaksa menangkap harimau karena desakan masyarakat sangat kuat. ”Masyarakat khawatir akan bertambah korban lagi yang diterkam harimau tersebut,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, harimau yang sama menerkam tiga warga Desa Sungai Gelam dan Pematang Raman akhir Januari lalu. Para korban adalah perambah hutan dan pencari jelutung yang masuk ke dalam teritori harimau. Menurut Didi, harimau adalah jenis satwa yang tidak memiliki kebiasaan memangsa manusia.
Sifat agresif yang di luar kebiasaan diduga akibat warga menangkap bayi dari harimau betina tersebut. Dugaan dikuatkan dengan kondisi fisik puting harimau yang masih membesar. (ITA)

Readmore »»

Rabu, 11 Februari 2009

Tambahan 11 Gajah Tak Sesuai Amdal

KOMPAS, Rabu, 11 Februari 2009, 01:58 Wib
Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Bali I Made Adi Jaya, di Denpasar, Selasa (10/2), mengatakan, keberadaan 11 dari 31 gajah di Bali Marine Safari Park (BMSP) di Gianyar tidak sesuai dengan pedoman analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), terutama terkait daya dukung pakan. Kelebihan populasi dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan lingkungan. Sementara Manager Pemasaran BMSP Rei Satria, secara terpisah menegaskan, pemindahan semua gajah dari Jawa ke BMSP sudah memenuhi ketentuan Dinas Peternakan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam setempat. Ia juga menjamin tidak masalah dengan ketersediaan pakan karena sudah melibatkan sejumlah desa adat sekitar sebagai pemasok pakan gajah. Selain itu, BMSP sendiri menyisakan sekitar 5 hektar kawasannya khusus untuk lahan pakan gajah. (ANS)

Readmore »»

Sabtu, 07 Februari 2009

LINGKUNGAN - Rawa Aopa Surga Dunia Pengamatan Burung Air

KOMPAS, Selasa, 27 Januari 2009 01:28 WIB Oleh: AGUNG SETYAHADI

Burung-burung air (waterfowl) di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) merupakan salah satu keindahan alam yang menarik untuk wisata pengamatan burung. Kelestarian TNRAW harus dijaga karena menjadi habitat berbagai satwa liar dan pengontrol siklus air.

