Tampilkan postingan dengan label SoSoK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SoSoK. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2009

Tungku Supriyanto Berkonsep Energi Petani

KOMPAS, Kamis, 16 April 2009 03:14 WIB
Beberapa bulan setelah menjadi Direktur Hutan Pendidikan Gunung Walat, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, di daerah Cibadak Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tahun 2003, Supriyanto melihat warga setempat sering menebangi pohon untuk kayu bakar. Hasil survei menyebutkan, dalam sehari sekitar 10 meter kubik kayu bakar keluar dari hutan pendidikan Gunung Walat.


Dalam benak Supriyanto muncul pertanyaan, mengapa penduduk tidak memilih menggunakan ranting pohon untuk kayu bakar? Mengapa mereka memilih menebang pohon? Dari para penebang pohon itu pula dia memperoleh jawabannya. Rupanya, warga sekitar Gunung Walat lebih suka menebang pohon karena energi api yang dihasilkan ranting tidak cukup besar.

Di sisi lain, alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini merasa khawatir penebangan pohon akan berdampak terhadap krisis energi, terutama bahan bakar fosil yang terus menipis.

Supriyanto lalu terpikir memanfaatkan energi yang berasal dari biomassa, seperti rumput, limbah kayu, semak belukar, ranting kayu, dan potongan bambu, yang sesungguhnya amat mudah diperoleh di pekarangan.

Berdasarkan temuan dan kekhawatiran itulah, Supriyanto kemudian mulai memfokuskan diri untuk membuat teknologi pedesaan yang sederhana dengan bahan bakar yang mudah diperoleh dari limbah lingkungan setempat.

”Konsep yang saya pergunakan adalah farmer energy atau energi petani. Teknologinya harus sederhana, mudah, murah, tidak berisiko, tetapi efisiensinya tinggi,” katanya.

Ia lalu menjadikan tungku sebagai pilihan untuk diteliti. Beberapa artikel tentang tungku di berbagai negara, termasuk dari Indonesia, dia pelajari.

Bertemu ahli arang

Di tengah upaya mempelajari tungku tersebut, Supriyanto yang juga peneliti di Seameo Biotrop (Pusat Studi Regional Penelitian Biologi Tropis) bertemu dengan Robert Flanagan, ahli bio-charcoal (arang) dari Finlandia yang menjadi tamu Biotrop.

Flanagan dikenal sebagai salah seorang peneliti yang mengembangkan tungku pyrolysis di China. Ia bekerja sama dengan Pusat Penelitian Bambu Cina (Inbar).

Bersama Flanagan, Supriyanto sering terlibat dalam berbagai diskusi tentang

penelitian tungku untuk model kebutuhan energi yang sedang dikerjakan. Penelitian mulai dilakukan sejak sekitar tahun 2005. Dia mencoba mulai dari membuat tungku tradisional berbahan dasar tanah liat, semen, besi, dan kaleng bekas drum oli.

”Barulah pada percobaan yang kesembilan bisa berhasil. Sebuah tungku yang ideal untuk warga setempat terwujud. Tungku ini

saya beri nama tungku ’Jimat’, kependekan dari enerji hemat agar mudah diingat dan diucapkan,” kata Supriyanto.

”Tungku Jimat relatif sederhana dan berbahan limbah. Bahan bakarnya juga merupakan limbah dan dibuat dengan konsep energi petani,” katanya seraya menyebutkan, pembuatan tungku dilakukan di bengkel perajin musik tradisional di daerah Sukabumi.

Hemat energi

Mantan Pembantu Dekan III Fakultas Kehutanan IPB ini mengemukakan, teknologi tungku dengan konsep energi petani yang dikembangkan itu relatif efisien. Secara teknis di sini juga menggambarkan proses pyrolysis, yakni konsep teknik pembakaran yang meminimalkan penggunaan oksigen. Ruang yang minim oksigen itu lalu dimampatkan untuk meningkatkan suhu sehingga timbul asap. Asap itu kemudian diubah menjadi gas melalui satu ruangan bersuhu antara 300 derajat dan 600 derajat celsius.

Pada saat terjadi proses pyrolysis, ada tiga sumber panas, yakni kayu atau bahan organik lain untuk menghasilkan api dan asap. Asap kemudian diubah menjadi gas. Melalui ruangan bersuhu tinggi, gas terbakar menjadi energi. Sisa dari proses itu menghasilkan arang. Arang inilah yang lalu menjadi bahan bakar ketiga.

Di dalam konsep itu, secara teknis harus ada alat lain, yakni generator yang terbuat dari tabung besi. Fungsinya untuk menyimpan dan menimbulkan panas yang berasal dari bahan bakar yang terbakar, juga bisa menjaga ruangan agar tetap bersuhu 300-600 derajat celsius. Pencapaian suhu ini penting untuk mendapatkan pembakaran yang sempurna. Sementara itu, akselerator berfungsi mempercepat penyemprotan udara panas.

Tungku Jimat, menurut Supriyanto, sangat tepat untuk masyarakat pedesaan, daerah transmigrasi, warga pinggiran kota, dan pedagang makanan kaki lima.

”Tungku Jimat ini hemat energi, bahan bakarnya juga gratis karena berasal dari limbah yang diperoleh dari pekarangan rumah, tak merusak lingkungan, dan berbasis pertanian,” tambahnya.

Di samping itu, bahan baku tungku juga berasal dari limbah yang relatif murah, seperti drum oli, dan tak berisiko meledak. Energi yang dihasilkan pun cukup besar.

”Oleh karena tak menggunakan bahan bakar minyak, penggunaan tungku Jimat bisa menghemat pengeluaran uang belanja keluarga,” katanya.

Kini, tungku Jimat dalam proses pengujian untuk memenuhi kriteria Standar Industri Indonesia (SII) guna memperoleh hak kekayaan intelektual.

Sangat efisien

”Uji kinerja dan teknis untuk memperoleh efisiensi termal yang memenuhi SII sedang dilakukan,” tutur Supriyanto yang juga berkonsultasi dengan Profesor Teiss, ahli energi petani dari Belanda.

Tentang efisiensi tungku ciptaannya itu, menurut Supriyanto, bisa dibuktikan karena dari 1 kilogram bahan bakar berupa ranting, limbah kayu, dan bambu, dapat digunakan untuk memasak selama sekitar dua jam. Limbahnya hanya berupa 10 gram abu.

”Jadi, dari 1.000 gram bahan bakar yang digunakan itu, tinggal 10 gram yang menjadi abu. Sebanyak 990 gram telah dikonversi menjadi energi atau bisa dikatakan tingkat efisiensinya sebesar 99 persen,” ujar Supriyanto tentang penelitiannya selama sekitar tiga tahun itu.

(FX Puniman, Wartawan Tinggal di Bogor)

Readmore »»

Rabu, 01 April 2009

Edy dan Briket Kulit Kacang

KOMPAS, Kamis, 2 April 2009 03:28 WIB Oleh: Eny Prihtiyani
Sehari-hari Edy Gunarto bergelut dengan kulit kacang. Kulit kacang itu dia masukkan ke dalam sebuah drum besar lalu dibakarnya selama sekitar dua jam. Agar cepat dingin, arang kulit kacang itu kemudian dijemur. Setelah dihancurkan hingga menyerupai tepung, adonan itu diaduk dengan lem kanji. Proses terakhir adalah mencetaknya menjadi briket siap pakai.


Warga Dusun Plebengan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, DI Yogyakarta, ini menggeluti usaha itu setidaknya sejak lima tahun terakhir. Briket produksinya itu sudah dipasarkan ke berbagai kota, seperti Surabaya dan Jakarta. Sebagian besar pelanggannya adalah kalangan industri rumah tangga.

Gagasan membuat briket kulit kacang muncul ketika Edy menghadapi banyaknya sampah kulit kacang di daerahnya. Sampah itu dibiarkan berserakan di pinggir jalan atau dibuang begitu saja di kebun-kebun. Di rumahnya sendiri, sampah kulit kacang juga tidak kalah banyaknya. Apalagi istrinya adalah pengepul kacang tanah.

”Bila panen tiba, banyak petani yang menjual kacang kepada istri saya. Setelah dikupas, oleh istri saya lalu dijual kepada pedagang pasar tradisional, terutama di Beringharjo. Jadi, sampah kulit kacang di rumah selalu menumpuk,” katanya.

