Tampilkan postingan dengan label BeRiTa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BeRiTa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 April 2009

Mebel Ramah Lingkungan Bisa Tingkatkan Pendapatan

KOMPAS, Selasa, 28 April 2009 14:57 WIB
Yogyakarta - Bisnis mebel yang dibuat dengan konsep ramah lingkungan bisa meningkatkan pendapatan pelaku usaha.
Untuk memperluas industri mebel ramah lingkungan itu, USAid meluncurkan modul yang bisa menjadi panduan bagi pelaku usaha.
"Dengan modul ini, kami berusaha membantu para pelaku usaha agar bisa menghasilkan produk yang berkelanjutan dan juga ramah lingkungan," ujar Steve Smith, Direktur Proyek Senada, Senin (27/4). Senada adalah nama proyek USAid yang mengurusi masalah bisnis mebel ramah lingkungan di Indonesia.
Sejumlah kriteria produk ramah lingkungan adalah produk yang tidak menggunakan bahan beracun, produk dibuat dari bahan baku yang terbaharui, dan produksi yang berkelanjutan. Nilai tambah produk ramah lingkungan berkisar 10-12 persen dibandingkan dengan produk biasa. Nilai Plus
Modul yang diluncurkan USAid ini merangkum dua hal, antara lain serba-serbi produksi berkelanjutan dan sertifikasi kayu legal.
Konsultan Senada, Ted Barber, mengatakan, produk-produk yang dihasilkan dengan memerhatikan kelestarian lingkungan mempunyai nilai plus di mata konsumen internasional. Apalagi, kesadaran atas kelestarian lingkungan semakin meningkat akhir-akhir ini.
Produk yang dibuat dengan memerhatikan kelestarian lingkungan akan mendapatkan sertifikat dari sejumlah badan sertifikasi produk. Konsumen yang mempunyai kesadaran lingkungan bersedia membeli produk ramah lingkungan dengan harga yang sedikit lebih mahal daripada produk biasa.
Jajak Suryo Putro, pimpinan perusahaan mebel Djawa, mengakui, prospek industri ramah lingkungan masih terbuka lebar. "Dulu, peminat industri ramah lingkungan hanya berasal dari luar
Indonesia. Sejak dua tahun terakhir, pasar domestik mulai terbuka walaupun belum besar. Ini merupakan prospek yang bisa digarap oleh perajin mebel," katanya.

Readmore »»

Kamis, 23 April 2009

Menteri Kehutanan Dilaporkan ke Polisi

KOMPAS, Jumat, 24 April 2009 03:52 WIB
Jakarta - Menteri Kehutanan Malem Sambat Kaban dilaporkan ke Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kamis (23/4), oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Aceh. Menteri Kehutanan dituding telah melanggar perundangan tata ruang nasional dengan memberikan izin pembangunan jalan di dalam kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil, Aceh. Kawasan tersebut bagian dari kawasan ekosistem Leuser yang berstatus sebagai kawasan strategis nasional.


Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh Bambang Antariksa mengatakan bahwa laporan dugaan pidana tersebut diterima oleh kepolisian dan akan dipelajari dahulu sebelum polisi menyelidiki lebih lanjut kasus tersebut.

”Setelah melaporkan menteri kehutanan, kami selanjutnya akan melaporkan Kepala Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Sebab, proyek pembangunan jalan itu akan dilaksanakan melalui dinas tersebut yang sekarang masih dalam proses tender,” kata Bambang.

Direktur Tindak Pidana Tertentu (Lingkungan) Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Salamuddin mengatakan, polisi tentu akan mempelajari laporan tersebut sebelum menyelidiki lebih lanjut.

”Apalagi jika menyangkut kepentingan rakyat luas. Kepolisian tetap berkomitmen menangani perkara lingkungan. Pejabat atau siapa pun yang diduga terlibat tentu harus bertanggung jawab,” kata Boy.