Kepak sayap dan ceracau puluhan burung bangau yang terkejut oleh kemunculan manusia memecah kesunyian Rawa Aopa. Burung-burung air itu berpindah ke gerumbul pandan yang lebih jauh sambil mengamati laju perahu yang dikayuh perlahan menyusuri air rawa yang berkilat-kilat memantulkan sinar matahari.
Makkarate (58) dan Ansar (28) terus mendayung sampan yang kami tumpangi. Gerumbul-gerumbul totele (pandan rawa) dan rumput gelagah yang tumbuh menumpang gumpalan-gumpalan gambut membentuk jalur-jalur air seperti jalan raya. Di ujung jalur yang kami susuri, rumput setinggi satu meter menutup jalan. Makkarate dengan yakin mengarahkan haluan perahu menembus pembatas alam itu. Ternyata di baliknya terdapat lagi jalur yang terbuka.
Lelaki kurus berkulit gelap terpanggang matahari itu menjelajahi Rawa Aopa sejak 1977. Ia menempuh perjalanan panjang dari Sengkang, Sulawesi Selatan, ke Rawa Aopa di Sulawesi Tenggara untuk menjadi nelayan. Seluk beluk jalur Rawa Aopa sudah di luar kepala, termasuk lokasi yang banyak burung. Jika tidak hafal jalur, rawa berair gelap itu bisa menyesatkan karena banyak sekali alur-alur air.
Di sepanjang perjalanan, pemandangan dimanjakan oleh hamparan bunga-bunga teratai putih yang mulai mekar. Di bagian rawa yang dalam, bunga teratai merah seukuran piring makan mulai merekah. Warna-warna cerah bunga teratai kontras dengan air rawa yang datar, gelap, dan mistis.
Di tengah rawa itu, kita tercerabut dari hiruk pikuk kehidupan. Alam membisu, menyisakan kesunyian abadi yang sangat menenteramkan. Burung- burung pun lebih banyak membisu. Kadang-kadang desis angin merobek kesunyian rawa seluas 30.000 hektar itu.
Semakin ke tengah rawa, burung-burung air (waterfowl) semakin banyak. Bangau-bangau putih mematung sambil mengamati air, berharap ada ikan yang mendekat. Puluhan itik air berlarian di atas kulit air, mengejar gerombolan ikan. Langkah kaki itik-itik air itu menyebabkan deretan cipratan air di belakangnya, sungguh indah.
Di sebuah ceruk ilalang yang ditumbuhi teratai, sepasang burung sedang asyik bercengkrama. Mereka bersanding dan sesekali saling mematuk pelan kepala pasanganya, mirip dua sejoli yang sedang kasmaran.
Drama kehidupan burung- burung air di Rawa Aopa mudah diamati dibandingkan di hutan hujan tropis. Ruang terbuka yang begitu luas dan cahaya yang berlimpah di tengah rawa memudahkan pengamatan. Bahkan, tanpa menggunakan binokuler maupun monokuler, burung-burung air masih jelas teramati karena ukuran tubuhnya besar.
Penggemar fotografi juga lebih leluasa mengabadikan drama kehidupan burung di Rawa Aopa. Berbekal lensa dengan panjang fokal 200 milimeter pun sudah memadai. Idealnya, menggunakan lensa 300 milimeter. Selain jarak pengamatan yang relatif dekat, ukuran burung air rata-rata besar.
Rawa Aopa menjadi habitat berbagai jenis burung air yang eksotis. Universitas Leeds dari Inggris bekerja sama dengan Symbiose Birdwatcher Club dari Universitas Indonesia, pada 2004, mencatat 155 jenis burung di Rawa Aopa, 37 jenis di antaranya endemik Sulawesi.
Pengamat burung bisa membawa buku panduan pengenalan burung-burung air yang disusun oleh Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW). Beberapa burung yang dicantumkan beserta gambar antara lain cekakak sungai (Halcyon chloris), cekakak merah (Halcyon coromanda), itik gunung (Anas superciliosa), Belibis kembang (Dendrocygna arquata), dan pecuk-ular asia (Anhinga melanogaster).
Ada juga burung cangak laut (Ardea sumatrana), blekok sawah (Ardeola speciosa), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), kuntul besar (Egretta alba), kuntul perak (Egretta intermedia), kuntul karang (Egretta sacra), bangau hitam (Ciconia episcopus).
Jika beruntung, si cantik aroweli atau bangau bluwok (Mycteria cinerea) bisa dijumpai di Rawa Aopa. Burung yang langsing dan berbulu putih ini panjangnya mencapai satu meter. Pada masa berbiak, kulit muka merah, menambah anggun burung yang dilindungi dan terancam punah ini.
Setelah puas berkeliling sebagian kecil rawa yang luasnya 30.000 ha itu, kita bisa beristirahat di Pulau Harapan II. Pulau kecil ini bertanah padat dan ditumbuhi pohon-pohon keras, berbeda dengan gundukan-gundukan gambut yang lembek dan hanya ditumbuhi pandan serta rumput.
Deretan bukit
Bentang rawa yang luas, dikurung deretan bukit, bisa diamati dari atas menara pengamatan di Pulau Harapan II. Dari ketinggian 25 meter terlihat perahu-perahu nelayan yang sedang menebar jaring. Di anjungan pulau, beberapa sampan sandar menunggu empunya istirahat di teduhan pohon kelapa.
Sembari istirahat di Pulau Harapan II, kita bisa menikmati ikan hasil tangkapan nelayan, Rp 10.000-Rp 15.000 per tusuk isi lima ikan. Para nelayan juga bersedia membakarkan ikan gabus atau mujair untuk kita nikmati. Hmm... gurih dan lezat.
Rawa Aopa bisa ditempuh 1,5-2 jam menggunakan mobil pribadi atau kendaraan umum dari Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. Jika menyewa mobil biayanya sekitar Rp 500.000 per hari, di luar bahan bakar. Biaya bisa lebih ringan jika ditanggung bersama teman-teman seperjalanan.
Perjalanan sebaiknya disesuaikan dengan waktu burung-burung keluar mencari makan, pagi pukul 06.00-09.00 WITA atau sore sekitar pukul 16.00-18.00 WITA. Perjalanan darat berakhir di Kantor Seksi Pengelolaan TNRAW Wilayah I Desa Pewutaa, Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan.
Di kantor ini, kita melapor terlebih dahulu dan memperoleh panduan dari petugas TNRAW. Kita juga bisa dicarikan perahu katinting untuk menelusuri rawa dengan biaya sekitar Rp 150.000-Rp 250.000 sekali jalan. Bagi yang kurang yakin dengan kestabilan sampan, sebaiknya menggunakan dua sampan yang diikat menjadi satu supaya lebih stabil.
Sebelum menelusuri rawa, sebaiknya menggunakan lotion pelindung kulit dari sinar matahari. Cuaca yang terik menyebabkan kulit mudah terbakar, terutama yang berkulit sensitif. Jangan lupa mengenakan topi untuk melindungi sengatan langsung sinar matahari. Juga minuman penghilang dehidrasi supaya pengamatan burung lebih nyaman.

