Selasa, 14 April 2009

Air Murni Makin Sulit

Produksi Hidrogen dari Dalam Laut
KOMPAS, Sabtu, 11 April 2009 03:16 WIB
Jakarta - Sumber air baik di darat maupun di laut kini makin terkontaminasi pencemaran. Hal ini menyulitkan perolehan sumber air murni yang dapat dipergunakan sebagai bahan baku hidrogen sebagai sumber energi ramah lingkungan pada masa depan.


Salah satu alternatif yang baik untuk dikembangkan dari sektor kelautan adalah memperoleh air murni itu dari kedalaman lebih dari 1.000 meter.

”Pencemaran air sudah melanda di mana-mana. Sumber energi hidrogen memang paling baik karena ramah lingkungan, tetapi kendalanya terdapat perolehan air murni karena banyak sumber air yang tercemar dan juga terbatasnya ketersediaan listrik yang harus diperoleh dari sumber energi ramah lingkungan,” kata Direktur PT Colano E&P Yasser Rahman saat dihubungi Jumat (10/4).

Yasser adalah salah satu pengembang yang merintis rekayasa industri di sektor kelautan untuk menghasilkan energi listrik. Teknologi yang dirancang dikenal sebagai ocean thermal energy conversion (OTEC). Teknologi ini memanfaatkan beda suhu sekitar 15 derajat celsius antara permukaan laut dan kedalaman laut untuk membangkitkan sistem fluida kerja.

Sistem fluida kerja menjadi energi penggerak turbin penghasil listrik. Lokasi yang dipilih untuk persiapan industri ini adalah Mamuju, Sulawesi Barat.

Konferensi kelautan

Menurut Yasser, produksi listrik dengan sistem OTEC di laut menjadi modal pengembangan produksi hidrogen dengan sumber air murni yang didapat dari kedalaman laut lebih dari 1.000 meter. Sumber air murni itu berkelimpahan dan sumber energi listriknya juga ramah lingkungan, mengandalkan beda suhu permukaan dan kedalaman laut.

Perpaduan teknologi untuk pemanfaatan sektor kelautan di bidang energi ini cukup konkret. Masalah ini dapat dimasukkan ke dalam pembahasan agenda Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference/WOC) di Manado, Sulawesi Utara, 11-15 Mei 2009.

Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi pada pemaparan kesiapan penyelenggaraan WOC, Rabu (8/4), mengemukakan, kemampuan laut bukan hanya menjaga keseimbangan lingkungan. Lebih dari itu, laut juga memiliki potensi bagi lahirnya sumber energi yang sangat ramah lingkungan.

Akan tetapi, persoalan energi dari sektor kelautan ini kurang dikedepankan Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan WOC. Menurut Sekretaris Panitia Nasional WOC Indroyono Soesilo, hasil WOC pertama kali ini diharapkan bisa menjadi landasan pembahasan-pembahasan internasional berikutnya, termasuk soal energi ramah lingkungan dari sektor kelautan.

Titik tekan yang masih diperjuangkan dari WOC, menurut Indroyono, pada upaya konservasi kawasan segitiga terumbu karang yang menjadi habitat terumbu karang terluas di dunia. Pembahasan lainnya terkait peran kelautan dalam menghadapi perubahan iklim.

Readmore »»

Senin, 13 April 2009

Bersepeda Itu...

Andi Mallarangeng (46),
Juru Bicara Kepresidenan, warga Cilangkap yang ngantor di Istana


Jarak dari rumah ke kantor cukup jauh, 40-an kilometer, bisa 1,5 jam ditempuh dengan mengayuh sepeda. Rutenya, Cilangkap ke Taman Mini, lalu Kramat Jati, Jalan Dewi Sartika, Gatot Soebroto, Kuningan, Menteng, Gambir, Istana. Sampai kantor, makan bubur ayam dulu sebelum mandi. Naik sepeda ke kantor cukup sekali sepekan pada hari Jumat, tapi kalau akhir pekan saya biasa sepedaan keluar-masuk kampung, bisa sampai Cileungsi, Cibubur, Sentul.


Saya bersepeda sejak kecil, ke sekolah naik sepeda. Waktu kuliah di UGM, Yogyakarta, saya juga naik sepeda. Ketika kuliah di Amerika Serikat, tetap naik sepeda. Bisa dibilang, sepanjang hidup saya ini naik sepeda. Sepeda yang saya pakai sekarang saya beli tahun 1995 di AS, merek Track. Murah meriah, ha-ha-ha. Saya juga punya sepeda lipat.

Selain untuk kebugaran, bersepeda itu juga ramah lingkungan. Manfaat lain, kita belajar mengalah, jangan merasa selalu menang. Di jalan, posisi kita lemah. Semua orang mau menang sendiri, kita ngalah aja. Ada bus, ngalah. Ada motor ngebut, ngalah, meski terpaksa naik trotoar. Saya yakin, sepeda ini justru akan menjadi tren masa depan.