Laporan Walhi berawal dari surat MS Kaban sebagai Menteri Kehutanan kepada Bupati Aceh Selatan hal rencana peningkatan Jalan Keude Trumon-Buloh Seuma di kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil, Aceh Selatan.

Surat Menhut tersebut bernomor S.96/Menhut-IV/2009 tertanggal 16 Februari 2009 yang merespons surat Bupati Aceh Selatan bernomor 620/844/2008 tanggal 5 November 2008.

Isi surat Menhut tersebut pada poin pertama menyebutkan bahwa pihak Menhut menyetujui peningkatan kualitas Jalan Keude Trumon-Buloh Seuma.

Menhut juga menyebutkan bahwa dalam proses persiapan dan pelaksanaan peningkatan kualitas jalan tersebut hendaknya melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) NAD dalam rangka pengamanan, perlindungan, dan pencegahan dampak negatif pembangunan jalan tersebut.

Bambang mengatakan, pembangunan jalan di dalam kawasan suaka margasatwa tersebut diperkirakan 30 kilometer. Proyek tersebut dikhawatirkan akan merusak keanekaragaman hayati, populasi pohon, dan perambahan hutan. Alasan dari pembangunan jalan tersebut adalah untuk membuka akses transportasi bagi masyarakat yang selama ini terisolasi.

”Saat ini di Singkil dan sekitarnya nyaris tiap tahun banjir. Kalau kawasan tersebut dibuka, dampak lingkungan bisa semakin parah,” kata Bambang.

Readmore »»

Keberadaan RTH di Perkotaan Terancam

KOMPAS, Kamis, 23 April 2009 16:26 WIB
Sedikit demi sedikit luasan ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan perkotaan semakin berkurang. Menyusutnya luasan areal RTH diakibatkan peningkatan luasan kawasan terbangun yang digunakan sebagai bangunan untuk fasilitas perdagangan, perumahan, ataupun SPBU. Peningkatan luas areal terbangun tidak bisa dihindari sebagai akibat dari peningkatan jumlah penduduk yang diikuti dengan peningkatan aktivitas perkotaan.


Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 menyebutkan, proporsi ruang terbuka hijau publik pada kawasan perkotaan adalah 20 persen dari luas wilayah kota. Namun, belum semua kawasan perkotaan di Jatim bisa mewujudkan hal tersebut. Seperti Kota Surabaya yang hanya mempunyai luasan hutan kota sekitar 1 persen dari luas wilayahnya. Bagaimanapun keberadaan RTH di perkotaan tetap diperlukan meski belum sesuai dengan luasan ideal yang ditetapkan. RTH bisa berfungsi sebagai paru-paru kota, daerah resapan air, serta ruang publik perkotaan untuk bersosialisasi masyarakat dan berwisata.

Readmore »»

Selasa, 21 April 2009

Nuklir untuk Pelapisan Ramah Lingkungan

KOMPAS, Selasa, 21 April 2009 03:29 WIB
Jakarta - Teknologi nuklir yang menghasilkan radiasi berkas elektron dan sinar ultraviolet dapat menggantikan teknik pelapisan produk industri yang tidak ramah lingkungan. Teknik pelapisan yang dilakukan selama ini masih menggunakan bahan kimia tidak ramah lingkungan.

Produk industri yang dilapis antara lain bahan bangunan, mebel, otomotif, barang kerajinan, dan peralatan rumah tangga.

Demikian dikemukakan Sugiarto Danu (60), ahli bidang polimerisasi radiasi nuklir, dalam orasi pengukuhan sebagai profesor riset Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Senin (20/4) di Jakarta.

Bersama Sugiarto, Surian Pinem (52) dan Sigit (57) dikukuhkan pula sebagai profesor riset dalam bidang fisika reaktor nuklir dan teknik kimia pada institusi Batan. Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Umar Anggara Jenie bertindak sebagai Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset.