Readmore »»

Sydney

KOMPAS, Sabtu. 07 Februari 2009, 00:37 Wib
Polisi di Negara Bagian Queensland, timur laut Australia, sejak hari Rabu (4/2) mengeluarkan peringatan kepada penduduk setempat agar berhati-hati di rumah atau saat berkendaraan. Pesan agar berhati-hati ini disampaikan karena

banjir yang melanda sekitar 60 persen wilayah Queensland menyebabkan buaya yang banyak terdapat di sana berkeliaran ke rumah-rumah dan jalan. Seorang pengemudi mobil di Townsville dilaporkan menabrak seekor buaya yang melintang di jalan. Buaya sepanjang 1,6 meter itu membuat si pengemudi tidak bisa lagi menghindar. Juga ada tiga laporan soal tiga buaya ukuran besar yang ditemukan dalam rumah di wilayah Teluk Carpentaria. Dua badai siklon belakangan ini menyebabkan hampir 3.000 rumah kebanjiran. Kalau banjir air saja sih masih maklum. Air sungai yang meluap membuat buaya-buaya ikut terseret banjir dan terdampar di rumah dan jalan raya. Tentara sudah>kern 251m< diminta ikut mengatasi situasi berkeliarannya buaya-buaya yang jelas tidak akan berkompromi jika menemukan manusia. Warga berharap tentara membantu agar buaya tetap di dalam air, sementara para korban banjir, terutama anak-anak, tetap aman di tempat kering. Maklum, buaya juga suka mencari empat kering untuk berjemur.

Readmore »»

Kamis, 29 Januari 2009

Selama 2008 Terjadi 27 Kasus Konflik Gajah

KOMPAS, Rabu, 28 Januari 2009 00:55 WIB
Bengkulu, Kompas - Selama tahun 2008 terjadi 27 kasus konflik gajah sumatera (Elephas maximus sumatrae) di Bengkulu karena semakin terdesak dan menyempitnya habitat satwa liar tersebut. Gajah terdesak akibat pembukaan hutan menjadi lahan perkebunan.


Koordinator Tim Mitigasi Konflik dan Monitoring Gajah (MKMG)—sebuah lembaga kerja sama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dengan Flora Fauna International (FFI) Indonesia, Andri mengatakan, pemicu konflik adalah pembukaan kawasan hutan yang selama ini menjadi wilayah jelajah dari gajah sumatera.

”Gajah memiliki sifat unik dibandingkan dengan binatang lain yang rutin mendatangi wilayah jelajahnya meskipun sudah berubah fungsi menjadi kebun masyarakat,” katanya.

Menurut dia, kerugian akibat konflik tersebut mencapai Rp 300 juta meskipun tidak ada korban jiwa di pihak masyarakat.

”Selama tahun 2008 tidak ada korban jiwa dan tidak ada gajah yang mati, tetapi hanya kerugian tanaman yang dimakan atau dirusak gajah dan pondok yang roboh,” ujarnya.

