Tampilkan postingan dengan label FauNa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FauNa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Mei 2009

FAUNA - Singa Kawin di Tsavo Resto

KOMPAS, Selasa, 5 Mei 2009 04:49 WIB
Entah bagaimana caranya, tercatat sudah 135 pekerja rel kereta api Kenya-Uganda Railway itu satu-satu tewas berantakan dibunuh singa buas telengas Afrika. Baru pada Desember 1898, Letkol John Henry Patterson selama dua mingguan berhasil menembak mati kedua satwa pembunuh, si Ghost dan sang Darkness, karena kedua singa jantan besar tersebut muncul dan hilang macam setan dan roh kegelapan di perkemahan karyawan di tepian kali Tsavo di Kenya.


Kisah nyata singa Tsavo begitu tenar karena pemegang rekor pembunuhan pekerja rel asal India dan penduduk lokal sejumlah 135 jiwa, hingga diabadikan sebagai novel kisah nyata dan film Hollywood, The Ghost and the Darkness (1996). Kedua bangkai singa itu pun kini diabadikan menjadi singa opsetan di Museum Chicago Filed sejak tahun 1924.

Saking ternamanya kisah singa dari Tsavo yang maneaters alias pemakan manusia yang sudah 110-an tahun lalu, kini sejak tahun 2007, di Gianyar, Bali, pun ada Tsavo Lion Restaurant yang keren di dalam kompleks Bali Safari Marine Park (BSMP). Resto penyedia hidangan dapur Barat, memajang lima ekor singa hidup asal Afrika di sisi ruangan puluhan meja kursi, hanya berbatas kaca tebal pelindung agar keluarga singa buas itu tidak nyelonong ikut makan di dalam resto.

Unikum resto dengan hiasan lima ekor singa yang doyan daging segar memang dirancang dengan perhitungan keamanan, serta kadar hiburan dan pendidikan ”singanologi” bagi tamu penikmat hidangan makanan siang dan malam, serta meneguk minuman segar. ”Singa itu bukan keturunan Ghost dan Darkness, tetapi sama-sama asal Afrika. Penyantap dan tamu kami kebanyakan tertarik, karena selain makan enak juga ada pelajaran mengamati perilaku singa liar, hanya sebatas beberapa meter atau beberapa puluh sentimeter di hadapannya,” kata pimpinan BSMP, Hans Manansang (38), sambil menjelaskan perilaku hewan itu tengah April lalu.

”Di samping resto ada jantan Tata dengan keempat ekor harem betinanya. Nanti jangan terkejut kalau ke toilet pria, di sana kami lepas dengan aman singa jantan Kofi dekat jendela wastafel,” tutur Hans yang menjelaskan kehadiran kelompok singa itu paling tepat, karena hanya keluarga mamalia besar Afrika berintelegensia cukup tinggi, sehingga tidak akan agresif dan menabrak kaca tebal, melanggar pagar kawat beraliran listrik, atau berenang di kolam atau meloncati benteng pembatas berupa gunung-gunung batu.

Kawin 36 kali sehari

Kawanan singa (Panthera leo) di samping resto itu, menurut Hans, tidak jelas asal usulnya. Sebab, singa memang pribuminya Afrika yang dulu hidup menyebar hingga ke Asia Kecil sampai ke hutan Gir di India. Namun, beberapa jenis singa mulai hilang, terutama singa pemukim hutan dari Maroko sampai Mesir. Begitu pun nasib singa asal tanjung selatan Afrika, termasuk singa Persia yang sudah tidak ditemukan lagi sisa hidupannya di Iran dan Irak.

Sebagai pemuda yang besar dalam keluarga Taman Safari Indonesia, Hans menuturkan soal singa afrika terkenal macam singa masai (P l massaicus), singa senegal (P l senegalensis), singa angola (P l bleyenberghi) dan singa tranvaal (P l krugeri). ”Singa peliharaan kami kemungkinan besar asal beberapa taman nasional. Orangtua kami memperolehnya legal sejak 20-an tahun lalu, lalu dikembangbiakkan dan sebagian kami pelihara di Bali,” tutur Hans yang lulusan ilmu komputerisasi Amerika Serikat.

Entah minta makan atau lagi gembira, Tata yang berpoligami empat betina tiba-tiba mengaum keras dan keras sekali. Wajah sangarnya agak mendongak dan kelihatan kokoh lehernya yang penuh bulu kuduk gondrong. Suara auman yang meraung dan menderam campur dengungan bergeletar, sungguh dahsyat menyeramkan.

Di antara mamalia ”kucing besar”(big cats), singa satu-satunya yang punya suara auman keras. Menurut penelitian, auman singa bisa terdengar sejauh 8 kilometer, sebagai tanda penguasaan teritorial, tantangan bagi musuh, atau panggilan kangen berahi bagi betinanya.

”Kalau ada singa betina berahi, si Tata terus mendekati dan ngawinin betinanya. Kami pernah catat, seharian dari pagi sampai pukul 21.00, Tata mampu kawin atau kopulasi betinanya sampai 36 kali, ya 36 kali dalam tempo 12 jam,” ujar Hans sambil mengisahkan singa koleksi resto sudah punya dua anakan, juga Tata sudah membuntingi betina lainnya.