”Pelapisan dengan radiasi menghasilkan permukaan dengan kehalusan dan kilap tinggi, prosesnya hemat energi, tanpa pelarut sehingga emisi sangat rendah,” kata Sugiarto. Berbeda dengan pelapisan konvensional yang menggunakan pelarut (thinner) yang mudah menguap itu akan merusak lingkungan. Namun, pengembangan teknologi nuklir untuk radiasi pelapisan produk industri ini belum dikembangkan dengan baik di Indonesia.

”Di Indonesia teknik pelapisan dengan radiasi ini tidak dikembangkan karena aspek ekonomi biaya produksi masih relatif tinggi,” kata Sugiarto yang mengambil judul orasi pengukuhan ”Status dan Perkembangan Aplikasi Teknologi Radiasi untuk Pelapisan Permukaan Berbagai Produk Industri di Indonesia”.

Surian Pinem dalam orasi berjudul ”Litbang Manajemen Teras dan Fisika Reaktor RSG-GAD untuk Mendukung PLTN Pertama di Indonesia” menguraikan, hal reaktor terbesar yaitu reaktor serba guna GA Siwabessy yang berada di Serpong, Tangerang, Banten. Reaktor nuklir dengan daya 30 megawatt (thermal) ini dianggap memberikan pengalaman paling penting untuk mendukung pembentukan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama di Indonesia.

Sigit dalam orasi ”Proses kering Daur Ulang Bahan bakar Nuklir dan Prospeknya di Indonesia” lebih menekankan pentingnya penguasaan teknik daur ulang bahan bakar nuklir sebelum memutuskan pembuatan PLTN pertama di Indonesia.

”Daur ulang bahan bakar nuklir adalah suatu proses menggunakan kembali uranium dan plutonium yang diperoleh dari pemulihan bahan bakar bekas ke dalam reaktor nuklir sebagai tambahan produksi energi,” ujar Sigit.

Readmore »»

Pakai "Styrofoam"? Ya Enggaklah...

KOMPAS, Selasa, 21 April 2009 03:24 WIB
Di antara keramaian bazar SD Pangudi Luhur, Jakarta, Sabtu (18/4) pagi, sejumlah bocah dengan poster anti-styrofoam yang dipasang pada bagian belakang tubuhnya mondar-mandir. Mereka menggalang tanda tangan di atas kain putih, yang intinya mendukung sekolahnya bebas dari styrofoam sebagai kemasan makanan.


Bocah-bocah itu siswa kelas VI SD yang lokasinya tak jauh dari kompleks Mal Pondok Indah, sementara poster-poster yang mereka kenakan merupakan karya siswa kelas V.

Setiap tahun, sekolah itu membiasakan lulusannya meninggalkan kenangan khusus. Tahun 2008, kakak kelas mereka meninggalkan tempat sampah nonorganik dan organik.

Kini, mereka ingin lebih dari itu. ”Kami ingin sekolah enggak pakai styrofoam lagi sebagai wadah makanan,” kata Matthew Waworuntu (12). ”Itu kan berbahaya bagi kesehatan,” tambah Amelia Rugun Sirait (11).

Pagi itu, tim kampanye meminta para orangtua siswa yang mengambil rapor semesteran dan teman-temannya tanda tangan di atas kain. Sebagian mencegat di lorong pintu masuk dan sebagian mondar-mandir di halaman.

Informasi bahaya styrofoam sebagai kemasan makanan mereka dapat dari orangtua dan internet. Meski belum bisa menjelaskan detail, anak-anak itu tahu dampak lingkungan dan kesehatan, dari tak bisa terurai di alam hingga memicu kanker (karsinogenik) akibat akumulasi zat kimia yang masuk ke dalam tubuh konsumen.

Zat kimia berbahaya styrofoam berpindah ke tubuh konsumen bersama dengan makanan. Perpindahan kian cepat dalam suhu panas, makanan berlemak tinggi, dan mengandung alkohol atau asam. Namun, bentuknya yang menarik, seperti menutupi risiko tadi. Konsumen kadang sulit menghindarinya. ”Kadang memang masih dapat juga,” kata Birgitta Anggitan Puspa (11).

