Tampilkan postingan dengan label LANGKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LANGKAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2009

Peluncuran Roket Rusak Ozon

KOMPAS, Sabtu, 18 April 2009 04:28 WIB
Peluncuran roket belakangan ikut dikhawatirkan menjadi penyumbang emisi. Menurut sebuah studi, sisa pembakaran bahan bakar padat roket merusak lapisan ozon. Saat roket-roket berbahan bakar padat diluncurkan, chlorine terlepas secara langsung ke stratosfer tempat di mana chlorine bereaksi dengan oksigen untuk membentuk penghancur ozon chlorine oxides. Peningkatan frekuensi peluncuran ekspedisi ke luar angkasa dan komersial di masa mendatang menjadi kekhawatiran. ”Memang tidak terlalu terlihat penting sekarang, tetapi akan sangat berbahaya untuk 30 tahun ke depan,” ujar salah satu peneliti, Darin Toohey, dari Universitas Colorado. Saat ini berkat hukum internasional, kimiawi penyebab penipisan lapisan ozon, seperti chlorofluorocarbons (CFCs) dan methyl bromide, semakin berkurang. (National Geographic/INE)

Readmore »»

Selasa, 14 April 2009

Pemanas Bertenaga Matahari Raih Penghargaan

KOMPAS, Sabtu, 11 April 2009 03:15 WIB
Alat memasak bertenaga matahari dengan ongkos pembuatan sekitar Rp 60.000 akhirnya memenangi hadiah 75.000 dollar AS dalam kontes ide cemerlang mencegah laju perubahan iklim di Norwegia, Kamis (9/4).
Pemanas berbahan kardus yang setelah dilengkapi dengan bahan reflektif transparan dan bercat hitam untuk menyerap panas itu mampu menghasilkan panas hingga 80 derajat celsius. Aplikasinya berpotensi menggantikan kayu bakar sebagai sumber energi utama sekitar tiga juta orang di dunia. Alat itu diberi nama ”Kotak Kyoto”” dan dibuat di Kenya. Alat untuk memasak air dan makanan itu diproyeksikan dapat dikembangkan ke sejumlah negara berkembang berpenduduk padat, di antaranya Afrika Selatan, India, dan Indonesia. Memasak menggunakan kayu bakar mengancam keutuhan hutan sebagai penyeimbang iklim dan penyerap karbon, unsur utama pembentuk gas rumah kaca.

Readmore »»

Jumat, 30 Januari 2009

KOMPAS, Jumat, 30 Januari 2009, 00:39 Wib
Dibentuk Forum Konservasi Orangutan
Forum Konservasi Orangutan Kalimantan Timur dibentuk dalam pertemuan multipihak di Samarinda, Kamis (29/1). Forum tersebut diharapkan menjadi wadah komunikasi intensif pemerintah, LSM, perguruan tinggi, dan pengusaha yang ingin menyelamatkan orangutan (Pongo pygmaeus) dari kepunahan. Dalam pertemuan itu,
para pihak menyadari masih sendiri-sendiri melaksanakan penyelamatan orangutan. Niel Makinuddin dari The Nature Conservancy (TNC) mengatakan, belum diketahui secara pasti populasi terkini orangutan. Untuk itu, TNC membiayai sejumlah LSM di Kalimantan untuk menghitung populasi secara lebih akurat sepanjang tahun 2009. ”Lewat forum diharapkan pula timbul kesadaran kita untuk menyelamatkan satwa-satwa asli yang juga terancam punah seperti bekantan (Nasalis larvatus) dan pesut mahakam (Orcaella brevirostris),” kata Kepala Pusat Penelitian Hutan Tropis Universitas Mulawarman Dr Chandradewana Boer.(BRO)

Kampanye Efisiensi Energi
Efisiensi energi, terutama yang berbasis energi tak terbarukan, layak dijadikan gaya hidup. Apalagi hal itu dikaitkan emisi penyebab perubahan iklim. Setelah serangkaian kampanye pentingnya bergaya hidup ”hijau”, baik perorangan maupun kelompok, organisasi lingkungan WWF Indonesia menyiapkan kampanye efisiensi energi pada 28 Maret mendatang. Caranya, mematikan lampu depan rumah ataupun kantor selama satu jam dari pukul 20.30 hingga pukul 21.30. ”Kami telah berkirim surat ke Presiden dan Gubernur DKI Jakarta untuk turut terlibat di kantornya masing-masing,” kata Direktur Program Iklim dan Energi WWF Indonesia Fitrian Ardiansyah di Jakarta, Rabu (28/1). Istana Kepresidenan, Monumen Nasional, dan Balaikota DKI Jakarta menjadi ikon gedung yang diharapkan terlibat dalam kampanye satu jam itu. Jakarta menjadi bagian dari 74 kota di 62 negara di dunia. Kampanye itu diikuti pemantauan melalui media Google Earth. (GSA)

Readmore »»

Minggu, 14 Desember 2008

Perburuan Burung Marak di Pantai Trisik

KOMPAS, Senin, 15 Desember 2008 00:23 WIB
Perburuan burung-burung pantai migran di pesisir Pantai Trisik, Galur, Kulon Progo, DI Yogyakarta, marak. Menurut Dwi Aji Sujatmiko, anggota Bionic (Biologi Universitas Negeri Yogyakarta Ornitologi Club)—organisasi mahasiswa pengamat burung—perburuan

di Pantai Trisik beraksi di pagi, siang, sore, bahkan malam hari. Pemburu berupa kelompok-kelompok kecil 2-3 orang. Burung-burung itu migran dari belahan bumi utara ke selatan dan banyak terlihat September-Desember. Sedikitnya ada 24 spesies burung pantai kerap terlihat di Pantai Trisik. Dua di antaranya masuk kategori hampir punah, yakni kaki rumbai merah (Phalaropus fulicaria) dan trinil nordman (Tringa guttifer). Keduanya dimasukkan kategori dilindungi International Union for Conversation of Nature

Readmore »»