Sampah kulit kacang itu makin menumpuk ketika Edy berhasil membuat alat pengupas kacang dengan kapasitas 2 kuintal per hari. Alat itu terus dia sempurnakan hingga kapasitasnya mencapai 1,5 ton per hari. Alat itu dibuatnya setelah mengamati alat perontok padi karena prinsip kerjanya hampir sama.

”Dengan bantuan alat pengupas, kacang tanah yang tertampung semakin banyak. Tidak hanya dari petani di Bantul, tetapi juga dari wilayah Gunung Kidul dan Kulon Progo. Itu membuat usaha istri saya berkembang pesat. Dampak lainnya, ya semakin menumpuknya sampah kulit kacang di rumah kami,” ujarnya.

Awalnya Edy hanya menjual sampah kulit kacang itu kepada para perajin tahu seharga Rp 30.000-Rp 35.000 per truk. Oleh perajin, kulit kacang dipakai sebagai bahan bakar mengolah tahu.

Setelah mendapat informasi dari berbagai sumber, seperti buku dan pelatihan tentang pembuatan briket, dia pun tertarik membuat briket kulit kacang. ”Saat itu yang diperkenalkan adalah pembuatan briket dari serbuk gergaji. Namun, karena bahan bakunya di tempat saya sulit dan yang tersedia kulit kacang, ya saya coba saja,” cerita Edy.

Eksperimen

Selama masa eksperimen, Edy masih mencampur kulit kacang dengan serbuk gergaji. Dia khawatir, kalau semua bahan bakunya dari kulit kacang, briketnya tidak bisa sempurna. Lambat laun dia mulai meninggalkan serbuk gergaji dan hanya menggunakan kulit kacang.

Keuletan dan ketelatenan Edy melakukan eksperimen membawanya pada satu kesimpulan, yakni briket bisa dibuat dari semua jenis limbah organik. Selain kulit kacang, briket juga bisa dibuat dari bahan baku seperti cangkang jarak, tempurung kelapa, dan tongkol jagung.

Sekarang, bila stok kulit kacang tengah menipis, Edy beralih pada bahan baku yang lain. ”Karena di daerah sini terkenal sebagai sentra kacang, stok kulit kacang praktis selalu tersedia meskipun pada masa-masa tertentu stok kulit kacang kadang memang agak berkurang. Dalam kondisi seperti ini, biasanya saya beralih ke tongkol jagung,” katanya.

Dalam sehari Edy bisa memproduksi sekitar 70 kilogram briket. Setiap 1 kg briket membutuhkan sekitar 2 kg kulit kacang. Jadi, dalam sehari kebutuhan bahan bakunya mencapai 180 kg kulit kacang.

Selain memanfaatkan sampah kulit kacang milik sendiri, Edy juga membeli dari petani seharga Rp 50 per kg. Briket kemudian dia jual Rp 2.500 per kg. Edy menjualnya dalam bentuk kemasan 2 kg.

”Produksinya memang belum terlalu tinggi, padahal permintaannya cukup banyak. Salah satu kendalanya adalah peralatan yang kami gunakan sebagian besar masih tradisional. Kalau saja ada investor yang tertarik, mungkin usaha ini bisa dikembangkan lebih maksimal mengingat potensi sampah organik di sini sangat besar,” ujar Edy.

Sederhana

Semua peralatan yang dipakai Edy memang tergolong sederhana. Ia memodifikasi semuanya sendiri. Latar belakang pendidikan teknik mesin semasa belajar di STM 2 Jetis Bantul ternyata cukup membantu.

Misalnya, untuk mesin pengaduk molen briket, dia membuat sendiri dengan meniru prinsip kerja mesin buatan pabrik. Untuk membuat alat itu, ia menghabiskan sekitar Rp 2 juta, sementara jika membeli di pabrik bisa sampai Rp 5 juta. Untuk mencetak briket, Edy juga memanfaatkan alat cetakan genteng yang sudah dia modifikasi.

Untuk memanfaatkan briket, konsumen tinggal membeli tungku yang terbuat dari tanah liat seharga sekitar Rp 10.000. ”Sebelumnya memang belum ada perajin gerabah yang membuat tungku untuk briket. Ketika itu yang ada tungku dari besi seharga Rp 150.000. Setelah saya bicarakan dengan para perajin, mereka lalu memproduksi tungku gerabah sehingga konsumen tidak kesulitan mendapatkannya,” kata Edy.

Untuk menyalakan briket di tungku gerabah tidaklah susah. Caranya, briket ditaruh di lubang di atas tungku lalu dinyalakan dari atas. Menyalakannya pun tidak sesulit briket batu bara. Untuk menyalakan api, orang bisa menggunakan bantuan secuil kain atau kertas.

Keuletan Edy dalam mengembangkan usahanya ternyata mendapat respons positif. November tahun lalu dia berhasil menggondol juara pertama tingkat nasional kategori pengembangan entrepreneurship yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia bekerja sama dengan Citi Peka.

Penghargaan itu membuat Edy semakin bersemangat. Atas prestasinya tersebut, dia mendapat hadiah Rp 11 juta. Rencananya uang itu akan dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha.

Dia yakin, usahanya akan semakin berkembang mengingat ketersediaan minyak tanah bersubsidi semakin langka. Di wilayah Kota Yogyakarta dan Sleman, misalnya, minyak tanah bersubsidi sudah ditarik, sedangkan di kawasan Bantul kemungkinan hanya sampai Desember mendatang.

”Tanpa subsidi, harga minyak tanah bisa Rp 8.000 per liter. Jadi mungkin akan semakin banyak masyarakat yang beralih pada bahan bakar alternatif,” kata Edy.

Menurut dia, briket buatannya mirip dengan briket batu bara. Setiap 1 kg briket bisa menghasilkan panas hingga sekitar dua jam.

Menggunakan briket untuk bahan bakar memasak juga terhitung lebih irit dibandingkan dengan memakai minyak tanah. Untuk keperluan memasak nasi, sayur, dan lauk, jika menggunakan kompor minyak tanah bisa menghabiskan sekitar satu liter minyak yang harganya sekitar Rp 8.000 (harga nonsubsidi). Jika memakai briket, hanya mengeluarkan uang Rp 2.500.

Selain lebih irit, briket kulit kacang juga tidak menimbulkan asap dan jelaga sehingga tidak mengotori dinding dan peralatan memasak, kata Edy.

Readmore »»

Kamis, 26 Maret 2009

Onte Melawan Pembalakan Liar

KOMPAS, Rabu, 25 Maret 2009 04:32 WIB Oleh: Dwi As Setianingsih
Hutan yang tergerus pembalakan liar membuat pencinta alam kelahiran Kendari, Sulawesi Tenggara, Silverius Oscar Unggul, ”melawan”. Setelah kampanye dan advokasi yang dilakukan Onte, panggilannya, tak mempan membendung pembalakan liar, dia pun menggalang masyarakat membentuk community logging.


Awalnya, Onte ”hanyalah” mahasiswa pencinta alam biasa yang gemar naik-turun gunung untuk mengisi hari-hari kosongnya di Kampus Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo, Kendari. Hobi naik-turun gunungnya itu kemudian membuat Onte menemui kenyataan pahit, alam yang seharusnya lestari, rusak parah karena penggundulan hutan.

Prihatin dan tidak bisa duduk diam melihat fakta menyedihkan itu, Onte bersama teman-teman sesama pencinta alam membentuk Lembaga Swadaya Masyarakat Yascita (Yayasan Cinta Alam). Yascita dibentuk setelah Onte merampungkan kuliahnya pada tahun 1998. Dari sinilah dia mulai aktif melakukan investigasi terhadap kerusakan lingkungan hutan yang disebabkan oleh pembalakan liar.

”Banyak kasus pembalakan liar yang kemudian terkuak di Sultra,” ungkap Onte yang ditemui Jumat (20/3) di Jakarta dalam acara peluncuran Program Community Entrepreneurs British Council.

Salah satu contohnya, sebuah perusahaan hak pengusahaan hutan yang beroperasi di kawasan Konawe Selatan (Konsel) disinyalir turut andil dalam merusak lingkungan hutan di kawasan ini.

Sayangnya, tidak ada satu media pun yang mau memublikasikan temuan-temuan Yascita sehingga data yang mereka miliki hanya menjadi fakta tak berarti. Karena alasan itulah Onte bersama teman-temannya kemudian mendirikan Radio Swara Alam.