Seperti siang itu, sejumlah stan makanan masih menyediakan styrofoam sebagai pembungkus sate, gudeg, dan es krim. ”Kami anggap sebagai tantangan,” kata Dety Kurniasih, salah satu guru yang aktif mendukung kampanye tersebut.

Di sekolah itu, baru satu warung yang dengan sadar meninggalkan styrofoam. Gantinya, mereka gunakan wadah berbahan plastik yang dapat dipakai ulang. Menurut Dety, model itulah yang diharapkan terwujud.

Diperkuat SK

Kampanye bocah-bocah itu sejalan dengan program sekolah. Direncanakan keluar surat keputusan (SK) kepala sekolah mendukung bebas styrofoam akhir tahun 2009.

”Kami mendahulukan dialog dan proses, tidak langsung mengeluarkan SK begitu saja. Ada sosialisasi kepada kelas dan guru tentang bahaya styrofoam,” kata Dety. Hingga kini, makan siang guru masih disediakan dengan pembungkus styrofoam.

Bulan Juli 2009, bersamaan acara perpisahan dan wisuda, secara simbolis akan diserahkan kemasan berbahan plastik sebagai pengganti styrofoam. Masing-masing warung di kantin diberi 25 kemasan plastik yang dapat dipakai ulang.

Di balik kampanye sadar kesehatan dan lingkungan ada orangtua siswa. Merekalah yang aktif mendorong sekolah agar berubah. ”Butuh waktu dan kemauan untuk menularkan kesadaran. Kami pakai momentum yang ada,” kata salah satu orangtua siswa yang juga aktivis lingkungan, Sandra Moniaga.

Gayung bersambut. Kampanye itu didukung Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia yang akan membawa tanda tangan mereka ke Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan. ”Sayang kalau tidak disuarakan,” kata Ilyani dari YLKI yang menyaksikan kampanye. Dia menilai konsumen masih menjadi pihak lemah. Meski tahu risikonya, mereka tak kuasa menolak.

Sementara itu, pemerintah tak tegas melindungi konsumen. Penggunaan styrofoam sebagai kemasan makanan ada ketentuannya, tetapi sering dilanggar.

Menunggu, tidak menyelesaikan masalah. Apa yang dilakukan siswa, orangtua, dan guru di SD Pangudi Luhur adalah inspirasi: berpikir sederhana dengan memulai dari sekitar kita.

Readmore »»

Senin, 20 April 2009

Dana untuk Perubahan Iklim

KOMPAS, Senin, 20 April 2009 04:16 WIB
Aktor Leonardo DiCaprio akan melelang tiket malam perdana film terbarunya, Shutter Island. Lelang ini guna mengumpulkan dana bagi berbagai kegiatan yang berkaitan dengan perubahan iklim.



Penawar tertinggi tiket malam perdana itu akan meluncur ke tempat acara dengan menumpang mobil yang ramah lingkungan. Selain itu, dia juga akan berkesempatan berpose berdua DiCaprio di atas karpet merah.

Semua itu belum cukup, bintang film Catch Me If You Can dan Gangs of New York ini juga bakal menemani sang penawar tertinggi menghabiskan malam itu.

Kapan acara tersebut bakal berlangsung akan ditentukan kemudian. Namun, disebut-sebut waktunya berdekatan dengan peringatan Hari Bumi pada 22 April nanti.

”Siapa saja bisa mengikuti lelang ini lewat ebay.com/globalgreen. Partisipasi siapa pun diperlukan untuk mengatasi perubahan iklim. Semua ini tanggung jawab kita bersama,” kata pria kelahiran Hollywood, California, AS, 11 November 1974, ini.

Pemain film Blood Diamond itu dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup. ”Setiap orang sesungguhnya bisa berbuat positif bagi lingkungan. Ini bisa dimulai dari menghijaukan rumah, lalu sekolah, kemudian meningkat ke kota (tempat tinggalnya) dan seterusnya,” tambah DiCaprio serius.

