Minggu, 15 Februari 2009

Satwa Liar - Sporc Kejar Pencuri Bayi Harimau

Jumat, 13 Februari 2009 01:28 WIB
Jambi, Kompas - Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat atau Sporc menelusuri pencuri bayi harimau dari dalam kawasan eks hak pemanfaatan hutan Rima Karya Indah, Kabupaten Muaro Jambi. Induk harimau tersebut kini dikarantina di Kebun Binatang Taman Rimbo Jambi guna menghindari berlanjutnya perburuan satwa liar tersebut.

”Kami telah mengirim Sporc untuk terus melacak pelaku pencurian dan penjualan bayi harimau. Si bayi harus ditemukan dan dikembalikan kepada induknya,” ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi Didi Wurjanto, Kamis (12/2).

Menurut Didi, tewasnya tiga warga Sungai Gelam dan Pematang Raman di Muaro Jambi oleh terkaman induk harimau akibat kemarahan harimau setelah mengetahui bayinya dicuri orang. Pencurian bayi harimau diperkirakan terjadi saat sang induk tengah pergi berburu makanan di tempat lain.

Pada Kamis kemarin, induk betina harimau telah dipindah ke Kebun Binatang Taman Rimbo Jambi setelah sehari sebelumnya masuk jebakan yang dipasang tim BKSDA dalam hutan. Lalu, harimau itu diangkut dengan truk menempuh perjalanan hampir enam jam menuju Kota Jambi.

Aktivis konservasi harimau sumatera, Debby Martyr, menilai, tindakan BKSDA Jambi untuk mengarantina harimau tersebut sudah sesuai dengan strategi konservasi. ”Kami memang tidak bisa lagi terlalu romantis. Keberadaan harimau berdekatan dengan manusia. Ini dapat membahayakan manusia, juga membahayakan harimau itu sendiri dari perburuan liar,” ujarnya.

Debby menambahkan, pemerintah selanjutnya perlu mempertimbangkan kawasan yang cocok untuk harimau tersebut dilepaskan sehingga dapat hidup aman tanpa gangguan manusia.

Ia memperkirakan populasi harimau sumatera kurang dari 400 ekor. Jambi memiliki kawasan konservasi harimau, di antaranya Taman Nasional Berbak, Taman Nasional Bukit Tigapuluh, dan Taman Nasional Kerinci Seblat. (ITA)

Readmore »»

Jual Bagian Binatang Ditangkap

KOMPAS, 13 Februari 2009, 01:01 Wib
Polda Metro Jaya, Kamis (12/2) pukul 11.00, menangkap para pedagang di Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, yang menjual bagian organ hewan yang dilindungi. Bagian-bagian dari binatang itu adalah
kepala dan kulit macan tutul, rahang hiu, gading dan gigi gajah, serta kulit beruang. Barang-barang itu dijual dengan harga Rp 10 juta-Rp 15 juta. Dari empat toko, polisi menangkap empat tersangka. Mereka dijerat UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Pasal 40 Ayat 2 juncto Pasal 21 Ayat 2b KUHP, dengan hukuman lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Demikian dikatakan Kepala Satuan Sumber Daya Lingkungan Polda Metro Ajun Komisaris Besar Rudi Setiawan, Kamis. (WIN)

Readmore »»

Sumut Segera Miliki Toba Orchid Park

KOMPAS, Rabu, 11 Februari 2009, 00:15 Wib
Sumatera Utara akan segera memiliki Toba Orchid Park atau Taman Anggrek Toba yang menjadi bagian dari Taman Konservasi Eden, Desa Lumban Rang, Kecamaran Lumban Julu, Kabupaten Toba Samosir.
Taman Anggrek seluas 1.000 meter persegi itu pada tahap pertama mengumpulkan dan memamerkan 100 jenis anggrek hutan dari perbukitan Lumban Julu. Ketua Forum Peduli Anggrek Toba Ria Telaumbanua, Selasa (10/2), mengatakan, koleksi itu diturunkan dari perbukitan dengan ketinggian antara 1.000 dan 2.000 meter di atas permukaan laut. Warna anggrek beraneka macam, mulai putih, kuning, hingga ungu, tetapi ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan anggrek hibrida yang banyak diperdagangkan. ”Katalog anggrek hutan masih sangat minim. Jadi, koleksi ini masih kami cocokan dengan katalog anggrek terbitan luar negeri,” tutur Ria. Forum Peduli Anggrek Toba memperkirakan lebih dari 1.000 jenis anggrek hutan terdapat di sekitar Danau Toba dan sampai saat ini belum dikonservasi. Pembukaan taman akan dilakukan hari Sabtu (14/2). (WSI)

Readmore »»

Kamis, 12 Februari 2009

Harimau Sumatera Masuk Jebakan BKSDA

KOMPAS, Kamis, 12 Februari 2009 02:00 WIB
Harimau sumatera betina dewasa yang masuk perangkap dibawa tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi untuk dikarantina di Jambi, Rabu (11/2). Harimau yang diduga menerkam tiga warga Desa Sungai Gelam, Muaro Jambi, hingga tewas ini ditangkap untuk menghindari perburuan liar.