Namun, Swara Alam bukan radio seperti umumnya radio yang memiliki kantor besar dan sinyal pemancar kuat. ”Radio Swara Alam sering dikatakan radio kandang ayam karena ruang siarannya kecil seperti kandang ayam. Frekuensinya juga sering menghilang kalau ada angin keras,” kata Onte mengenang.

Namun, dia pantang mundur. Baginya yang terpenting adalah radio itu bisa menjadi media untuk menyampaikan hasil-hasil investigasi yang mereka lakukan.

”Radio itu juga kami gunakan untuk advokasi kepada masyarakat tentang fakta adanya pembalakan besar-besaran di hutan kita,” kata Onte.

Tak puas hanya mengandalkan stasiun radio, Onte lalu mendirikan stasiun televisi, TV Kendari, dengan hanya bermodal beberapa kamera. Tujuannya tentu saja agar jangkauan kampanye isu-isu lingkungan hidup yang mereka sebarkan, terutama soal pembalakan liar, bisa semakin luas.

Akan tetapi, meski mereka sudah habis-habisan berkampanye, hasilnya tetap ”jauh panggang dari api”. Pembalakan liar tetap terjadi, sekuat apa pun perlawanan yang dilakukan Onte bersama teman-temannya di Yascita.

”Dalam banyak kasus pembalakan liar, yang sering kali menjadi korban adalah rakyat kecil. Merekalah yang ditangkap karena pembalakan liar. Kalau di Papua, ya kepala adatnya. Akhirnya saya menyadari, kampanye saja tidak cukup,” katanya.

Tak sekadar kriminal

Pembalakan liar kemudian dipahami Onte tak hanya sebagai sebuah tindak kriminal terhadap hutan. ”Di dalamnya ada korupsi, pemerintahan yang lemah, kekerasan, konflik, kehilangan pendapatan, pemiskinan masyarakat hutan, dan tentu saja harga diri bangsa,” kata Onte.

Dia mencatat, banyak kayu hasil pembalakan liar dikirim ke negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Bahkan juga dikirim ke China dengan dokumen palsu dari Malaysia.

Tahun 2005 kampanye melawan pembalakan liar ”secara keras” pun dia hentikan. Onte kemudian memulai kampanye dalam bentuk lain, yakni dengan membentuk community logging.

Masyarakat yang semula terpecah belah dengan cukong kayunya masing-masing dipersatukan dalam Koperasi Hutan Jaya Lestari Indonesia (KHJLI). Masyarakat Konsel diajak mengelola pohon jati dengan cara lestari kemudian hasilnya dijual melalui koperasi. Warga di Konsel umumnya memiliki lahan yang ditanami jati dengan jumlah mulai puluhan hingga ratusan pohon.

”Ini bukan perkara mudah, mengajak masyarakat yang sudah terbiasa terpecah belah dan dengan mudah mengambil kayu di hutan bergabung dengan koperasi. Mereka tak rela bila kayu yang mereka tanam sendiri diambil hasilnya oleh koperasi,” kata Onte.

Di sinilah letak perjuangan Onte. Bersama teman-teman, dia berjuang keras meyakinkan masyarakat bahwa menanam jati sendiri dengan pengelolaan lestari jauh lebih menguntungkan ketimbang menebang kayu di hutan dan hasilnya dijual kepada cukong. Apalagi bila kayu yang mereka hasilkan itu kayu bersertifikat.

Di sisi lain, dengan menanam sendiri, mereka tidak lagi turut andil dalam perusakan hutan. Selain mengelola kayu jati secara lestari, KHJLI juga menjalankan program tanam ulang 10 benih pohon baru untuk setiap pohon yang ditebang.

Kesepakatan anggota

Meski awalnya hanya 10 keluarga yang bersedia bergabung, lama-kelamaan kegigihan Onte berbuah manis. Ia berhasil membuktikan, koperasi yang dibidaninya bersama teman-teman, dan dikelola dengan cara dan resolusi konflik yang dibangun atas dasar kesepakatan anggota, mampu memenuhi semua persyaratan untuk mendapatkan sertifikat ekolabel internasional dari SmartWood of the Forest Stewardship Council.

”Karena sertifikat yang kami miliki itu satu-satunya di dunia yang diberikan kepada koperasi, permintaan kayu jati (dalam bentuk log) pun mengalir deras,” tutur Onte.

Setahun setelah koperasi berjalan, tiap anggota bisa mendapat penghasilan Rp 1.445.000 untuk setiap meter kubik kayu yang mereka jual. Penghasilan ini empat kali lipat lebih besar daripada pendapatan mereka sebelumnya.

”Sekarang, anggota koperasi sudah berjumlah sekitar 600 keluarga dengan jumlah pohon baru mencapai 2,2 juta,” kata Onte bangga.

Bahkan, para ibu rumah tangga yang dilibatkan dalam pembibitan berhasil menyediakan 5 juta pohon baru. Luasan lahan yang dikelola KHJLI kini mencapai 1.500 hektar. Segala susah payah membangun perlawanan terhadap pembalakan liar seakan terbayar sudah.

Namun, Onte tak mau diam sampai di sini. ”Saya masih berharap ada industri yang mau menerima kayu dari masyarakat Konsel dalam bentuk setengah jadi sehingga nilai tambahnya meningkat. Jadi, kami bisa tunjukan kepada masyarakat, pengelolaan hutan bukan hanya diproduksi, tetapi juga pada industri,” katanya.

Ia pun berharap dibukanya pasar lokal agar produk masyarakat bisa masuk, terutama di masa krisis global kini.

”Saya juga ingin bentuk koperasi seperti ini bisa ditiru di berbagai tempat di Tanah Air untuk melawan pembalakan liar,” kata Onte.

Readmore »»