”Aumannya bikin tamu kaget tapi senang. Juga kalau Tata kawin di balik kaca tanpa tedeng aling-aling, tamu ada yang malu-malu tapi ada yang heran melihat singa betina mengaum-aum kalau sudah klimaks kawinnya,” ujarnya.

Secara umum, perilaku singa dalam penangkaran mengalami perubahan. Paling tidak, menurut Hans, naluri membunuh mangsa tidak seganas di alam asli. Namun, perilaku sosial kawanan singa yang rata-rata makan sekitar 4 kilogram daging per hari masih tetap guyub berkumpul dan dikepalai singa betina utama, tentu dengan pejantan utamanya yang kepala kelompok dan singa residen yang mempertahankan teritorial dan keluarganya.

Diperhitungkan masa bunting singa sekitar 105 hari, jadi tidak lama akan lahir anakan singa baru, hasil perkawinan Tata yang terang-terangan ditonton Hans Manansang bersama tamunya. Singa liar di samping Resto Tsavo memang singa unik. Sebab, menjadi obyek studi pemerhati amatiran ”singanologi”, atau penonton adegan singa kawin yang mengeluarkan suara puasnya, aum! (RUDY BADIL, Wartawan Senior di Jakarta)

Readmore »»

Rabu, 29 April 2009

Pencurian - Flora dan Fauna TNMB Terancam

KOMPAS, Rabu, 29 April 2009 15:10 WIB
JEMBER - Taman Nasional Meru Betiri telah didukung dengan larangan tegas mengambil apalagi menjarah dan merusak flora dan fauna dalam kawasan itu. Namun, larangan tersebut tetap saja dilanggar.

Salah satu contohnya, polisi hutan TNMB, Minggu (26/4), menangkap Sadikan alias P Ivan. Warga Kebun Pantai Bandealit, Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, Jember, itu ditangkap saat ia keluar dari kawasan TNMB dengan bawaan berupa getah pohon bendo (Artocarpus elasticus).
Kepala Tata Usaha TNMB Sumarsono di Jember, Senin (27/4), mengakui, getah pohon bendo yang dicuri tersangka sekitar 10 kilogram. Barang curian itu dimasukkan ke dalam karung dan kemudian diangkut dengan truk ke luar kawasan. Penangkapan tersangka merupakan hasil operasi gabungan tim TNMB bersama aparat terkait pada Minggu pagi. "Kepada petugas, tersangka mengakui barang bukti berupa getah itu miliknya," kata Sumarsono.
Kerugian negara akibat pencurian getah pohon bendo itu hanya sekitar Rp 300.000. Namun, dari sisi konservasi bisa merusak ekosistem hutan. Akibat lainnya, daerah resapan air berkurang, terjadi perubahan iklim mikro, menimbulkan kelangkaan jenis pohon, serta berakibat banjir. Pohon bendo itu, kata Sumarsono, jika sudah diambil getahnya akan mati.
Getah sekitar 10 kg itu merupakan hasil menyadap lebih dari satu pohon bendo. Petugas telah mengamankan pelaku beserta barang bukti 10 kg getah pohon bendo dan truk pengangkutnya.

Readmore »»

Selasa, 14 April 2009

SATWA DILINDUNGI - BKSDA Bengkulu Lepas Tujuh Trenggiling

KOMPAS, Sabtu, 11 April 2009 04:50 WIB
Bengkulu - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu, Rabu (8/4), melepas tujuh trenggiling (Manis javanica) ke habitatnya di Cagar Alam Taba Penanjung, Bengkulu Utara. Sebelumnya, satwa dilindungi tersebut diamankan sebagai barang bukti atas penangkapan pedagang hewan langka, LP (40). di Bengkulu.


Kepala Bagian Tata Usaha Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Supartono di sela-sela pelepasan mengatakan, satwa tersebut tidak bisa berlama-lama berada di dalam kandang karena bisa mengakibatkan kematian. ”Makanannya berupa semut dan hewan kecil lainnya yang lumayan susah didapat. Jadi, kami langsung melepas ke habitatnya,” katanya.

Pelepasan tujuh ekor satwa tersebut juga disaksikan tiga personel Polda Bengkulu yang dipimpin AKP Hari Irawan. ”Kami ikut menyaksikan pelepasan satwa ini ke habitatnya setelah diambil data dan dokumentasi sebagai barang bukti,” katanya.

Sesaat setelah dilepaskan, tujuh ekor satwa yang dilepas ke habitatnya itu langsung menuju hutan cagar alam dan sebagian memanjat pohon untuk mencari makanan.

Aktivis LSM ProFauna Indonesia, Tri Prayudhi, mengatakan, dengan kasus ini, seharusnya pihak BKSDA Bengkulu lebih fokus dalam mengawasi aktivitas pengumpul dan penangkap satwa.

Dari data yang ada, tersangka LP merupakan salah satu dari 12 pengumpul dan penangkap satwa yang memiliki izin dari BKSDA. Sebenarnya izinnya untuk satwa yang tidak dilindungi.

Readmore »»

Kamis, 19 Maret 2009

Pengenalan Satwa - Mengajarkan Kepedulian Anak

KOMPAS, Senin, 16 Maret 2009 13:56 WIB
Yogyakarta - Sekitar 75 anak Dusun Goser, Kelurahan Sumberrahayu, Moyudan, Sleman, mengikuti kegiatan pengenalan satwa pada Minggu (15/3). Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kepedulian dan rasa sayang sejak dini kepada anak-anak.