Dalam melakukan mitigasi atau pencegahan sebelum terjadi konflik, menurut Andri, pihaknya sudah membuat sejumlah strategi serta sarana dan prasarana, seperti pembuatan menara pantau, pagar sirene yang berfungsi menimbulkan bunyi-bunyian dan meriam karbit dari besi, serta menanam serai di pinggir kebun karena tanaman tersebut tidak disukai gajah.

Ia mengatakan, kasus konflik terbanyak terjadi di Desa Dusun Pulau, Kecamatan Sungai Rumbai, Kabupaten Mukomuko, yang berjarak 2 kilometer dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat di Kecamatan Putri Hijau.

”Selain di Desa Tunggang dan Sukamerindu karena perladangan ini sebelumnya termasuk jelajah gajah. Makanya, lebih sering terjadi konflik karena kawanan gajah rutin mendatangi wilayah ini,” katanya.

Andri berharap pemerintah dan semua pihak membahas solusi untuk meminimalisasi konflik gajah untuk kehidupan manusia dan gajah. (ANTARA/BOY)

Readmore »»

Selasa, 16 Desember 2008

KEPUNAHAN FAUNA - Kodok yang Serba Rentan

KOMPAS, Rabu, 17 Desember 2008 01:03 WIB HELLEN KURNIATI Bidang Zoologi, Puslit Biologi-LIPIKodok adalah kelompok binatang yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan, seperti polusi air, perusakan hutan, ataupun perubahan iklim. Karena kepekaan mereka, amfibi dapat dijadikan indikator perubahan lingkungan.
Perubahan lingkungan yang dampaknya sangat nyata terhadap kodok jelas terlihat pada turunnya populasi disertai