Kamis, 12 Maret 2009

Megah Mencetak Sawah di Kolong Timah

KOMPAS, Jumat, 13 Maret 2009 03:29 WIB Oleh: BENNY DWI KOESTANTO
Sudah lama ada anggapan bahwa lahan bekas tambang timah atau kolong di Kepulauan Bangka Belitung tidak bisa direhabilitasi, direklamasi, apalagi menghasilkan. Namun,
semua itu mentah di tangan Megah Hasan. Dengan tekun dan semangat luar biasa, pria asli Pangkal Pinang itu berhasil mencetak sawah di kolong timah.
Datanglah ke Kampung Jeruk, Pangkalan Baru, Bangka Tengah, 15 kilometer arah selatan kota Pangkal Pinang. Hamparan hijau petak-petak sawah yang sedang ditanami padi menjadi sebuah ”oase” di antara kolong-kolong timah, yakni kolam-kolam bekas galian dan gundukan tanah di sekelilingnya. Dua tahun lalu, kawasan itu mirip tempat ”jin buang anak”, tandus, sepi tak dijamah orang, dan merana setelah disedot bijih timahnya.
”Timah itu berkah bagi orang Bangka. Kita boleh menambangnya, karena itu memberi nafkah. Tapi, janganlah kita serakah untuk generasi kita semata. Penambangan membabi buta hanya meninggalkan nestapa bagi anak cucu kelak,” kata Megah di pondokan yang baru setengah selesai dibangun di lahan persawahannya, pekan lalu.
Pondokan itu berada di atas kolong terluas di kawasan itu. Di sinilah Megah terus memikirkan masa depan tanah kelahirannya, terutama fase ”apa lagi setelah masa jaya timah yang meninggalkan kerusakan lingkungan dahsyat di Bangka Belitung berakhir”. Terasa sulit membayangkan kenyataan lahan kritis di Bangka Belitung akibat pertambangan timah mencapai 1.600 hektar atau sekitar seperlima dari total wilayah kepulauan itu.
Selama ini upaya penyelamatan lingkungan lebih banyak dilakukan dengan reklamasi lahan, lalu ditanami aneka pepohonan. Namun, bagi Megah, pertanian lestari yang ditopang kegigihan menjadi salah satu jawabannya.
Dari lahan seluas 24 hektar, Megah mencetak seperempatnya menjadi lahan sawah dengan tanaman padi berbagai jenis dalam kurun waktu kurang dari dua tahun terakhir. Akhir tahun lalu ia mampu menghasilkan rata-rata 4-5 ton gabah kering per hektar lahan.
”Hasil itu tidak jelek, tapi juga belum berhasil. Pada sawah normal dengan irigasi lancar hasil rata-rata 8-9 ton gabah kering per hektar, sementara saya setengahnya. Cita-cita saya, masyarakat kepulauan ini tidak terlalu tergantung dari beras luar (pulau),” katanya.
Sekitar 200 meter dari pondokan Megah, di bagian depan lahan persawahan itu terdapat peternakan sapi pedaging dan sapi perah, serta lele dumbo. Ia mencoba mempraktikkan sistem pertanian terintegrasi. Namun, mencetak lahan sawah merupakan fase tersulit.
Pasalnya, tak ada irigasi teknis di sekitar kolong sawah Megah. Dia terpaksa menggunakan sumber air dari kolong-kolong yang ada. Tetapi, air kolong sangat rendah kandungan asamnya karena campuran timah dan logam-logam lain. Untuk menambah keasaman air, ia menanam eceng gondok di kolam-kolam tersebut.
Jika dirasa jumlahnya berlebihan, eceng gondok lalu diambil, dijemur, dan dijadikan pupuk kompos. Air dari kolong itulah yang digunakan mengairi sawah dengan cara dipompa. Sebelum untuk mengairi sawah, terlebih dulu air itu ditampung pada satu kolam khusus, dicampur air kencing sapi serta air dari kolam budidaya lele. Itulah mengapa ia tak menggunakan pupuk kimia pada tanaman padi di sawahnya.
Persoalan kedua adalah tanah. Gundukan-gundukan tanah harus diratakan. Untuk itu, Megah menggunakan ekskavator. Satu hektar lahan membutuhkan waktu dua hari, disusul seminggu untuk pencetakan sawah. Luas petakan tergantung selera, tetapi jangan terlalu luas agar air merata.
Langkah selanjutnya identifikasi tanah, terutama mengetahui ketebalan lapisan pasir. Kalau pasir terlalu tebal, air yang dialirkan tak tertampung karena meresap. Untuk menyiasati, ia menambahkan pupuk kandang dan kompos berupa jerami dan daun eceng gondok kering yang diaduk dengan traktor. Ia mendiamkan lahan itu beberapa pekan. Jika di atas tanah telah tumbuh ilalang, itu pertanda lahan siap dicetak menjadi sawah. Maka, tanah pun diaduk dan diolah kembali menjadi sawah.
Belajar dari Jepang
Upaya pencetakan sawah itu merupakan buah perjalanan Megah ke Kobe, Jepang. Hampir separuh perjalanan hidupnya dihabiskan di kota itu. Selepas SMA di Pangkal Pinang, ia merantau dan bekerja di perusahaan otomotif, hingga ia mampu mendirikan usaha berbasis otomotif pula. Ia menikah dengan gadis Jepang, dan menetap di Kobe dengan dua putranya.
Sejak menjadi petani di Bangka, otomatis ia tinggal sendiri di Pangkal Pinang. Dua bulan sekali ia menemui keluarganya di Kobe. Atau di kala liburan sekolah, keluarganya berkunjung ke Pangkal Pinang. Sementara bisnisnya tetap berjalan, dengan berkelakar ia mengaku mampu mengawasi usaha itu dari sawahnya di Kampung Jeruk. Di Bangka ia terdaftar sebagai komisaris salah satu perusahaan peleburan (smelter) timah swasta.
Ia memang hobi dan cinta bertani. Ia mulai bertani di Kobe sejak awal 1990-an, kala bersama dua teman membeli sepetak lahan sawah berukuran 1.000 meter di pinggiran kota. Ia bertani intensif di akhir pekan. Intensifikasi pertanian Jepang, katanya, sangat jelas. Lahan sempit dibayar lunas dengan hasil maksimal karena sistem pertanian yang maju dengan sistem bimbingan petugas lapangan pertanian secara simultan.
”Setiap petugas penyuluh di Jepang mempunyai kebun atau sawah percobaan sendiri. Mereka meneliti, beruji coba, dan dipraktikkan secara cermat. Coba bandingkan dengan penyuluh di sini,” katanya.
Praktik pertanian ala Negeri Sakura itulah yang diterapkannya di Kampung Jeruk. Hampir sehari penuh ia berada di sawah. Merenung dan berpikir di pondokan, lalu ke sawah lagi, begitu seterusnya. Tak jarang ia pergi ke sawah malam hari, sekadar melihat kondisi tanaman. Maka ia mampu menyebutkan berapa jenis hama, capung, hingga kupu di persawahan.
Salah satu hal menarik pada sistem pertanian Megah adalah jumlah petani. Untuk mengolah lahan seluas enam hektar itu, ia dibantu tiga karyawan. Katanya, pengaturan waktu dan jadwal pengerjaan lahan adalah kuncinya. Mereka bekerja profesional layaknya pekerja kantor, pukul 08.00-16.00 dengan istirahat satu jam per hari. Mereka digaji minimal Rp 1,25 juta per bulan. Mereka juga dibuatkan rumah tinggal di sekitar area persawahan, lengkap dengan listriknya.
Megah bangga dengan salah satu pencapaiannya ini. Pencetakan sawah menjadi bagian dari Bangka Goes Green, program corporate social responsibility PT Bangka Belitung Timah Sejahtera, konsorsium beberapa perusahaan smelter timah di Pangkal Pinang.
Namun ada hal yang menggelisahkannya, yakni bagaimana mengenalkan dan mengajak warga pemilik kolong mengikuti jejaknya. Sebab, butuh biaya tak sedikit untuk mencetak sawah. Ia telah menghabiskan Rp 600 juta untuk semua itu, di luar pembelian lahan.
”Tanpa bantuan pemerintah atau perusahaan swasta besar, pencetakan sawah sulit terealisasi dalam waktu singkat. Sudah saatnya pemerintah daerah di Bangka peduli lingkungan, demi generasi mendatang,” kata Megah.

Readmore »»

Minggu, 15 Februari 2009

Asep Samudra Hijaukan Pesisir Cianjur

KOMPAS, Senin, 16 Februari 2009 00:37 WIB Oleh: Agustinus Handoko
Ketika ratusan bangunan di Teluk Palabuhanratu dan pesisir selatan Sukabumi rusak akibat hantaman gelombang besar, Mei 2007, permukiman penduduk di pesisir selatan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tetap aman kendati gelombang yang sama besarnya juga menghantam wilayah itu.



Gumuk pasir yang terbentuk di sempadan pantai telah menyelamatkan penduduk dari dampak hantaman gelombang besar.

Kendati telah menyelamatkan penduduk, gumuk pasir yang membentang sepanjang 63,1 kilometer dari Kecamatan Cidaun di sebelah timur dan Kecamatan Bojongterong di barat tetap dibiarkan telantar.

Ancaman pengikisan gumuk oleh aliran sungai dan gerusan air laut tak ada yang memedulikan. Gumuk pasir itu hanya ditumbuhi semak belukar dan tanaman perdu.

Melihat keadaan tersebut, Asep Samudra (39) tergerak untuk menanami gumuk pasir dan sempadan pantai di pesisir selatan Cianjur. Juli 2008, Asep memulai menanami gumuk pasir dan sempadan pantai itu, mulai dari Kecamatan Sindangbarang yang berada di tengah-tengah garis pantai menuju ke arah Cidaun.

”Awalnya banyak orang yang berpikir saya kurang kerjaan sehingga mencari-cari pekerjaan. Untuk apa menanami lahan pantai, buang-buang uang saja,” katanya.

Namun, Asep tak patah arang oleh cibiran orang terkait upayanya menanami gumuk pasir tersebut. Dia terus menanami lahan telantar itu sampai sepanjang 15 kilometer dari tempatnya semula.

Jarak antara pohon 5 meter hingga 10 meter. Di ruas tertentu, penanaman dilakukan hingga dua baris karena lebarnya gumuk pasir. Jumlah pohon yang sudah ditanam tak kurang dari 2.000 batang, yang dibeli Asep dari pusat pembibitan.

Menjaga gumuk

Ketika ditanya berapa uang yang sudah dikeluarkannya untuk penanaman kawasan pesisir itu, Asep enggan mengungkapkannya. ”Tak perlu disebutkan nilai uangnya. Saya hanya ingin melihat pesisir selatan Cianjur hijau yang berarti sekaligus menjaga gumuk pasir yang telah menyelamatkan kami,” ujar Asep yang adalah warga asli Cidaun.