Kegiatan bertema "The Children's of Heaven" ini diselenggarakan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPKM) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada dan kelompok ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Dusun Goser.

"Kegiatan ini pada dasarnya menumbuhkan rasa sayang pada binatang. Harapannya mereka nantinya peduli dan ikut melestarikan habitat binatang itu," kata Koordinator KKN PPKM Sub-unit Dusun Goser Eko Wahyu Saputra.

Anak-anak peserta kegiatan yang berusia kurang dari 12 tahun tersebut diajak melihat, menyentuh, dan bermain dengan sejumlah binatang anjing, kucing, biawak jawa, landak albino asli Madagaskar, belut, dan lima macam ular. "Saya belum berani pegang ular, tapi sudah tidak takut lagi melihatnya," kata pelajar kelas IV, Rifka Yuniken Sari (10).

Selain kegiatan pengenalan, acara diisi dengan penyuluhan tata cara hidup sehat dengan satwa. Dokter Hewan dari FKH UGM, Slamet Rahardjo, mengatakan, kebersihan adalah kunci utama untuk mencegah penularan penyakit menular dari binatang. "Sebagian besar penyakit dari binatang ditularkan lewat mulut. Untuk cegah penularan, cukup dengan mencuci bersih tangan dengan sabun, terutama sebelum makan," katanya.

Penularan juga perlu dicegah melalui pola makan yang sehat, yaitu dengan mengonsumsi daging yang benar-benar telah matang dimasak serta mencuci lalapan dengan air mengalir. "Ini sangat penting karena 80 persen penularan toksoplasma dari daging setengah matang dan lalapan," ujar Slamet.

Menurut Slamet, sejumlah penyakit yang berpotensi menular dari binatang ke manusia di antaranya toksoplasma yang ditularkan oleh kucing dan sapi serta brucellosis yang ditularkan oleh sapi. Kedua penyakit ini bisa mengakibatkan keguguran dan cacat pada janin.

Readmore »»

Selasa, 17 Maret 2009

Harimau Dititipkan

Tim Dokter Merawat Hewan Itu
KOMPAS, Senin, 16 Maret 2009 05:10 WIB
Petugas mengevakuasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae ) di Desa Manalu Purba, Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara, Sabtu (14/3). Harimau yang bernama Danau ini dievakuasi tim gabungan BBKSDA dan sejumlah organisasi nonpemerintah dari jebakan yang dibuat warga.

Medan - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara menitipkan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) hasil jeratan warga ke Taman Hewan, Kota Pematang Siantar. Selama penitipan, tim dokter merawat harimau ini yang luka di bagian kaki depan.

”Kami menitipkan sementara di Taman Hewan Pematang Siantar. Di tempat ini harimau akan menjalani perawatan sampai di sembuh,” kata Kepala Seksi Perlindungan, Pengawetan, dan Perpetaan BBKSDA Sumut Olo Simbolon, Minggu (15/3) di Medan.

Harimau yang bernama Danau (sesuai dengan nama kampung tempat dia dijerat warga di Kabupaten Tapanuli Utara) dalam kondisi stres dan terluka. Dua kaki depan mengalami luka jerat serius dari tali rem sepeda motor. Luka terparah ada di bagian kaki kiri harimau karena sudah infeksi.

Sebelum dievakuasi dari jerat warga, tim evakuasi membius Danau untuk kemudian diangkut melalui perjalanan darat. Tim tiba di Taman Hewan, Pematang Siantar, Minggu pukul 01.30. Mereka yang mengevakuasi terdiri dari BBKSDA Sumut, Vesswic (perhimpunan dokter hewan satwa liar Sumatera), Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP), dan Wildlife Conservation Society (WCS).

Danau merupakan harimau liar yang terjerat jebakan warga di Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara, akhir pekan lalu. Warga sengaja menjeratnya karena belakangan sering menjumpai tapak harimau di dekat permukiman mereka. Sejumlah ternak warga mengalami luka akibat serangan harimau. Sebulan sebelumnya, seekor harimau lepas dari jerat warga tidak jauh dari lokasi ini. Belum dipastikan apakah harimau yang terjerat ini merupakan harimau yang lepas sebelumnya atau tidak.

Perawatan dokter

Selama di Taman Hewan, Danau menjalani perawatan dari tim dokter hewan setempat dan Vesswic Sumatera Utara. Tim dokter kembali membius ulang Danau untuk membersihkan luka hewan itu.

Dokter hewan Wiwin Winarni dari Taman Hewan mengatakan, luka kaki Danau terinfeksi. ”Lukanya perlu dibersihkan. Kami juga menginfusnya pada saat pengobatan,” ujarnya.

Readmore »»

Jumat, 13 Maret 2009

Bank Dunia Peduli Harimau

Jumlahnya Tinggal 250 Ekor
KOMPAS, Jumat, 13 Maret 2009 05:42 WIB

Medan - Bank Dunia membantu program penyelamatan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Keterlibatan Bank Dunia ini dilakukan dalam bentuk program kegiatan penyelamatan. Bank Dunia juga bekerja sama dengan kalangan LSM.


”Kami ingin menjalin kerja sama dengan banyak pihak, termasuk organisasi nonpemerintah dan pemerintah lokal. Kerja sama ini diperlukan dalam rangka penyelamatan harimau yang hampir punah,” kata seorang perwakilan Bank Dunia, Mahendra Shrestha, Kamis (12/3), seusai pertemuan dengan pemangku kepentingan dari organisasi nonpemerintah dan unsur pemerintah di Kantor Yayasan Leuser Internasional, Medan.