turunnya keragaman jenis. Pada saat ini ada lebih dari 6.000 jenis amfibi di dunia.
Dari 6.000 jenis, 5.915 telah ditelaah statusnya oleh IUCN (International Union for Conservation and Natural Resources). Hasilnya, 1.893 dalam status terancam dan menuju kepunahan. Ancaman utama yang dihadapi kodok saat ini adalah hilangnya habitat (tempat hidup yang sesuai), polusi, pemanfaatan, dan penyakit.
Berawal dari kekhawatiran para ahli kodok di dunia yang tergabung dalam Amphibian Specialist Group—lembaga swadaya masyarakat di bawah naungan IUCN—disepakati tahun 2008 sebagai Tahun Kodok (Year of Frogs). Tujuannya agar kelompok binatang kodok menjadi pusat perhatian dunia, ditambah dengan isu pemanasan global yang mengakibatkan kehidupan mereka semakin rentan.
Diharapkan, dengan ditetapkan sebagai Tahun Kodok, tahun ini kelompok binatang kodok tidak lagi dipandang sebagai kelompok binatang tidak penting dan selalu berada pada posisi marjinal.
Kodok di Indonesia ada 351 jenis yang telah terdeskripsi dengan benar. Sekitar lebih dari 100 jenis dalam proses pendeskripsian menjadi jenis baru, terutama untuk jenis-jenis kodok yang berasal dari Papua.
Masalah utama di Indonesia adalah hilangnya habitat alami kodok, seperti penggundulan hutan hujan tropis, pencemaran air sungai, dan konversi lahan basah menjadi areal perkebunan. Jenis-jenis kodok asli hutan hidupnya sangat bergantung pada keberadaan hutan. Maka, rusaknya hutan akan berdampak negatif pada kelangsungan hidup jenis-jenis itu.
Kerusakan hutan hujan tropis paling besar di Indonesia terjadi di Pulau Jawa karena pulau ini berpenduduk paling banyak, sedangkan lahan yang digarap untuk menunjang kehidupan penduduknya semakin sempit. Karena itu, hutan-hutan yang tersisa di dalam kawasan lindung atau taman nasional mendapat tekanan sangat berat dari aktivitas manusia.
Kerusakan hutan tropis di Pulau Jawa berdampak sangat nyata pada status jenis-jenis kodok yang ada di dalamnya, terutama jenis-jenis endemik (tidak terdapat di pulau lain).
Saat ini diketahui terdapat dua jenis kodok endemik Jawa berstatus kritis (CR), yaitu kodok merah (Leptophryne cruentata)—hanya ada di hutan tropis dataran tinggi Jawa Barat; dan kodok pohon ungaran (Philautus jacobsoni)—hanya ada di hutan tropis Jawa Tengah.
Selain itu, ada empat jenis endemik lainnya yang berstatus rentan (VU), yaitu kongkang jeram (Huia masonii), kodok pohon mutiara (Nyctixalus margaritifer), kodok pohon kaki putik (Philautus pallidipes), dan kodok pohon jawa (Rhacophorus javanus).
Pemanfaatan
Ancaman lain yang sangat nyata berpengaruh pada status populasi kodok adalah dari segi pemanfaatan. Indonesia adalah negara pengekspor terbesar daging paha kodok. Mulai dari jenis penghuni sawah (Fejervarya spp) hingga penghuni perairan berarus deras (Limnonectes spp) yang umumnya berukuran besar (macrodon).
Selain itu, kodok juga sebagai komoditas ekspor bahan baku sarung tangan—dari jenis kodok berkulit kasar (Bufo spp) yang dagingnya mengandung racun. Aktivitas ekspor tersebut menghasilkan devisa negara.
Masalah yang dihadapi adalah pemanfaatan berlebihan sehingga tidak memikirkan apakah 10 tahun ke depan jenis-jenis kodok itu masih ada atau sudah habis di alam. Fenomena pemanfaatan kodok 10 tahun belakangan ini tidak berkelanjutan tanpa peduli pada pelestarian.
Ancaman dari polusi perairan juga jelas nyata berpengaruh pada penurunan populasi dan keanekaragaman jenis kodok. Hampir 80 persen jenis kodok di Indonesia tidak dapat toleransi terhadap polusi air berupa limbah rumah tangga dan logam berat. Mereka biasanya mati pada tingkat metamorfosa (perubahan bentuk) dari telur ke berudu, sedang jenis-jenis yang tahan umumnya akan mengalami cacat tangan atau kaki.
Organ jari tangan kodok yang dinamakan tonjolan ibu jari sangat berperan pada proses kawin kodok; jadi bila bentuknya tidak normal atau tidak tumbuh, maka sangat perpengaruh pada berlanjutnya keturunan jenis kodok. Akibatnya, berangsur-angsur jenis yang tahan terhadap polusi air juga punah.
Ancaman lain, yaitu penyakit disebabkan jamur dan virus. Jamur yang mematikan adalah dari kelompok Chytridiomycota; jamur yang menyerang berudu dan kodok dewasa adalah Batrachochytrium dendrobatidis. Kasus kematian massal kodok karena infeksi jamur banyak dijumpai di dataran tinggi Australia dan juga di Amerika Utara dan Selatan.
Selain itu, Ranavirus juga menyebabkan kematian massal pada kodok di tahap embrio dan berudu. Ranavirus adalah virus dari genus Ranavirus, famili Iridoviridae. Virus ini berukuran besar (diameter 120-300 nm). Kasus kematian massal berudu disebabkan Ranavirus terjadi di Amerika Utara, Eropa, dan Australia. Di Indonesia belum pernah ada penelitiannya.
Menghadapi kondisi seperti itu, masyarakat ilmuwan biologi lingkungan harus berbuat sesuatu untuk mempertahankan kodok jenis-jenis asli Indonesia untuk tidak punah, terutama jenis-jenis yang endemik.
Langkah awal yang diambil Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah dengan menyadartahukan (memberikan awareness) masyarakat sebelum terlambat bahwa dunia kodok di dunia dan Indonesia, khususnya, sedang berada dalam bayang-bayang kepunahan yang pasti.
Usaha penyadartahuan akan berdampak positif bila dimulai dari sekarang pada siswa-siswa sekolah menengah dan mahasiswa. Mereka harus paham betul manfaat dari kekayaan jenis kodok yang terdapat di Indonesia.
Melalui kegiatan pelatihan pengenalan jenis, ekologi, dan perikehidupan kodok dan mengetahui betapa banyak spesimen dari berbagai jenis kodok di Indonesia yang tersimpan di Museum Zoologi Bogor, diharapkan dapat mengubah cara pikir mereka bahwa kodok adalah kelompok binatang yang harus disayangi dengan cara menjaga lingkungan tempat hidupnya.