Asep kemudian berbagi pengalaman kenapa dia memilih pohon ketapang untuk menghijaukan pantai. ”Dulu pernah ada gerakan reboisasi oleh pemerintah dengan menggunakan tanaman bakau, tetapi gagal karena lahannya kering. Ternyata bakau hanya cocok untuk rawa pantai,” kata Asep.

Belajar dari kegagalan reboisasi pemerintah itu, Asep kemudian mulai mencari tahu apa tanaman yang paling cocok untuk gumuk pasir yang berkarakter lahan kering.

Dia kemudian menemukan pohon-pohon ketapang yang tumbuh kokoh di suatu kawasan pantai di Jabar. Dari hasil penelitiannya, pohon ketapang memang yang paling cocok di lahan pasir kering. Pohon ketapang bisa tumbuh rimbun dan memiliki perakaran sangat kuat sehingga mampu menahan erosi di muara sungai dan abrasi di sempadan pantai.

”Saya tidak pernah berpikir muluk-muluk, hanya punya keinginan untuk menyelamatkan gumuk pasir dan membuat pesisir selatan teduh. Siapa tahu, potensi keindahan panorama akan dilirik setelah pesisir teduh. Ini yang saya pikir bisa saya lakukan untuk generasi setelah saya,” ungkap Asep.

Berselang tiga bulan sejak memulai penanaman, pohon ketapang di Sindangbarang sudah setinggi orang dewasa. Keberadaan tanaman berdaun lebar itu juga makin menonjol dibandingkan dengan belukar dan tumbuhan perdu lainnya.

Pasir besi

Hal itu cukup memberi jawaban bagi banyak orang yang mencibir upaya Asep. Sebagian warga pesisir mulai bersimpati dengan gerakan yang dipelopori oleh Asep. Apalagi, pada saat yang bersamaan sebagian warga sedang dhinggapi demam penggalian pasir besi di lahan pantai.

Mereka menampung pasir besi yang terbawa ombak meskipun tidak menggali gumuk pasir. Namun, jika tak diawasi, bisa-bisa gumuk pasir juga menjadi sasaran. Untuk itu, Asep yang mulai mendapat dukungan dari nelayan dan banyak warga itu juga mendekati para penambang untuk memberi penjelasan soal pentingnya menjaga lingkungan.

”Mereka mengerti dan bahkan bersedia menyisihkan Rp 1.000 per meter kubik pasir besi yang mereka peroleh untuk mendukung gerakan penanaman lahan pantai. Sempadan pantai yang sudah ditanami menjadi tanggung jawab para penambang. Jika pohon sampai mati, mereka bersedia tidak melakukan penambangan selama tiga bulan,” kata Asep.

Selama ini, para penambang memang belum memperoleh hasil kajian yang menyatakan bahwa kegiatan para penambang itu bisa merusak lingkungan. ”Kalau memang sudah ada kajian, mereka bersedia berhenti,” kata Asep.

Setelah berhasil menggulirkan gerakan penghijauan pesisir selatan Cianjur, Asep berani memasang target untuk bisa mengajak lebih banyak orang lagi sehingga pesisir pantai selatan Cianjur sepanjang 63,1 kilometer seluruhnya bisa dihijaukan.

Readmore »»

Kamis, 05 Februari 2009

Djuariah Djadjang, Si Guru Sampah

KOMPAS, Kamis, 5 Februari 2009 00:18 WIB Oleh: LIS DHANIATI
Bagi Djuariah Djadjang, Sungai Cikapundung yang bersih dan bening tinggal kenangan masa lalu. Dia prihatin karena banyak warga yang membuang sampah sembarangan di salah satu penanda Kota Bandung itu.

Warga RT 02 RW 20, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat, ini pantas prihatin. Lahir dan besar di kawasan Taman Sari, ia bisa melihat langsung menurunnya kualitas Sungai Cikapundung yang letaknya tak jauh dari rumah.
Padahal, sebagai ibu rumah tangga yang juga kader aktif PKK dan posyandu, Djuariah sangat mafhum akan pentingnya kebersihan lingkungan.
”Sepanjang yang saya ingat, sejak dulu para pengurus RW sudah menganjurkan agar warga tidak membuang sampah ke sungai. Namun, kebiasaan itu tetap saja dilakukan,” kata Djuariah.
Hingga tahun 2005, ada lembaga swadaya masyarakat, Koalisi untuk Jawa Barat Sehat (KuJBS), mengadakan pendampingan di tempat itu. Mereka mengajak masyarakat hidup bersih, antara lain dengan tak membuang sampah sembarangan.
Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, lembaga itu mengirim kader aktif ke pelatihan daur ulang sampah di Surabaya, Jawa Timur. ”Saya dan dua rekan kader terpilih ikut pelatihan,” katanya.
Daur ulang sampah plastik ini tak terlalu rumit, tetapi butuh ketekunan ekstra. Proses pertama, lembaran plastik kering dan bersih digunting dengan ukuran sama. Lalu, guntingan plastik itu dilipat dan disambung hingga membentuk aneka barang seperti tas, wadah pensil, tempat tisu, sandal, bahkan sajadah.
”Awalnya susah juga, tetapi saya mau belajar,” kata Djuariah.
Sampah plastik yang digunakan bisa berasal dari kemasan aneka produk, seperti mi instan, kopi instan, makanan ringan, sabun cair, dan pelembut pakaian.
Menularkan keterampilan
Sesuai tujuan pengiriman ke pelatihan, Djuariah tak menyimpan keterampilan itu untuk diri sendiri. Pengalaman sebagai kader memudahkan dia untuk menularkan keterampilan itu kepada warga di lingkungan sekitar rumahnya.
Pada tahap awal, ia mengajarkan keterampilan itu kepada ibu-ibu se-RT yang berminat. Di samping mengajar, ia juga terus mengajak warga agar tak membuang sampah sembarangan. Ia pun mengajak masyarakat memilah sampah kering dan basah.
Awalnya, mengajak masyarakat mengubah kebiasaan bukan hal mudah. Apalagi, wilayah Taman Sari merupakan daerah kos mahasiswa yang mungkin penghuninya tak punya rasa memiliki sekuat penghuni asli pada lingkungan tempat tinggalnya.
Beragam tantangan dialami Djuariah yang juga punya beberapa kamar kos untuk mahasiswa. ”Saya sering dikira mau meminta sumbangan ketika melakukan penyuluhan. Saya juga pernah dihindari karena disangka mau menyebarkan ajaran agama,” katanya.
Namun, upayanya tak sia-sia. Belakangan ini puluhan ibu rumah tangga mau bergabung dalam kelompok masyarakat peduli lingkungan Mekarsari. ”Sesekali kami berkumpul. Selebihnya daur ulang sampah dikerjakan di rumah masing-masing,” katanya.
Volume sampah berkurang
Aktifnya warga masyarakat dalam kegiatan ini praktis mengurangi volume sampah di daerah itu. ”Setelah didaur ulang, sampah yang tersisa tinggal sedikit,” kata Djuariah.
Selain itu, barang-barang yang dihasilkan juga bernilai ekonomis. Tempat pensil, misalnya, bisa dijual mulai harga Rp 10.000. Sementara itu, produk yang ukurannya lebih besar, seperti tas dan sajadah, bisa dijual dengan harga puluhan ribu rupiah hingga lebih dari Rp 100.000 per buah.
”Barang-barang daur ulang hasil produksi warga di sini kemudian dipasarkan melalui pameran, pesanan langsung, atau dititipkan di beberapa toko. Dalam setiap pameran, barang-barang daur ulang ini selalu laris, relatif habis terjual karena tampak unik,” katanya.
Djuariah senang karena hasil penjualan produk daur ulang itu berarti tambahan penghasilan bagi rumah tangga anggota Mekarsari.
”Besar uang yang didapat warga tergantung dari jumlah barang yang terjual. Dari dua tas misalnya, seorang ibu bisa mendapat sedikitnya Rp 100.000. Mungkin jumlah tersebut tak besar, tetapi itu sangat berarti bagi ibu rumah tangga yang tak punya pekerjaan di luar rumah. Mereka juga menjadi lebih produktif daripada sekadar ngrumpi,” kata Djuariah.
Untuk kegiatan ini, ia rela rumahnya menjadi tempat penyimpanan berbagai macam sampah plastik. ”Sejak adanya pendampingan, warga mulai sadar untuk memilah sampah. Kami jadi mudah mendapatkan sampah plastik untuk bahan baku,” katanya.
Suaminya, Djadjang Ruchiyat, pegawai negeri sipil di salah satu instansi di Kota Bandung, pun tidak segan membantu kerja sang istri di kala senggangnya.
”Jika dulu saya harus mengambil sampah ke rumah warga, kini sampah ’datang’ sendiri ke rumah. Tiap pagi ada saja kantung sampah tergantung di setang sepeda motor suami saya yang diparkir di teras,” cerita Djuariah.
Bahkan, salah satu kamar kos miliknya sedang kosong juga dia jadikan sebagai ”gudang” sampah plastik.
Direkam dan dibagikan
Dengan pengalamannya selama ini, Djuariah jadi sering diminta menjadi pembicara dalam pelatihan daur ulang sampah di berbagai daerah, terutama di Jabar seperti di Cianjur, Sukabumi, Sumedang, dan Cirebon.
Proses daur ulang sampah plastik yang dilakukan Mekarsari oleh Badan Pengelola Lingkungan Hidup Kota Bandung direkam dalam bentuk VCD dan dibagikan ke berbagai pihak.
”Ada juga mahasiswa yang membuat skripsi terkait kegiatan kami. Gara-gara sampah, saya menjadi guru, mengajar ke mana-mana,” kata nenek satu cucu ini. Padahal, Djuariah tidak berlatar pendidikan formal mengajar.
Sebelum memutuskan menjadi ibu rumah tangga, ia bekerja di PT Kimia Farma. ”Saya berhenti bekerja karena sering sakit saat kehamilan anak kedua,” katanya.
Atas kerja kerasnya dalam mendaur ulang sampah dan perhatiannya pada kebersihan sebagian aliran Sungai Cikapundung, Djuariah mendapat penghargaan Masyarakat Peduli Lingkungan tingkat Jabar pada tahun 2008.