Isu penyelamatan ini penting karena belakangan marak terjadi perdagangan organ harimau. Praktik ini terjadi antarnegara. Karena itu, perlu komitmen bersama untuk mengurangi perdagangan satwa liar ini. ”Bank Dunia menaruh perhatian dalam persoalan ini. Penyelamatan harimau merupakan isu penting. Jadi, investasi di sebuah negara tidak boleh semata-mata membangun tanpa memerhatikan persoalan lingkungan,” kata Mahendra.

Mahendra tidak bersedia menyebut nilai bantuan dalam bentuk uang. Bantuan Bank Dunia, katanya, dilakukan dengan memfasilitasi semua lembaga yang berkepentingan.

Selanjutnya, Bank Dunia akan bekerja sama dengan Forum Harimau Kita, yaitu sebuah lembaga yang terdiri dari 15 organisasi nonpemerintah dan instansi pemerintah.

Ketua Forum Harimau Kita Hariyo Tabah Wibisono mengatakan, keterlibatan Bank Dunia juga dilakukan di semua negara yang masih mempunyai populasi harimau.

Di Indonesia belum ada data terbaru tentang keberadaan harimau sumatera. Hariyo mengatakan, keberadaan harimau sumatera kini tersebar di 18 lokasi hutan di Pulau Sumatera. Sejauh ini Wildlife Conservation Society (WCS) telah memetakan keberadaan harimau itu di delapan lokasi.

”Untuk sementara, data kami menyebutkan jumlah harimau sumatera itu paling sedikit ada 250 ekor di delapan lokasi tadi. Data ini masih akan kami perbarui karena belum ada identifikasi jumlah di sepuluh lokasi lain,” tutur Hariyo.

Delapan lokasi yang sudah teridentifikasi ada harimau sumatera, di antaranya, adalah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBS), Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), dan Taman Nasional Tesso Nillo (TNTN). Salah satu lokasi, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), disebut-sebut sebagai tempat populasi terbesar harimau sumatera saat ini.

Pertemuan dengan Bank Dunia ini juga dihadiri perwakilan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut. Kepala BBKSDA Sumut Djati Witjaksono Hadi mendukung penyelamatan ini. Pemerintah dalam hal ini lembaganya sudah menyiapkan langkah penyelamatan.

Readmore »»

Harimau - Gubernur Jambi Perintahkan Penangkapan

KOMPAS, Jumat, 13 Maret 2009 05:27 WIB
Jambi - Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin menginstruksikan Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA untuk sesegera mungkin memasang perangkap guna menangkap harimau sumatera yang masih berkeliaran di dalam hutan di Jambi. Rencana tersebut langsung mengundang kecaman dari kalangan aktivis lingkungan.


”Penanganan terhadap harimau yang telah menewaskan korban manusia sudah jelas. Harimau harus ditangkap,” ujar Zulkifli, Kamis (12/3).

Menurut Zulkifli, kebijakan ini dilakukan karena undang-undang menyatakan bahwa harimau tidak boleh dibunuh sehingga diambil jalan keluar supaya harimau ditangkap saja.

Setelah ditangkap, harimau akan dimasukkan ke Kebun Binatang Taman Rimba, Kota Jambi, untuk dipelihara. Pihaknya berencana menganggarkan biaya pemeliharaan harimau dalam Anggaran Biaya Tambahan Provinsi Jambi.

”Akan kita cari dari sektor mana penganggaran tersebut dapat diambil,” ujarnya.

Bila tidak memungkinkan, pihaknya berencana menggandeng lembaga swadaya masyarakat untuk membantu biaya pemeliharaan satwa liar tersebut. ”Biaya pemeliharaan dan makan satu ekor harimau diperkirakan Rp 400.000 per bulan. Jika harimaunya ada empat, berarti kebutuhannya Rp 1,6 juta per bulan,” ujarnya.

Kepala BKSDA Jambi Didy Wurjanto mengatakan, pemasangan jerat tidak akan dilakukan selama harimau masih berada dalam teritorinya. Selama ini justru manusialah yang memasuki teritori harimau dan membalak serta merambah hutan. Tindakan manusia tersebut sebagai penyebab tindakan agresif harimau belakangan ini.

”Hanya jika harimau sudah memasuki wilayah permukiman masyarakat, kami baru akan mengamankan. Tetapi, selanjutnya harimau akan dilepas ke habitatnya kembali,” tutur Didy.

Artis yang juga aktivis lingkungan, Franky Sahilatua, yang berkunjung ke Jambi, Kamis, mengecam rencana tersebut. ”Manusia yang merusak hutan itulah yang seharusnya ditangkap. Ini, kok, malah harimau yang mau ditangkap. Harimau, kan, memang hidupnya di hutan,” tuturnya.

Direktur Eksekutif Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Rakhmat Hidayat mengatakan, Gubernur semestinya tidak menginstruksikan penangkapan harimau dalam hutan. Rencana itu bertentangan dengan undang-undang mengenai konservasi.