Readmore »»

Yuyun Terima Penghargaan Goldman 2009

Senin, 20 April 2009 03:43 WIB
Jakarta, Kompas - Aktivis lingkungan dari Denpasar, Bali, Yuyun Ismawati, bersama lima aktivis yang bekerja di akar rumput dari Amerika Serikat, Gabon, Banglades, Rusia, dan Paramaribo terpilih sebagai penerima Penghargaan Lingkungan Goldman 2009, semacam Nobel di bidang lingkungan. Anugerah khusus itu diserahkan di San Francisco Opera House, AS, hari Senin (20/4) pukul 17.00 waktu setempat.


”Saya sama sekali tidak menyangka mendapat penghargaan ini. Selama ini saya melakukan apa yang menjadi perhatian khusus saya saja,” kata Yuyun saat dihubungi di San Francisco dari Jakarta, Minggu (19/4) waktu Indonesia. Keenam pemenang berhak atas hadiah masing-masing 150.000 dollar AS.

”Seperti pendahulunya, para penerima Penghargaan Goldman ini amat mengesankan. Mereka berhasil menghadapi rintangan yang tampaknya tak terpecahkan,” ujar pendiri Penghargaan Goldman, Richard N Goldman, seperti dikutip dari siaran pers The Goldman Environmental Prize.

Penghargaan ini memasuki tahun ke-20 yang diberikan setiap tahun kepada para pejuang lingkungan di tingkat akar rumput. Sejak dimulai tahun 1989, penghargaan ini sudah diberikan kepada 133 aktivis dari 75 negara.

LEAD Fellow

Yuyun, salah satu fellow dari Program Leadership on Environment and Development (LEAD Programme) Indonesia, adalah orang Indonesia ketiga yang menerima penghargaan ini.

Ibu dua anak itu dengan lembaga Bali Fokus melakukan solusi berbasis masyarakat untuk pengelolaan sampah yang memberi peluang kerja bagi warga berpenghasilan rendah dan memberdayakan warga untuk memperbaiki kualitas lingkungan.

Bersama sejumlah aktivis, ia juga mengembangkan Indonesia Toxics-Free Network (ITFN) yang di antaranya menyoroti perhatian pemerintah yang kurang terhadap isu-isu limbah berbahaya dan beracun berikut dampak publiknya.

”Indonesia terlalu santai, padahal ada banyak hal yang patut dikhawatirkan terkait isu limbah beracun,” katanya.

Pemenang lain

Lima penerima penghargaan lainnya adalah Marc Ona Essangui dari Gabon (Benua Afrika), Maria Gunnoe, Bob White dari West Virginia (Amerika Utara), Olga Speranskaya dari Rusia (Benua Eropa), Rizwana Hasan dari Banglades (Asia), dan Hugo Jabini serta Wanze Eduards dari Suriname (Amerika Tengah dan Selatan).

Olga yang juga LEAD Fellow mengubah kelompok lembaga swadaya masyarakat di Eropa Timur, Kaukasus, dan Asia Tengah menjadi kekuatan potensial untuk mengidentifikasi dan memusnahkan bahan kimia beracun warisan Uni Soviet.

Marc Ona yang hidup di atas kursi roda memimpin upaya publik untuk mengungkap korupsi di balik konsesi pertambangan milik Pemerintah China yang mengancam ekosistem hutan hujan tropis di negaranya.

Maria, Bob bersama warga berjuang menentang industri batu bara yang menghancurkan puncak gunung untuk menguruk lembah. Adapun Rizwana pimpin perjuangan mendorong pemerintah mengeluarkan kebijakan lingkungan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya industri pembuangan kapal.

Wanze dan Hugo adalah anggota komunitas ”Maroon”—didirikan komunitas budak Afrika —yang menentang penebangan di lahan tradisional mereka.