DATA DIRI
Nama: Djuariah Djadjang
Lahir: 27 November 1953
Pendidikan: SMA
Suami: Djadjang Ruchiyat (55)
Anak:
- Angga Ramdhani (30)
- Alia Meliawati Dewi (26)
Penghargaan, antara lain:
- Masyarakat Peduli Sampah tingkat Jawa Barat, 2008
- Teladan Akseptor KB Lestari tingkat Kota Bandung, 2008
- Teladan Kader Posyandu Kota Bandung, 2008

Readmore »»

Kamis, 22 Januari 2009

Pencinta Lingkungan dari Condet

KOMPAS Selasa, 20 Januari 2009 01:15 WIB Oleh M CLARA WRESTI
Dulu, Condet, Jakarta Timur, terkenal akan salak dan dukunya. Kini, kawasan itu dikenal sebagai kawasan yang padat, macet, menjadi pusatnya rumah kos dan penampungan tenaga kerja. Istilah Betawi-nya, semek atau semerawut.


Keputusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadikan Condet sebagai kawasan cagar budaya tahun 1974, ternyata justru mendorong daerah itu kehilangan jati diri sebagai cagar budaya.
Ketika itu, kawasan Condet yang hijau, kantong orang Betawi, dan buah-buahannya yang beragam, memang pantas menjadi pertimbangan pemerintah sebagai cagar budaya. Pemerintah lalu mencegah pembangunan di kawasan ini dengan menerapkan koefisien dasar ruang 80:20. Ruang terbuka hijau 80 persen, sedangkan ruang yang boleh dibangun 20 persen saja.
”Akibatnya harga tanah menjadi murah karena untuk mendapatkan IMB (izin mendirikan bangunan) susah sekali. Orang luar kawasan Condet lalu berduyun-duyun datang,” kata Abdul Kodir, tukang ojek yang peduli pada lingkungan di Condet.
Lelaki yang biasa disapa Diding ini prihatin dengan kondisi Condet belakangan ini, apalagi Sungai Ciliwung yang melintas di kawasan ini juga parah kondisinya. Sampah plastik yang dibuang ke sungai setiap hari bertumpuk di pinggir sungai membuat kawasan Condet semakin kumuh dan tak sehat.
”Ketika saya masih kecil, setiap kali malam takbiran, warga kampung Condet Balekambang melakukan tradisi mandi dan mencuci bersama di sungai. Dengan kondisi sungai yang sakit seperti ini, tradisi itu pun hilang,” ceritanya.
Kawasan Condet telah berkembang menjadi tempat hunian yang padat. Beragam pohon buah-buahan asli Jakarta, yang hingga tahun 1990-an masih memenuhi kawasan ini, makin tersingkir ke pinggir sungai. Di pinggir sungai pun saat banjir melanda, pohon-pohon tersebut tergerus.
Hilangnya pohon salak dan buah-buahan khas Jakarta membuat sarjana pertanian ini merasa khawatir. Dia lalu mengumpulkan satu per satu bibit dan ditanam di halaman rumahnya. Ia tak tertarik bekerja di lapangan kerja formal. Diding justru berkeliling kampung, mencari sesuatu yang khas Condet dan masih bisa diselamatkan. Ia telah mengumpulkan 10 jenis salak yang dulu ada di Condet.
Tak masuk akal
Apa yang dilakukan Diding itu dinilai tak masuk akal oleh orangtuanya, HM Amin (almarhum) dan Hj Sunayah (70-an). Keduanya ingin putra mereka kerja kantoran, apalagi Diding mengantongi ijazah sarjana. Namun, dia malah terjun mengurus tanaman dan membersihkan Sungai Ciliwung. Sesekali, kalau butuh uang, Diding menjadi tukang ojek.
Ia juga mengajak anak-anak di kampungnya belajar tentang tanaman. Tanaman yang mulai langka dia perkenalkan kepada anak-anak. Mereka diajari menanam, merawat tanaman, membersihkan lingkungan, dan mengambil sampah yang menyangkut di sungai.
”Di buku pelajaran mereka diajarkan biji monokotil dan dikotil. Tetapi, biji berkeping tunggal seperti apa? Mereka tak tahu. Nah, di sini mereka tahu seperti apa biji monokotil, contohnya salak, sedangkan yang dikotil seperti nangka,” ujar Diding yang mendirikan Komunitas Ciliwung Condet.
Para murid itu juga dikenalkan pada ekosistem dan hewan yang ada di lingkungannya. Di Condet setidaknya ditemukan 35 jenis burung dan tujuh jenis kelelawar. Ini belum termasuk berbagai jenis ikan dan hewan-hewan kecil lain.
”Namun, ekosistem di Condet banyak yang sudah rusak dan berubah. Dulu, jenis ikan di Sungai Ciliwung banyak sekali, antara lain ada ikan berot, gabus, baung, keting, lele, mas, mase, tawes, lempalung, senggal, julung-julung, sisik melik, dan lopis. Tetapi sekarang, Sungai Ciliwung didominasi ikan sapu-sapu,” kata Diding.
Keberadaan ikan sapu-sapu, yang juga melahap telur-telur ikan jenis lain, membuat ikan jenis lain tersingkir dan hilang. Maka, di aliran Sungai Ciliwung dari kawasan Pasar Rebo hingga ke hilir, dikuasai oleh ikan sapu-sapu. Ikan ini juga merusak dinding sungai karena mereka membuat liang di pinggir sungai. Akibatnya, dinding sungai mudah longsor.
Ikan sapu-sapu itu banyak dijaring warga di sekitar sungai untuk diambil dagingnya. Mereka menjual daging ikan itu dengan harga sekitar Rp 8.000 per kilogram untuk dijadikan penganan berbahan dasar ikan.
”Memperlihatkan pada anak-anak apa yang terjadi di sungai, dari yang tadinya ada, lalu hilang. Dari yang tadinya tidak ada, sekarang menjadi ada. Ini tentu menjadi pelajaran yang berharga,” katanya.
Diskusi
Murid Diding berjumlah sekitar 20 orang. Mereka adalah siswa SD dan SMP di sekitar Condet. Mereka boleh datang kapan saja untuk berdiskusi tentang tanaman dan sungai.
”Dengan menanamkan kecintaan terhadap lingkungan kepada anak-anak, mereka bisa menjadi duta kampanye untuk lingkungan bagi orang-orang di dekatnya,” kata Diding berharap.
Koleksi tanaman Diding sekarang sudah ribuan jenis. Dari salak dengan beragam varietasnya, duku, kemang, sukun, kapuk, melinjo, pucung (kluwek), sampai jengkol. Selain itu, dia masih mempunyai 4.000 bibit salak siap tanam yang tidak tahu akan dia apakan.
”Inginnya, saya tanam di sini, tetapi saya tidak punya lahan lagi. Ini saja saya memakai lahan tetangga di pinggir sungai,” kata Diding yang mengelola lahan seluas 2 hektar itu.
Tetangganya bersedia lahannya dikelola Diding karena lahan itu selalu bersih. ”Kalau lingkungan bersih, warga jadi enggan buang sampah, berarti ini ada yang punya. Tetapi, kalau lahan didiamkan saja, warga tidak merasa bersalah membuang sampah di sungai,” kata anak ketujuh dari 10 bersaudara ini.
Diding mengakui, sampah yang tersangkut di pohon dia bersihkan bersama anak-anak didiknya, lalu dibuang kembali ke sungai. Dia tahu, apa yang dilakukan itu salah. Namun, tak mungkin sampah itu dibuang ke tempat penampungan warga karena jumlahnya sangat banyak. Selain itu, ia juga tak mempunyai alat untuk mengangkut sampah dari sungai lalu naik ke permukiman warga.
Persoalan Condet dari masalah peruntukan lahan, sampah di sungai, hingga ekosistem yang berubah, menjadi keprihatinan buat Diding. Dia berharap, jika semakin banyak orang yang peduli pada lingkungan, ekosistem setempat akan semakin baik, sehat, dan bermanfaat bagi semua penghuninya.