Readmore »»

Rabu, 11 Maret 2009

SATWA DILINDUNGI - BKSDA Lampung Terima Tiga Kucing Hutan

KOMPAS, Kamis, 12 Maret 2009 04:33 WIB
Bandar Lampung - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Lampung menerima tiga kucing hutan (Felis bengalensis) dari seorang warga di Bandar Lampung. Kucing hutan yang tergolong satwa dilindungi tersebut akan segera dilepasliarkan di habitat aslinya di hutan Sumatera setelah dilakukan perawatan.


Wakil Koordinator Polisi Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung Haryanto, Rabu (11/3), mengatakan, tiga kucing hutan tersebut terdiri atas satu induk dan dua anak kucing. ”Sebetulnya anak kucing hutan itu ada tiga, tetapi yang satu mati,” ujarnya.

Kucing hutan tersebut ditemukan Muhidin, warga Jalan Urip Sumoharjo 222, Bandar Lampung, saat sedang bermain di rumah kawannya di daerah Sukabumi pada Senin (9/3). Kebetulan di dekat rumah kawannya tersebut terdapat kebun kosong.

”Saya melihat induk kucing itu sedang menyusui ketiga anaknya sekitar pukul 14.00. Saya ambil karena saya tahu itu kucing dilindungi,” ujar Muhidin.

Menurut Muhidin, kawannya yang bernama Budiono juga mengetahui bahwa ketiga kucing tersebut tergolong satwa dilindungi. Budiono menghubungi BKSDA Lampung dan melaporkan penemuan itu serta meminta BKSDA mengambil kucing hutan tersebut.

”Karena laporan tersebut, kami datang untuk mengambil induk kucing dan dua anak kucing temuan Muhidin,” ujar Haryanto.

Saat ditemukan, kondisi kucing tersebut sangat memprihatinkan. Induk dan anak kucing terlihat kurus dan kotor. Pada penyerahan hari Rabu, induk kucing mulai terlihat gemetaran karena dua hari belum mendapat makanan.

Suparlan, polisi hutan yang turut menerima kucing hutan tersebut, mengatakan, ketiga kucing yang masih hidup itu akan dibawa ke BKSDA Lampung untuk dirawat. Setelah pulih dan cukup kuat, ketiga kucing tersebut akan dilepasliarkan di habitat asli kucing hutan.

Menurut Haryanto, ada beberapa pilihan lokasi pelepasliaran di Lampung, di antaranya di kawasan hutan lindung Register 39 Batutegi, yang memang dikenal sebagai lokasi pelepasliaran satwa liar pascaperawatan dan pemulihan satwa-satwa dilindungi hasil razia atau tangkapan BKSDA Lampung. Selain itu, pelepasliaran juga bisa dilakukan di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) atau Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Kucing hutan merupakan satwa yang dilindungi pemerintah. Kucing hutan hidup dengan cara memangsa mamalia kecil, seperti burung atau hewan pengerat. Kucing hutan juga dikenal sebagai pemanjat pohon yang sangat lincah.

Readmore »»

Selasa, 10 Maret 2009

Penyelundupan Satwa Liar Digagalkan

KOMPAS, Rabu, 11 Maret 2009, 05:38 Wib
Rencana penyelundupan sejumlah satwa liar menggunakan pesawat komersial, Minggu (8/3), digagalkan petugas Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang.
Berbagai jenis satwa liar itu dikemas ke dalam empat koper dan tas yang meliputi 3 ekor kukang (Nycticebus coucang), 16 ekor burung beo (Gracula religiosa), 8 ekor burung punai, serta masing-masing seekor nuri merah kepala hitam (Lorius lory), kakatua maluku (Cacatua moluccensis), kakatua tanibar (Cacatua gofini), nuri hijau, nuri merah, dan kakatua putih (Cacatua alba). Petugas BC bekerja sama dengan Forum Satwa Liar Jakarta dalam upaya penggagalan oleh tiga tersangka berkebangsaan Arab Saudi yang hingga kini tidak ditahan atas jaminan pihak kedutaan negara itu. ”Pelaku penyelundupan harus ditindak tegas,” ujar Pramudya Harzani dari Jakarta Animal Aid Network yang tergabung dalam Forum Satwa Liar Jakarta.

Readmore »»

100.000 Ha Teritori Harimau Dirusak

Di Sumsel, 8.333 Ha Hutan Hilang Setiap Bulan
Selasa, 10 Maret 2009 05:55 WIB

JAMBI, KOMPAS — Hampir 100.000 hektar areal hutan produksi yang menjadi habitat harimau sumatera di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, telah dirusak perambah dan pembalak liar. Kondisi itu yang menyebabkan maraknya konflik antara harimau dan manusia dua bulan terakhir ini.


Hunian harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Muaro Jambi adalah hutan produksi hak pengusahaan hutan (HPH) Putra Duta seluas 35.000 hektar (ha) dan eks HPH Rimba Karya Indah (RKI) sekitar 50.000 ha. Hanya dua tempat itulah yang masih cocok untuk harimau mencari makanan dan berkembang
biak karena hutan di sekitarnya telah menjadi hutan tanaman industri (HTI) dan perkebunan sawit.

Taman Nasional Berbak yang tak jauh dari lokasi itu juga kurang memungkinkan menjadi hunian harimau karena kondisinya yang penuh rawa.

”Hunian harimau hanya tinggal hutan produksi, tetapi sudah rusak karena marak perambahan dan pembalakan oleh manusia. Harimau juga tidak bisa pindah
karena telah dikepung HTI dan perkebunan sawit. Harimau terjepit di sekitar hutan produksi itu,” tutur Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi
Didy Wurjanto, Senin (9/3).