Readmore »»

Senin, 15 Desember 2008

FAUNA - Ulah Manusia Sebabkan Kepunahan Terbesar

KOMPAS, Selasa, 16 Desember 2008 00:22 WIB
Bandung - Ulah manusia menjadi penyebab kepunahan terbesar makhluk hidup. Ulah manusia menyebabkan kehancuran lingkungan hidup dan kepunahan lingkungan hidup di bumi dengan cepat ketimbang perubahan evolusi,

baik perubahan iklim maupun bencana alam.
Demikian dikatakan Dr H Fachroel Aziz dalam orasi ilmiah berjudul Evolusi dan Paleontologi Vertebrata Indonesia: Perspektif Perubahan Iklim di Badan Geologi, Bandung, Senin (15/12).
Orasi ini disampaikan ketika Fachroel dinobatkan sebagai profesor riset bidang paleontologi. Dua peneliti lainnya yang dinobatkan sebagai profesor riset adalah Bhakti Hamonangan Harahap Msc (Petrografi) dan Dr Hamdan Zaenal Abidin MAppSc (Geologi dan Geofisika).
Menurut Fachroel, ada tiga penyebab kepunahan. Kepunahan yang disebabkan bencana alam, kepunahan jangka panjang akibat perubahan iklim dan akibat ulah manusia.
Fachroel mengatakan, contoh kepunahan akibat bencana alam adalah punahnya fauna endemik Tangiitalo di Cekungan Soa Flores. Penyebabnya adalah bencana alam letusan gunung api Soa, sekitar 2 juta tahun lalu. Selain itu, juga letusan Gunung api Tambora di Sumbawa tahun 1815 yang memusnahkan etnis Tambora.
Perubahan akibat perubahan iklim berlangsung berangsur. Contohnya, suksesi kehidupan fauna di Jawa. Di antaranya Fauna Satir (sekitar 1.500 tahun lalu) yang didominasi mastodon dan kura-kura besar. Fauna Cisaat- Fauna Trinil (1.200-1.000 tahun) yang didominasi stegodon dan rusa. Fauna Kedungbrubus-Fauna Ngandong (800-200.000 tahun) didominasi gajah (Elephas hysudrindicus), tapir (Tapirus indicus), babi (Sus magrognathus), dan homo erectus solonensis. Setelah itu, ada Fauna Punung (200-25.000 tahun) yang didominasi beruang (Ursus malayanus), kambing (Capricornus sumatraensis), serta manusia modern (Homo sapiens).
Yang terakhir, yang paling memprihatinkan, yaitu kepunahan akibat ulah manusia. Hal itu tecermin pada punahnya fauna di Jawa. Di antaranya harimau, tapir, dan gajah. Perubahan fungsi lahan dari hutan menjadi permukiman dan pertanian adalah penyebab utamanya.
”Hal ini dikhawatirkan terjadi bagi fauna yang ada di Sumatera dan Kalimantan. Keberadaan mereka terancam seperti di Jawa,”
Ia mengatakan, kepunahan yang disebabkan bencana alam dan perubahan iklim merupakan perubahan evolusi yang berlangsung jutaan tahun dan sangat unik dalam sejarah bumi. Namun, kepunahan akibat ulah manusia menyebabkan dampak cepat dan kehancuran lingkungan hidup yang sangat luas.
Hal ini menandakan, evolusi tidak dapat mengimbangi perubahan drastis akibat ulah manusia. Ditambahkannya, manusia adalah makhluk pembuat bencana dan sekaligus coba mengatasinya. Namun, sering kali tak berhasil dan bahkan gagal dalam usahanya menyelamatkan lingkungan.
”Ini sebuah krisis serius dan harus segera dilihat oleh banyak pihak,”

Readmore »»