Readmore »»

Rabu, 17 Desember 2008

Toto, Antipemanasan Global

KOMPAS Kamis, 18 Desember 2008 03:00 WIB NINOK LEKSONO
Pada masa lalu, tak banyak yang bisa diceritakan tentang aktivitas bersepeda. Sebagai moda transportasi, dulu, bersepeda merupakan hal yang wajar karena belum banyak kendaraan bermotor dan jarak yang harus ditempuh relatif tak jauh sehingga

dari segi waktu pun bersepeda nyaman saja. Popularitas bersepeda turun seiring tersedianya transportasi kendaraan bermotor. Kini, bersepeda justru tampil dengan nilai dan kearifan lain.
Bersepeda tak saja menghadirkan gaya hidup sehat, tetapi juga menyampaikan pesan prolingkungan. Itu karena bersepeda berkontribusi pada pengurangan penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Bahkan, lebih jauh, bersepeda itu merespons anjuran untuk menanggulangi pemanasan global karena aktivitas tanpa BBM berarti tak melepaskan gas rumah kaca yang menjadi biang utama fenomena pemanasan global.
Alasan yang bersifat praktis, bersepeda lebih lincah dalam menembus kemacetan lalu lintas di kota-kota besar.
Itulah yang diamati Toto Sugito (45), Ketua Umum Bike to Work (B2W), komunitas pengguna sepeda ke kantor (atau kegiatan lain).
Landasan aktivitas yang logis dari sejumlah argumen tersebut membuat anggota komunitas terus bertambah. Kelompok ini pun tak hanya eksis di Jakarta, tetapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Menurut Toto, anggota B2W di berbagai kota mencapai 10.000-an.
Bersepeda pada satu sisi lalu tampak sebagai suatu gaya hidup modern. Di sini juga tersirat niat tulus untuk bersikap baik terhadap Sang Bumi.
Menengok kembali awal B2W, Toto yang untuk kiprahnya mendapat penghargaan dari Swiss Contact dan ”Indonesia Berprestasi” dari XL ini mengatakan, ide pendirian B2W muncul setelah ia semakin prihatin dengan kondisi polusi udara, keterbatasan tempat parkir, dan kemacetan. Toto—sebelumnya ia pencinta sepeda gunung—lalu mencoba moda transportasi alternatif untuk ke kantor. Jalur Cibubur-Tebet, Jakarta Selatan, lalu menjadi rute hariannya sejak 2004.
Pada awalnya, sang istri keberatan Toto bersepeda ke kantor karena alasan polusi udara sangat tinggi. Jalan keluarnya, Toto memakai masker yang bermutu baik.
Setelah merasakan manfaatnya, Toto kemudian memperkenalkan ”bersepeda ke kantor” tersebut kepada teman-teman dekatnya. Ternyata sambutan mereka positif. Oleh karena itu pula, tahun 2005 Toto lalu menghimpun komunitas pekerja bersepeda dalam B2W.
Tidak butuh waktu lama, komunitas ini berkembang menjadi tren baru di kalangan eksekutif muda. Malah berikutnya, gaya hidup bersepeda ini meluas pula di kalangan remaja, bahkan juga ke kalangan mereka yang berusia lanjut.
Keluarga dari sebagian anggota komunitas ini, yang semula sempat meragukan, kini justru ikut pro terhadap aktivitas bersepeda yang dipelopori Toto. Kendaraan utama anak pertama dia yang belakangan kuliah di Bandung juga sepeda. Adapun kedua anak Toto yang lain baru menggunakan sepeda sebagai alat olahraga.
Penitipan sepeda
Toto memimpikan B2W dapat berkembang menjadi komunitas serupa yang sukses seperti di Kanada dan banyak negara Eropa, khususnya Belanda. Di negara-negara itu, meski sarana transportasi bermotor pribadi dan umum sangat baik, banyak warga yang memilih menggunakan sepeda untuk menunjang aktivitas sehari-hari mereka.
Di dekat stasiun kereta api, banyak terlihat area parkir sepeda. Selain pertimbangan kesehatan dan nonpolusi, secara transportasi, sepeda pun bisa menjadi pengumpan (feeder) bagi aktivitas commuting (ulang-alik, pergi-pulang, rumah-tempat bekerja yang cukup jauh).
Bukankah peran serupa juga masuk akal bagi busway yang belakangan dipromosikan di kota-kota besar Indonesia? Tentu saja masih diperlukan penyediaan fasilitas penitipan sepeda yang bisa diandalkan, bila hal tersebut hendak dikembangkan di Indonesia. Namun secara ide, hal itu masuk akal.
Berbicara tentang tolok ukur kesuksesan B2W di Indonesia, hal ini, menurut Toto, tidak semata bisa dicerminkan oleh banyaknya anggota komunitas, tetapi juga seberapa jauh bersepeda dapat menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia.
”Artinya, masyarakat kita menjadi sadar betul akan masalah polusi udara dan hubungannya dengan perubahan iklim, juga bagaimana energi atau BBM yang ada bisa dihemat untuk generasi selanjutnya,” kata Toto.
Bila kesadaran tersebut telah dipahami masyarakat luas, tentu tidak akan sulit untuk menambah anggota komunitas bersepeda.
B2W dalam hal ini mengajak masyarakat menggunakan sepeda tidak hanya sebagai alat olahraga dan/atau rekreasi, tetapi juga sebagai alat transportasi yang ramah lingkungan sekaligus menyehatkan bangsa.
Dalam posisi ini, sepeda memang tergolong unik karena peran mendukung mobilitas muncul seiring dengan peran menyehatkan, sekaligus peran memelihara lingkungan.
Jalur khusus
Toto yang sehari-hari bekerja sebagai direktur di sebuah perusahaan konsultan arsitektur ini punya cara mudah dalam mengampanyekan kegiatan bersepeda, yakni melalui 3M.
”3M itu maksudnya: Mulai bersepeda dari diri sendiri, Mulai bersepeda dari jarak terdekat, dan Mulai bersepeda sekarang juga.”
Toto menyadari bahwa aktivitas bersepeda di perkotaan bukannya bebas dari tantangan. Selain udara penuh debu, banyak kota besar di Indonesia belum atau tidak punya jalur khusus sepeda. Bahkan, kata dia, sudah ada pengendara sepeda yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas karena berbagi jalan dengan kendaraan bermotor besar dan kecil.
Maka, wajarlah kalau salah satu harapan komunitas B2W adalah tersedianya jalur khusus untuk sepeda.
Jalur yang akan membuat aktivitas bersepeda bisa dilakukan dengan aman sehingga menjadi insentif bagi mereka yang ingin bergabung dalam komunitas ini, tetapi masih meragukan keamanan aktivitas bersepeda.
Di luar tantangan yang ada, Toto yakin, ide bersepeda besar faedahnya tidak saja bagi individu bersangkutan, tetapi juga untuk masyarakat, bahkan bagi kelestarian lingkungan Bumi.
Panitia ”Indonesia Berprestasi Awards” menilai, apa yang dilakukan Toto Sugito memiliki kekhasan yang relevan dengan permasalahan yang tidak saja dihadapi masyarakat Indonesia, dalam hal ini terkait dengan lalu lintas perkotaan yang semakin macet dan terkena polusi, tetapi juga dengan upaya bersama seluruh umat manusia untuk menanggulangi pemanasan global yang berakibat mengerikan.