Didy memastikan, meningkatnya konflik antara harimau dan manusia, yang mengakibatkan sembilan orang meninggal diterkam selama sebulan ini, disebabkan
perusakan hutan. Kepal Subdinas Perencanaan Dina Kehutanan Provinsi Jambi Daru Pratomo mengemukakan, areal eks HPH Putra Duta dan RKI paling rawan dirambah dan dibalak karena tidak ada penjagaan ketat di dua lokasi itu.

Izin HPH untuk RKI telah dicabut tiga tahun lalu. Saat ini ada dua perusahaan yang sedang mengajukan pemanfaatan hutan produksi itu menjadi HTI, yaituPT Pesona Belantara dan PT Rimbun Persada. Sementara Putra Duta yang masih mengantongi izin HPH tidak memanfaatkan hutan seluas 35.000 hektar.

Serangan harimau di wilayah perbatasan Jambi dan Sumatera Selatan, kata Manajer Pengembangan Sumber Daya Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel Hadi Jatmiko, merupakan gambaran fenomena gunung es permasalahan kerusakan hutan di dua provinsi bertetangga itu. Walhi Sumsel mencatat, kerusakan hutan di Sumsel sekitar 8.333 ha per bulan.

”Tiga tahun ini kerusakan hutan di Sumsel 100.000 hektar atau setiap bulan 8.333 hektar. Saat ini luas hutan Sumsel tinggal 1,21 juta hektar. Dalam 10 tahun, jika terus seperti ini, hutan di Sumsel bakal habis,” kata Hadi di Palembang, Senin.

Hadi menyebutkan, kerusakan hutan disebabkan alih fungsi lahan dari hutan alam menjadi perkebunan, terutama kelapa sawit dan karet. Masalah lain adalah penebangan hutan secara liar. Hingga saat ini pemerintah pusat dan daerah juga masih terus mengeluarkan izin pengelolaan hutan kepada perusahaan swasta.

Di lokasi terbunuhnya sembilan warga oleh harimau di perbatasan Jambi dan Sumsel terdapat empat perusahaan yang membabat hutan. Setiap hari puluhan truk keluar-masuk hutan mengangkut kayu.

Readmore »»

Selasa, 03 Maret 2009

Kasus Amukan Harimau Meningkat

KOMPAS, Rabu, 04 Maret 2009, 04:42 Wib
Amukan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di wilayah Sumatera Utara cenderung meningkat.
Dua tahun terakhir terdapat tujuh kasus konflik antara harimau dan manusia. Tiga kasus di antaranya terjadi tahun 2007 dan empat kasus lain terjadi tahun 2008. ”Semua kasus ini terjadi ketika harimau masuk ke permukiman warga. Mereka (harimau) menyerang hewan ternak warga. Hanya satu kasus serangan harimau melukai manusia,” tutur Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut Djati Widjaksono Hadi di Medan, Selasa (3/3). Berdasarkan data BBKSDA Sumut, kasus konflik harimau dengan manusia umumnya terjadi pada pertengahan tahun sampai akhir tahun.

Readmore »»

Senin, 02 Maret 2009

Harimau Terkam Dua Pembalak

Korban Sudah Delapan Orang
KOMPAS, Selasa, 3 Maret 2009 05:59 WIB

Jambi - Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) kembali menerkam dua pembalak liar hingga keduanya tewas. Dengan demikian, dalam lima pekan terakhir, setidaknya delapan orang diterkam harimau pada kawasan yang berdekatan di perbatasan Jambi-Sumatera Selatan.


Para korban, dua bersaudara Musmuliadi (31) dan Musliadi (30), tewas diterkam pada Senin (2/3) dini hari di pondokan yang mereka bangun di dekat kanal gambut. Mereka adalah pembalak liar kayu di area hutan produksi Desa Muara Medak, Bayung Lencir, Musi Banyuasin, yang berbatasan dengan Jambi.

Dengan tewasnya dua pembalak tersebut, berarti telah delapan orang yang menjadi korban terkaman harimau sumatera. Sebagian besar dari mereka adalah pembalak dan perambah liar dari luar Jambi.

Mereka beroperasi di sana karena dibayar oleh sejumlah cukong kayu. Meski demikian, kegiatan mereka yang ilegal tersebut sangat jarang teridentifikasi.

Oleh karena itu, menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jambi Didy Wurjanto, rentetan peristiwa konflik harimau dan manusia telah membuka mata bagi pihaknya untuk mengetahui secara lebih jelas akan parahnya aktivitas pembalakan liar di hutan produksi.

Terusik

Setelah dicek, kata Didy, ada lebih dari 20 tempat penggergajian (sawmill) yang beroperasi dalam satu lokasi saja. Semua kayu curian dialirkan lewat kanal-kanal gambut. Padahal, kanal tersebut merupakan sumber air minum bagi harimau. ”Kami menduga harimau merasa terusik oleh aktivitas manusia di hutan yang merupakan teritorinya tersebut,” tutur Didy.

Menanggapi banyaknya kasus harimau menerkam manusia belakangan ini, Co-Project Manager Zoological Society of London Indonesia Project Dolly Priatna mengatakan, fenomena tersebut lebih sebagai bentuk upaya beradaptasi dengan perubahan dalam hutan sebagai hunian mereka. Harimau sebenarnya cenderung menjauh dari wilayah manusia.