Readmore »»

Rabu, 08 April 2009

Fenomena - Satu Minamata Sudah Cukup

KOMPAS, Rabu, 8 April 2009 03:22 WIB Oleh: GESIT ARIYANTO

Warga di kawasan Fukuro, Kota Minamata, Jepang, memilah-milah sampah warga sebelum dibawa ke pengolahan sampah pemerintah, beberapa waktu lalu. Sampah rumah tangga dibagi dalam 22 jenis untuk menjamin pengelolaan yang lebih baik.

Suhu di bawah sepuluh derajat celsius pertengahan Februari 2009 menerpa kawasan Fukuro, Kota Minamata, Jepang. Rasa dingin yang menusuk tulang tak menyurutkan langkah Hiroko Koshitake (38) menuju tempat pemilahan sampah kering.

Sambil menggendong anak lelakinya, Seita (1), ia berbaur dengan warga permukiman di tepi pantai itu.

Sore itu adalah waktu bagi warga Fukuro memilah sampah kering sebelum diangkut truk sampah pemerintah. Ada kabel bekas, kipas angin, botol kaca, kaleng minuman, hingga mainan anak.

Tak ada sampah organik, seperti sisa sayuran. Tak ada pula kertas koran atau kardus bekas.

Kardus dan sisa sayuran organik ditinggalnya di rumah. ”Kertas dan kardus diambil di rumah pada waktu yang berbeda,” kata Koshitake. Ia membawa pulang kardus pembungkus lampu neon setelah isinya ia buang di tempat pemilahan sampah (domi).

Truk sampah datang sebulan sekali di tiap domi pada waktu para warga memilah sampah ke dalam keranjang khusus. Sesuai konsensus warga Minamata pada tahun 1992, setelah cukup dibagi tiga jenis, sampah kemudian dipilah ke dalam 22 jenis!

Dan, konsensus itu dipatuhi warga. Sulit dibayangkan.

Tak hanya warga kota, penduduk desa pun memilah sampah. Brosur-brosur berisi informasi pengelompokan sampah ke dalam 22 jenis tertempel di papan pengumuman, termasuk di rumah Shimoda Koyoshi (69), warga desa pegunungan Okawa, dua jam bermobil dari kota.

Kini, Minamata memiliki 300 domi di 26 distrik (kecamatan). Setiap domi dikelola 50 keluarga yang secara rutin memilah-milah sampah bersama.

Sampah yang dipilah diangkut ke pusat pengolahan sampah padat. Di sana, botol-botol dipisahkan berdasarkan warnanya, kaleng minuman dipisahkan berdasarkan bahannya. Dan, tutup botol harus dipisah.

”Lampu neon dan baterai kami kirim ke tempat pengolahan sampah berbahaya dan beracun di Hokkaido. Jenis itu mengandung merkuri yang berbahaya,” kata Direktur Pengolahan Sampah Padat Minamata Norihiro Honda.

Sejak kecil

Pengajaran untuk memilah sampah ke dalam 22 jenis di Minamata sudah dimulai sejak kanak-kanak. Di sekolah dasar (SD), pengenalan kian intens.

Di SD Daiichi, misalnya, ada ”skuadron lingkungan” dan ”komite ISO” dengan tugas khusus memantau kebersihan sekolah, termasuk memilah sampah. Siswa dibiasakan menghargai air bersih, listrik, dan kebersihan.

Caranya, cukup segelas air untuk menggosok gigi seusai makan bersama, hemat air saat mencuci, dan menggunakan lampu penerang seperlunya. Menyapu dan mengepel lantai juga mereka kerjakan.

Di SD negeri dengan 690 siswa itu tak ada satu pun petugas kebersihan. ”Anak-anak melakukannya sendiri,” kata Kepala Sekolah SD Daiichi Koji Morita.

Sekolah itu merupakan salah satu penerima ISO 14001 dari pemerintah untuk standar pengelolaan lingkungan. Tidak hanya SD Daiichi, SD lain juga menerapkan sistem ISO 14001.