Jambi, Kompas - Seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) betina tertangkap dalam jebakan milik tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi, Rabu (11/2). Harimau yang sebelumnya diketahui menerkam tiga warga di Sungai Gelam, Muaro Jambi, hingga tewas ini akan dikarantina dan kemudian dilepas kembali ke habitat yang lebih aman.
Dari jebakannya yang dipasang dalam kawasan eks hak pemanfaatan hutan (HPH) Rimba Karya Indah, harimau diangkut menggunakan truk dan kemudian menempuh perjalanan hampir enam jam mencapai kantor BKSDA di Kota Jambi. Harimau dewasa berukuran berat lebih dari 300 kilogram dan panjang 2 meter tersebut menggeram keras berulang kali karena dikerumuni banyak orang.
Kepala BKSDA Jambi Didi Wurjanto menjelaskan, pihaknya terpaksa menangkap harimau karena desakan masyarakat sangat kuat. ”Masyarakat khawatir akan bertambah korban lagi yang diterkam harimau tersebut,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, harimau yang sama menerkam tiga warga Desa Sungai Gelam dan Pematang Raman akhir Januari lalu. Para korban adalah perambah hutan dan pencari jelutung yang masuk ke dalam teritori harimau. Menurut Didi, harimau adalah jenis satwa yang tidak memiliki kebiasaan memangsa manusia.
Sifat agresif yang di luar kebiasaan diduga akibat warga menangkap bayi dari harimau betina tersebut. Dugaan dikuatkan dengan kondisi fisik puting harimau yang masih membesar. (ITA)

Readmore »»

Perubahan Iklim - Segitiga Koral, Jantung Dunia

KOMPAS, Kamis, 12 Februari 2009 01:15 WIB Oleh: YUNI IKAWATI
Kekayaan spesies terumbu karang, ikan, dan biota laut lainnya tampak berlimpah di Perairan Alor, Nusa Tenggara Timur, pada Mei 2007. Segitiga Terumbu Karang yang disebut juga sebagai "Amazon of the Seas" mencakup wilayah perairan tengah dan timur Indonesia, Timor Leste, Filipina, Sabah-Malaysia, Papua Niugini, dan Kepulauan Salomon diperkirakan dihuni sekitar 3.000 spesies ikan.

Sumber kehidupan manusia masa depan terpendam di laut. Namun, harta karun itu—berupa berbagai jenis biota laut—sebagai bahan baku pangan, obat-obatan, dan kosmetik mulai terancam kehidupannya. Hal itu disebabkan terumbu karang—rumah mereka—terus dirusak dan dihancurkan.

Tingginya tingkat perkembangbiakan makhluk di laut itu tergantung dari kelestarian terumbu karang yang bukan hanya jadi tempat tinggalnya, tetapi juga sumber pakan dan lahan untuk berpijah.

Rumah-rumah ikan itu tidak terbangun di sembarang tempat, tetapi di laut dangkal yang bersuhu hangat di pesisir—dekat pulau. Itulah yang menyebabkan kawasan di Asia Tenggara—yang disebut juga Benua Maritim— menjadi kawasan terumbu karang terluas.

”Kerajaan ikan” ini yang disebut Segitiga Terumbu Karang mencakup kawasan yang luas di perairan tengah dan timur Indonesia, Timor Leste, Filipina, Sabah-Malaysia, Papua Niugini, dan Kepulauan Solomon di Samudra Pasifik.

Segitiga Terumbu Karang ini karena menjadi episenter kehidupan laut yang memiliki keragaman jenis biota laut yang tinggi disebut juga ”Amazon of the Seas”. Terumbu karang di kawasan ini mencakup 53 persen terumbu karang dunia

Di beberapa areal di Segitiga Terumbu Karang, seperti di perairan Raja Ampat, Maluku Utara, terdapat lebih dari 600 spesies koral atau lebih dari 75 persen spesies yang dikenal di dunia.

Di terumbu karang yang tersebar perairan di enam negara itu juga dihuni sekitar 3.000 spesies ikan, serta memiliki hutan mangrove yang paling luas di dunia. Segitiga Terumbu Karang juga menjadi tempat bertelur dan berkembang biaknya ikan tuna dalam jumlah yang terbesar di dunia. Tuna merupakan komoditas perikanan yang tergolong paling diminati di dunia.