Di Sumatera Barat, masyarakat Nagari Durian Tinggi, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, meminta pemerintah semakin gencar menyosialisasikan masalah satwa liar yang dilindungi.

Penjelasan itu diperlukan setelah seorang warga, Syarifuddin (53), tertangkap karena hendak menjual kulit dan tulang harimau.

Wali Nagari Durian Tinggi Ardianto, Minggu, mengatakan, pengetahuan tentang satwa dilindungi ini dibutuhkan karena hampir semua warga bekerja sebagai petani di hutan-hutan. ”Ladang warga berada di perbukitan. Karena itu, mereka kerap bertemu dengan hewan liar, seperti beruang madu dan harimau sumatera.”

Readmore »»

Fauna - Keanekaragaman Katak Belum Dikenal

KOMPAS, Senin, 2 Maret 2009 16:13 WIB
Bandung - Keanekaragaman dan keunikan katak di Indonesia belum dikenal masyarakat. Keanekaragaman itu bisa menyelamatkan berbagai jenis katak dari kepunahan.


Demikian dikatakan herpetolog (peneliti katak) dari Sekolah Ilmu Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Djoko Tjahjono Iskandar, dalam lokakarya tentang katak di Kebun Binatang Bandung, Jumat (27/2). Djoko mengatakan, katak memiliki peranan penting dalam rantai makanan serta merupakan indikator perubahan iklim dan cuaca. Cacat atau hilangnya jenis katak tertentu bisa menjadi indikasi kerusakan lingkungan.

Selain itu, katak juga memiliki banyak keunikan, di antaranya warna, ukuran, dan struktur tubuh. Hal itu, menurut Djoko, bisa dipublikasikan baik sebagai lambang daerah maupun taman nasional. Setelah dikenal masyarakat, ekosistem dan keberlangsungan hidupnya diharapkan bisa terjaga. Katak darah

Di Indonesia diperkirakan terdapat 400-500 jenis katak, antara lain katak raksasa (Limnonectes blythii) asal Sumatera. Ukurannya terbesar kedua di dunia. Panjangnya bisa mencapai 25 sentimeter dan berat 1,5 kilogram.

Selain itu, ada katak darah dari Gunung Halimun, yaitu katak merah (Leptophryne cruentata). Katak ini satu-satunya di Indonesia yang berwarna merah darah. Hidup juga katak yang tidak memiliki paru-paru, yaitu katak kepala pipih kalimantan (Barbourula kalimantanensis). Usianya diperkirakan lebih dari 50 juta tahun dan hanya ditemukan di Taman Nasional Baka Bukit Raya, Kalimantan Barat.

Minimnya peneliti katak juga memengaruhi perhatian pada katak. Djoko mengatakan, Indonesia hanya memiliki sekitar 20 herpetolog. Akibatnya, data mengenai jenis katak di Indonesia belum lengkap. Diperkirakan saat ini masih banyak katak di Indonesia yang belum diberi nama atau belum diketahui keberadaannya.

Readmore »»

Rabu, 04 Februari 2009

MAMALIA - 8 Paus Terdampar di Mangrove Serangan

KOMPAS, Rabu, 4 Februari 2009 00:53 WIB
Denpasar - Delapan ekor paus ditemukan terdampar dalam kondisi mati di kawasan hutan mangrove di sekitar Pulau Serangan, Denpasar, Bali. Ini merupakan jumlah terbanyak dalam sejarah terdamparnya paus di Bali dalam satu kurun waktu tertentu.


Menurut keterangan peneliti dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Budi Utomo, di Denpasar, Selasa (3/2), kondisi semua paus tertancap di akar-akar mangrove.

”Rata-rata sudah membusuk dan diperkirakan sudah terdampar sepekan terakhir. Memang tidak mudah terlihat karena tersembunyi di bawah, tertancap di akar-akar mangrove. Baru kelihatan apabila air pasang surut,” kata Budi.

Kantor BKSDA Bali menerima informasi tentang paus itu hari Minggu (1/2) dari anggota Yayasan Bahtera Nusantara, sebuah yayasan pengelolaan pesisir dan laut berbasis masyarakat di Denpasar. Kedua institusi itu lalu mengecek keesokan harinya. Mereka berjalan 2 kilometer masuk ke hutan mangrove, 500 meter di antaranya daerah berlumpur pada waktu air pasang surut.

”Informasi tersebut terlambat karena ada pengakuan pemancing Serangan yang melihat paus-paus itu sepekan lalu, bahkan ada yang melihat paus tersebut masih hidup. Mereka pikir paus-paus itu akan ke laut ketika air pasang naik,” kata Direktur Yayasan Bahtera Nusantara Wira Sanjaya.

Dari identifikasi, paus-paus tersebut adalah paus pemandu sirip pendek (Short-finned pilot whale/Globicephala macrorhynchus). Tiga ekor berukuran panjang 2,5 meter dengan lingkar badan 2 meter dan lima ekor sisanya lebih besar, estimasi panjang 3-3,5 meter. Paus pemandu sirip pendek merupakan satu dari dua spesies cetacean dari genus Globicephala. Spesies cetacean lainnya adalah paus pemandu sirip panjang (Long-finned pilot whale).