Wali Kota Minamata Katsuragi Miyamoto kepada sejumlah wartawan dari sebelas negara yang diundang Japan International Cooperation Agency (JICA) mengatakan, pemilahan sampah sebagai komitmen menghargai lingkungan adalah konsensus warga. ”Kami bertekad menjadi kota model dalam pengelolaan lingkungan,” kata mantan guru itu.

Sejarah kelam

Menurut Miyamoto, komitmen menjaga lingkungan erat dengan sejarah kelam kota Minamata. Nama Minamata identik dengan penyakit perusak sistem saraf pusat manusia akibat kandungan metil merkuri di dalam tubuh.

”Penyakit Minamata”, yang kasus pertamanya diakui pemerintah pada 1 Mei 1956, membunuh 1.629 orang dari 2.268 korban. Hingga Juli 2007, tercatat 10.353 orang berobat rutin.

Penyakit itu dipicu kandungan logam berat yang masuk ke tubuh melalui ikan dan kerang dari Teluk Minamata yang mereka konsumsi. Chisso Corporation, produsen pupuk kimia pengguna karbit, produsen petrokimia dan plastik, menjadi tersangka pencemar.

Antara tahun 1932-1968 Chisso diperkirakan membuang metil merkuri ke Teluk Minamata sebanyak 27 ton. Butuh perjuangan keras dan panjang. Akhirnya jutaan dollar AS pun dikeluarkan Chisso.

Selain dampak fisik, penyakit Minamata juga memutus ikatan sosial. Di satu sisi, korban menuntut tanggung jawab Chisso, di sisi lain karyawan Chisso terganggu. Diskriminasi muncul, seperti saat melamar pekerjaan atau pasangan hidup. Tak sedikit orang menyembunyikan identitas, menghindari penolakan.

”Kami harus bekerja keras mengubah situasi. Dari kemalangan menjadi contoh yang baik,” katanya. Stigma negatif Minamata di seantero dunia membuat pemerintah kota dan warga bekerja keras dua kali lipat. Itu sebabnya mereka memasang standar tinggi kebersihan. Sejarah mengajarkan betapa vitalnya lingkungan dan kesehatan.

Menatap ke depan

Tahun 1977-1990, pemerintah menggagas Proyek Pencegahan Polusi. Proyek itu berongkos 48,5 miliar yen (setara Rp 4,8 triliun dengan kurs 1 yen>Rp 100). Di antaranya untuk mereklamasi pantai Teluk Minamata seluas 58 hektar, yang kini menjadi Eco-park.

Di atas lahan dengan ikon Monumen Peringatan Korban Penyakit Minamata itu digelar peringatan tahunan setiap 1 Mei. Semua warga hadir. ”Kami berusaha memulihkan ikatan kekeluargaan yang renggang. Ini sangat penting,” kata anggota staf Dinas Lingkungan Hidup dan Kesejahteraan Kota Minamata, Shinya Osaki. Salah satunya dengan mengembangkan kegiatan bersama (yorokai) seperti di Desa Okawa, Minamata.

Namun, kompensasi tak mengubah apa pun. Warga meminta Chisso ditutup. ”Saya tak bisa menerima ulah Chisso,” kata Shinobu Sakamoto (50-an) terbata. Ia didiagnosa celebral palsy, penyakit gangguan kontrol terhadap fungsi gerak akibat gangguan otak saat berkembang, yang dikaitkan dengan akumulasi logam berat dalam tubuh.

Wali Kota Minamata Katsuragi Miyamoto mengaku memahami derita warga. Ia sulit menjawab, kenapa pemerintah menghentikan investigasi. Ia mengaku fokus bekerja untuk memastikan keselamatan warga Minamata di masa depan.

Misinya, menjadikan kota Minamata sebagai tempat belajar kelas dunia, betapa jasa lingkungan tak bisa ditukar apa pun. Satu Minamata sudah lebih dari cukup.

Readmore »»