Ancaman meningkat

Sayangnya Segitiga Terumbu Karang mulai terancam kelestariannya karena berbagai masalah pencemaran, dan cara penangkapan ikan yang merusak terumbu karang, misalnya dengan menggunakan bom dan racun. Saat ini data Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) menyebutkan terumbu karang yang masih dalam kondisi sangat baik tinggal 6,2 persen.

Belakangan ini diketahui kenaikan suhu muka laut yang menyebabkan gangguan cuaca, dan perubahan iklim akibat pemanasan global, juga mengancam kelangsungan hidup terumbu karang. Keberadaan koral juga mendapat tekanan ekonomi masyarakat pesisir yang umumnya miskin.

Penelitian yang dilakukan peneliti LIPI beberapa waktu lalu menyebutkan, kerusakan terumbu karang terbesar disebabkan oleh penangkapan ikan dengan menggunakan bom ikan. ”Penelitian menunjukkan, bahan peledak 0,5 kilogram bila diledakkan pada dasar terumbu karang menyebabkan matinya ikan yang berada sampai radius 10 meter dari pusat ledakan. Adapun terumbu karang yang hancur sama sekali sampai radius tiga meter dari pusat ledakan,” ujar Suharsono, Kepala Pusat Penelitian Oseanologi LIPI. Ledakan bom tidak hanya menghancurkan terumbu karang, tetapi juga berdampak buruk bagi usaha perikanan, pelestarian lingkungan, dan pariwisata.

Berbagai masalah itu menyebabkan Indonesia yang memiliki areal terumbu karang sekitar 60.000 kilometer persegi yang semestinya dapat diraih keuntungan 4,2 miliar dollar AS per tahun dari hasil ikan dan pemanfaatan sumber biota laut bernilai ekonomis lainnya. Namun, menurut data dari Departemen Kelautan dan Perikanan, yang terjadi justru sebaliknya. Pada tahun 2000 kerugian yang ditanggung mencapai 12 juta dollar AS atau lebih dari Rp 84 miliar per tahun akibat kerusakan terumbu karang.

Kerusakan itu juga menghilangkan peluang ekonomi dari hasil perikanan, turisme, dan fungsi terumbu karang sebagai penahan ombak yang bernilai paling sedikit 70.000 dollar AS per kilometer persegi. Kondisi terumbu karang di Indonesia yang baik memiliki nilai wisata selam 3.000 hingga 500.000 dollar AS per kilometer persegi.

Selain itu, terumbu karang tepian yang berperan menetralisasi kekuatan angin dan gelombang keberadaannya diperkirakan dapat menghemat biaya 25.000-550.000 dollar AS untuk perlindungan pantai dari erosi.

Sebaliknya jika terumbu karang rusak, diperlukan dana besar untuk pemulihannya dan memakan waktu lama hingga 50 tahun. ”Tingkat pemulihannya pun tidak 100 persen. Pasti ada spesies yang hilang permanen,” kata Suharsono.

Kampanye penyelamatan

Hal inilah yang mendorong Indonesia pada tahun 2000 mencanangkan kampanye rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang dengan slogan ”Selamatkan Terumbu Karang-Sekarang!” Program itu dilaksanakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Departemen Kelautan dan Perikanan serta mendapat bantuan teknis dari The Johns Hopkins University, AS.

Melalui kampanye itu diharapkan kesadaran masyarakat dan pemerintah terhadap arti penting dan nilai strategis terumbu karang di Indonesia meningkat. Program yang dipersiapkan sejak tahun 1995 dan direncanakan akan berlanjut hingga 2013, sayangnya belakangan ini melemah gaungnya.

Isu penyelamatan terumbu karang, menurut Sekretaris Panitia World Ocean Conference 2009 dan Coral Triangle Initiative Summit, Indroyono Susilo, akan diangkat kembali agar menjadi perhatian dunia.

Hal ini, kata Indroyono yang juga Ketua ISOI (Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia), terkait dengan ancaman yang kian besar terhadap kelestariannya karena dampak perubahan iklim, berupa kenaikan suhu muka laut dan kenaikan permukaan air laut. Pertemuan CTI ini akan berlangsung di Manado, Sulut, pada 15 Mei mendatang.

Dalam pertemuan terdahulu, ujar Indroyono yang juga menjabat Sekretaris Menko Kesra, dari beberapa negara berhasil dihimpun dana hibah 250 juta dollar AS untuk menyelamatkan terumbu karang di Segitiga Terumbu Karang.

Namun untuk memperoleh dana itu, ujarnya, tiap negara yang berada di kawasan itu perlu menyusun program yang jelas dalam upaya penyelamatan terumbu karang yang menjadi warisan dunia yang sangat berharga itu. Indonesia harus memegang peranan besar dalam hal ini.