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam, Hayati, dan Ekosistem, satwa liar atau dilindungi yang ditemukan hidup harus dilepaskan kembali ke habitat asalnya. Bila hal itu tidak memungkinkan, dapat dititipkan di suatu lembaga konservasi. (BEN)
Bangkai Paus Jadi Obyek Penelitian
KOMPAS, Kamis, 5 Februari 2009 01:01 WIB
Denpasar - Bangkai paus yang terdampar di hutan mangrove sekitar Pulau Serangan, Denpasar, Bali, dijadikan obyek penelitian mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Selain melihat anatomi tubuh paus, penelitian juga untuk memastikan penyebab terdamparnya paus itu.
Rabu (4/1) pagi sekitar 15 mahasiswa FKH Unud didampingi dosen pembimbing, Nengah Windia, menarik dua dari delapan paus jenis pemandu sirip pendek (Short-finned pilot whale/Globicephala macrorhynchus) ke permukaan. Enam ekor lainnya tidak dapat dipindahkan karena terjepit akar-akar mangrove dan tubuhnya sudah terlalu busuk. Koordinator Perlindungan BKSDA Bali, Budi Adnyana, turut mendampingi penelitian itu.
Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam, Hayati, dan Ekosistem, satwa liar atau dilindungi yang sudah mati harus dimusnahkan dengan dikubur atau dibakar. Namun, hal itu tidak mungkin karena paus- paus tersebut sudah membusuk dan terjebak di bawah.
Mereka akan memeriksa DNA (deoxyribonucleic acid) dan mengambil kerangkanya untuk diteliti anatomi tubuhnya. ”Kami mengambil feses paus untuk mengetahui parasit di tubuhnya,” katanya.
Penyebab terdamparnya paus- paus itu belum bisa dipastikan. Menurut Windia, harus dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahuinya.
Cuaca ekstrem
Budi menyatakan, terdamparnya 8 paus itu terbanyak dalam sejarah di Bali dalam satu kurun waktu tertentu. Biasanya empat paus telah ditemukan mati di pesisir Bali sepanjang Januari lalu. Padahal, biasanya paus terdampar dalam 2-3 tahun sekali. Jenis paus itu antara lain Humpback whale (Megaptera novaeangliae) dan Sperm whale (Physeter macrocephalus).
”Dugaan sementara kami adalah akibat sangat kuatnya arus atau terjadi cuaca ekstrem di perairan sekitar Bali. Ini amat mengganggu proses migrasi biota laut seperti paus-paus itu,” kata Budi.
Muncul dugaan pula paus-paus itu kehilangan arah akibat gangguan sonar kapal ataupun mereka terlalu masuk ke perairan dangkal ketika mengejar pakan.
Paus pemandu sirip pendek juga memiliki ikatan sosial kuat sehingga tidak mungkin meninggalkan anggotanya. Akibatnya, mereka mati terdampar bersamaan di perairan selatan Bali dan terdampar di hutan mangrove sekitar Serangan. (BEN)

Readmore »»

Kamis, 18 Desember 2008

Satwa Dilindungi - Perdagangan Trenggiling Meningkat

KOMPAS Jumat, 19 Desember 2008 00:17 WIB (NDY)
Medan - Perdagangan ilegal trenggiling (Manis javanica) terus meningkat di wilayah Indonesia. Akibatnya,

hewan bersisik ini terancam punah populasinya.
”Tahun ini kami menangani delapan kasus perdagangan trenggiling. Jumlah ini meningkat dari tahun lalu yang jumlahnya hanya beberapa saja (tidak sampai delapan kasus),” tutur Direktur Penyidikan dan Perlindungan Hutan (PPH) Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Awriya Ibrahim di sela-sela semiloka tentang kejahatan satwa liar dilindungi, Kamis (18/12) di Medan.
Awriya mengatakan, perdagangan trenggiling di Indonesia terpusat di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan. Di daerah inilah, katanya, pintu perdagangan trenggiling dalam negeri maupun ke mancanegara berlangsung.
”Trenggiling banyak diburu para pedagang karena nilai ekonominya tinggi,” kata Awriya. Di antara negara tujuan yang paling banyak adalah China dan sebagian negara-negara di Asia Tenggara. Penyitaan trenggiling ini umumnya tidak dilengkapi dengan surat-surat resmi. Perdagangan trenggiling hanya bisa diperbolehkan jika berasal dari penangkaran resmi binaan pemerintah.
Kasus terakhir yang belakangan menarik perhatian adalah terbongkarnya perdagangan trenggiling di Palembang sebanyak 13 ton. Kasus lain terjadi di Banjarmasin, Medan, Bali, dan Surabaya.
Kepala Balai Besar Sumber Daya Alam Sumut Djati Witjaksono Hadi mengatakan, sejumlah kasus perdagangan ilegal trenggiling melibatkan petugas di lapangan. Mereka sengaja memanfaatkan lobi petugas untuk meloloskan praktik ilegal di pintu keluar Sumut.
”Kami sekarang menangani tempat penangkaran yang tidak memiliki kelengkapan dokumen di Serdang Bedagai,” kata Djati.
Trenggiling bisa menjadi bioindikator kesuburan tanah karena hewan ini pemakan semut dan rayap.
Nama ilmiah trenggiling memakai javanica karena awal penemuan hewan ini ada di hutan hujan tropis di Jawa. Lantaran terdesak permukiman, konsentrasi habitat trenggiling ada di Kalimantan dan Sumatera.

Readmore »»