Readmore »»

Selasa, 09 Desember 2008

Rinco Norkim, Menjaga Tempat Bermain

KOMPAS, Rabu, 10 Desember 2008
Masa kecil adalah masa terindah. Itulah yang dirasakan Rinco Norkim ketika berbicara mengenai masa kecilnya. Kenangan masa kecil dia yang tidak lepas dari hutan Mangkatip, Kecamatan Dusun Hilir, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Pada saat usianya menginjak kepala enam, Rinco tergugah

untuk menjaga hutan tempatnya bermain pada masa kecil dulu.
Dia tidak ingin anak cucu kita nanti cuma bisa mendengar tentang pohon ramin, tetapi tidak pernah melihat wujud pohonnya. Mereka hanya bisa membaca tentang adanya ikan jelawat, tetapi tidak pernah melihat ikannya secara langsung.
Alasan Rinco sederhana saja. Pada masa kecil, dia masih sempat bermain-main di hutan Mangkatip yang ditumbuhi pohon ramin, dan memancing ikan jelawat di rawa sekitarnya. Namun, belakangan ini, banyaknya areal hutan di Kalteng yang rusak mengakibatkan sebagian flora dan fauna hutan itu kian sulit ditemui.
Namun, Rinco menyadari bahwa menyelamatkan hutan jelas merupakan pekerjaan raksasa, apalagi kalau konteksnya adalah luasan hutan kritis di Kalteng yang mencapai 7,5 juta hektar (menurut taksiran Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Kalteng). Maka, dia pun tidak berpretensi menyelamatkan jutaan hektar hutan yang kritis itu.
”Saya hanya ingin menjaga hutan tempat saya bermain dulu. Kebetulan ada kerabat di desa ngomong kepada saya bahwa hutan di Mangkatip sampai sekarang kondisinya relatif masih bagus,” kata lelaki yang pernah menjabat sebagai Pembantu Rektor II Universitas Palangkaraya (1995-1999) ini.
Rinco kemudian pergi ke Mangkatip untuk melihat hutan yang disebut-sebut masih perawan itu. Dijumpainya hamparan hutan seluas sekitar 250 hektar yang berbatasan dengan areal Proyek Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar.
Hutan Mangkatip itu masih beruntung karena pohon-pohonnya tidak habis dibabat sebagaimana terjadi di kawasan PLG. Aneka pohon masih ditemukan di sini, seperti meranti, belangeran, ramin, dan jelutung. Adapun satwa yang ditemui di hutan itu antara lain bekantan, orangutan, dan beragam jenis burung serta ikan. Berbagai spesies anggrek hutan juga ada di hutan Mangkatip.
”Ada juga tanaman kantong semar yang gedenya seperti saksofon,” kata Rinco yang tahun 1988-1989 turut mencetuskan berdirinya Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Komodo Universitas Palangkaraya. Saat itu dia menjadi Pembantu Dekan III Fakultas Ekonomi di perguruan tinggi tersebut.
Berbekal rekomendasi dari Kepala Desa Mangkatip dan izin Camat Dusun Hilir serta Bupati Barito Selatan, Rinco beserta beberapa warga setempat bersepakat bersama-sama menjaga kawasan hutan Mangkatip agar tidak ditebangi. Mereka juga berusaha agar kawasan hutan itu jangan sampai terbakar pada musim kemarau.
Konservasi
Dalam Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah Provinsi Kalteng, hutan Mangkatip termasuk dalam kawasan konservasi flora dan fauna. Oleh karena itu, Rinco lalu meminta izin kepada Pemkab Barito Selatan untuk mengelola kawasan hutan Mangkatip. Gayung bersambut, pemerintah setempat memberikan lampu hijau kepada Rinco untuk menjaga kawasan itu.
Maka, mulai awal 2004 ia berkali-kali melakukan pendekatan kepada warga sekitar hutan Mangkatip. Agar penjagaan kawasan hutan lebih terorganisasi, Rinco kemudian mendirikan LSM Lestari Hutanku. LSM itu disahkan pada 14 Maret 2007 dengan akta notaris, dan dua hari kemudian terdaftar di Pengadilan Negeri Palangkaraya.
Langkah LSM Lestari Hutanku untuk menjaga kawasan hutan Mangkatip dari jarahan penebang liar, antara lain, dengan membangun empat kamp pemantauan. Dirintis pula pembuatan jalan setapak sepanjang tujuh kilometer yang mengelilingi areal hutan.
Setidaknya ada lima warga yang bernaung di LSM Lestari Hutanku dengan tugas memantau hutan Mangkatip secara bergantian. Setiap hari mereka diberi upah Rp 50.000. ”Selama ini biaya operasional pengamanan hutan Mangkatip itu masih dari kantong sendiri,” kata anggota DPRD Kalteng periode 2004-2009 ini.
Meski sudah mengantongi izin, Rinco tetap khawatir. Pasalnya, kegiatan pengawasan hutan Mangkatip itu tak mungkin selamanya dibiayai dari kantongnya sendiri. Dia berharap pemerintah daerah mau mendukung kegiatan tersebut.
Sejauh ini, LSM Lestari Hutanku mencatat ada 32 jenis pohon di hutan Mangkatip, termasuk memberi nomor pada pohon-pohon tersebut. Secara psikologis, pemasangan pelat bernomor efektif mencegah orang yang berniat menebang pohon di hutan itu.
Rinco menuturkan, dia pernah ditawari uang Rp 1 miliar oleh sebuah perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) di Kalteng. Perusahaan itu ingin agar pengelolaan hutan Mangkatip diserahkan kepada mereka sehingga dapat menjadi lokasi percontohan pengelolaan hutan oleh perusahaan HPH bersangkutan.
”Tawaran ini saya tolak. Saya ingin menjaga hutan Mangkatip itu karena memang ingin melihatnya tetap lestari seperti dulu. Ini agar anak cucu bisa melihatnya, bukan untuk diperjualbelikan,” katanya.
Bahaya kebakaran
Papan berisi imbauan untuk menjaga hutan dari bahaya kebakaran pun dipasang di beberapa lokasi. Rinco juga berkeinginan agar kawasan ini bisa dijadikan lokasi penelitian karena masih banyak jenis flora dan fauna yang belum terdata.
Dia mencontohkan, di hutan Mangkatip ada sejenis pohon yang diameter batangnya mencapai 40 sentimeter. Jika kulit batang pohon ini ditusuk, akan keluar getah bening yang menjulur serupa tali.
Ketika mengering, getah itu menjadi liat seperti agar-agar. Jika dipotong kecil-kecil (seukuran ujung jari kelingking orang dewasa) dan dimasukkan dalam baskom berisi air, air di wadah itu akan menjadi liat juga seperti agar-agar. Warga setempat acap menggunakan agar-agar dari getah pohon itu untuk mengobati penderita panas dalam.
”Saya sudah bertanya ke kolega di Jurusan Kehutanan Universitas Palangkaraya, tapi sejauh ini belum ada yang tahu spesies pohon itu,” kata Rinco yang di pengujung tahun 2007 meluncurkan buku karyanya, Menuju Pengelolaan Hutan Lestari.
Buku dengan kata pengantar Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang dan Bupati Barito Selatan Baharudin Lisa ini disebarkan ke lingkup kantor pemerintah daerah serta dijual melalui beberapa toko buku di Kalteng dan Kalimantan Selatan.
Lewat bukunya, Rinco berharap akan semakin banyak orang yang mau peduli terhadap pelestarian hutan. Direktur CV Daya Kreatif Eka Dolok Martimbang, penerbitnya, mengatakan, ”Kami sungguh mengapresiasi kepedulian dan kesungguhannya untuk melestarikan hutan di Mangkatip.” -C Anto Saptowalyono-

Readmore »»