Readmore »»

Rabu, 11 Februari 2009

Energi Terbarukan - Beda Suhu Laut untuk Pembangkit Listrik

KOMPAS, Kamis, 12 Februari 2009 01:16 WIB
Jakarta - Teknologi pembangkit listrik dengan sumber energi terbarukan dari kelautan yang tergolong sebagai inovasi paling baru dari Jepang mulai dijajaki di Indonesia. Teknologi itu memanfaatkan beda suhu laut untuk menggerakkan sistem kerja fluida penggerak turbin yang sedang dikaji kelayakan operasionalnya di Mamuju, Sulawesi Barat.


”Teknologi itu dikembangkan The Institute of Ocean Energy Saga University (IOES) di Jepang yang bisa menciptakan peluang besar untuk pembangkit listrik di wilayah kepulauan seperti di Indonesia, tanpa menghasilkan emisi yang berdampak pada efek rumah kaca,” kata Kamaruddin Abdullah, anggota Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan (METI) Bidang Surya Termal, Rabu (11/2) di Jakarta.

Rektor Universitas Darma Persada ini juga menjelaskan, beda suhu laut yang dibutuhkan hanya 15 derajat celsius antara permukaan dan bagian kedalaman laut yang berkisar 500 meter sampai 1.500 meter. Dengan suhu permukaan laut yang relatif konstan di wilayah tropis setinggi 24 derajat celsius itu dapat dimanfaatkan untuk menciptakan sistem fluida kerja dari amoniak cair.

Pada suhu 24 derajat celsius itu, amoniak cair akan mendidih dan menghasilkan tekanan yang dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin penghasil listrik. Rangkaian teknologi ini kemudian dikenal sebagai OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion).

Secara terpisah, Yasser Rahman selaku pihak swasta yang akan mengembangkan teknologi OTEC di Mamuju menyatakan, kapasitas produksi listrik yang direncanakan mencapai 100 megawatt. ”Produk utamanya nanti bukan listrik, tetapi hidrogen. Sekarang masih dalam proses studi kelayakan,” kata Yasser.

Menurut dia, Mamuju berada di Selat Makassar yang memiliki jalur perairan internasional. Sasaran produksi hidrogen mengantisipasi kebutuhan sumber energi ramah lingkungan di masa mendatang dengan teknologi fuel cell atau sel bahan bakar yang menghasilkan air murni. (NAW)

Readmore »»

Penanaman Bakau Belum Efektif

KOMPAS, Senin, 9 Februari 2009 01:16 WIB
Cirebon - Penanaman bakau di pesisir Cirebon dan Indramayu belum efektif. Selain kendala alam, tanaman bakau juga tak dirawat.

Bibit-bibit bakau yang tahun lalu ditanam di Desa Bungko Lor, Kecamatan Kapetakan, dan Tangkil, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, banyak yang mati. Pesisir pantai masih gersang. Sampah menumpuk di sela pohon bakau di muara sungai, antara lain di Bondet dan Kesenden, Kabupaten Indramayu.
Rohmani, pembudidaya bakau di Desa Karangreja, Kecamatan Suranenggala, juga mendapati banyak bibit bakau mati. ”Selain tak dirawat dengan baik, tanaman berasal dari daerah lain sehingga tidak bisa beradaptasi,” ujar Rohmani, Sabtu (7/2).
Yoyon Haryono, Direktur Lembaga Swadaya Buruh dan Lingkungan Hidup Cirebon, menyatakan, penanaman bibit bakau memang tidak selalu berhasil apalagi jika tidak didukung masyarakat sekitar.
Lembaganya telah berkali-kali menanam bibit bakau di pesisir pantai, di antaranya di Desa Bungko Lor, Mundu, dan Tangkil, sejak lima tahun lalu. Namun, tidak semua bibit bisa tumbuh. ”Dari 1.000 bibit yang ditanam, 30 persen bisa hidup dan jadi pohon saja sudah bagus,” katanya.
Rohmani yang juga pembudidaya kerang hijau mengakui, sebagian nelayan mulai menyadari pentingnya bakau karena mulai merasakan akibat rusaknya ekosistem pesisir dan laut. Namun, sebagian warga masih belum menyadari.
”Ketika ada tanah timbul langsung dipakai sebagai lahan tambak, padahal seharusnya digunakan sebagai lahan bakau,” kata Rohmani.
Menurut Yoyon, tidak mudah membuat petambak di tanah timbul menyadari peran bakau untuk mengembalikan kondisi lingkungan yang telah rusak. Kerusakan lingkungan tidak hanya mengganggu sektor ekonomi nelayan, tetapi juga petambak.
Saat ini tambak Cirebon tidak lagi menjanjikan udang yang melimpah. Para petambak udang kini beralih menjadi petambak bandeng, lele, atau menjadi pembudidaya kerang. (NIT)

Readmore »»