Agustinus Gusti Nugroho atau Nugie (37),
Penyanyi dan pencipta lagu, warga Bintaro


Sepeda benar- benar jadi alat transportasi buat aku. Kalau lagi shooting di televisi, aku genjot sepeda. Mau ke berbagai acara, genjot juga. Justru di jalan Jakarta yang macet, naik sepeda menjadi lebih cepat, bisa nyalip mobil.

Aku hobi sepedaan sejak kecil. Dulu kan gak dikasih banyak uang saku, jadi aku bersepeda, he-he-he. Kalau sekarang, sih, sudah menjadi kebutuhan. Kalau lagi ngamen ke daerah-daerah, aku bawa sepeda lipatku, masukkan aja ke koper, praktis. Oya, merek sepeda lipatku Bike Friday seri Tikit, range harganya antara Rp 18-21 juta. Aku memiliki enam sepeda, sesuai fungsi masing-masing, ada sepeda gunung, ontel, juga ada BMX, sepeda masa kecilku.

Naik sepeda rasanya keren, bisa masuk ke mana-mana. Sekarang, saya malah jadi ikut berkampanye anti-pemanasan global dan hemat energi dengan sepeda. Sekalian nyemplung untuk misi lingkungan. Saya yakin, nanti orang akan balik lagi ke sepeda, seperti masa kejayaan dulu.

Mathias Muchus (52),
Aktor, warga River Park, Bintaro


Saya mulai menyukai sepeda sejak kerusuhan Mei 1998. Kok transportasi kayaknya lebih enak dengan sepeda. Saya membeli sepeda seharga Rp 2-an juta, lalu mulai sering kumpul dengan teman. Tahun 2000-an saya kenal Pak Subronto Laras dari klub Ikatan Penggemar Sepeda Jakarta. Dari sana, saya mulai benar-benar menggemari sepeda, yang bagi saya adalah sport. Saya membeli sepeda balap, merek Look buatan Perancis. Harga Rp 30-an juta, tapi untuk kelasnya, harga itu masih murah karena ada yang Rp 75 juta lebih.

Saya pernah genjot sepeda dari ujung Bintaro ke Tanjung Priok. Kalau bersama klub, bahkan sampai ke Anyer, bisa makan waktu seharian. Kalau ke Yogya, nanti sepedaannya dari kota ke Borobudur atau Parangtritis pulang-pergi. Kalau ke lokasi shooting, saya genjot dari rumah. Sekarang, sepedaan tiap Sabtu-Minggu saja.

Saat mengayuh sepeda, rasanya seperti di atas awan. Bersepeda itu melatih daya tahan tubuh, konsentrasi, dan juga kesabaran. Naik sepeda tidak boleh emosional, nanti dua jam saja sudah habis energinya. Bersepeda itu memadukan kerja otot dan emosi.

Subronto Laras (65),
Komisaris Utama Indomobil Group, warga Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, yang ngantor di MT Haryono, Ketua Jakarta Cycling Club

Saya dulu ikut pandu. Pas usia sembilan tahun, saya bertugas menjemput pemimpin pandu, Abunda Mastini. Saya berangkat naik sepeda ke rumah Abunda di Jalan Panarukan, Menteng, lalu kami beriringan ke tempat kepanduan di Salemba. Malamnya, saya mengantar Abunda pulang. Sepeda waktu itu jadi alat mobilisasi.

Usia 14 tahun, saya ikut balap sepeda dengan rute Jakarta-Bogor. Latihannya di sepanjang Jalan Sudirman yang waktu itu sisi kanan-kirinya masih sawah. Saya ikut tur ke Kebayoran, jaraknya kira-kira 40 kilometer PP. Dulu naiknya sepeda jengki yang dimodifikasi sendiri.

Saya punya dua lusin sepeda, tapi saya bagi-bagikan ke pembalap. Saya suka pakai sepeda balap Colnago Carbon, harga Rp 50-an juta. Saya juga disponsori pabrik sepeda Giant. Manfaat? Sejak 15 tahun lalu saya divonis sakit jantung, tapi tertolong dengan bersepeda. Kenikmatan bersepeda? Memperluas pergaulan.
(Sumber: KOMPAS)

Readmore »»

Eropa Harus Lebih Waspadai Banjir

Warga Eropa dalam waktu dekat ini masih harus bersiap menghadapi lebih banyak lagi banjir dan juga kekeringan akibat perubahan iklim.
Demikian diungkapkan Komisioner Uni Eropa urusan Lingkungan Stavros Dimas, Rabu (1/4). Sekalipun ada upaya untuk mewujudkan emisi nol, hal itu tak akan mampu mengubah perubahan iklim ini dalam sekejap. Kekeringan sudah mulai dirasakan sejak tahun 1998 di 14 negara Uni Eropa. Adapun dari 100 kasus banjir di kawasan ini, setidaknya sudah menelan korban 700 orang tewas dan 500.000 orang terpaksa pindah tempat.
(Sumber: KOMPAS)

Readmore »»

Rabu, 08 April 2009

LINGKUNGAN - Walhi Temukan 100 Meter Kubik Kayu Pembalakan Liar

KOMPAS, Kamis, 9 April 2009 05:15 WIB
Bandar Lampung - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung menemukan 100 meter kubik balok kayu pembalakan liar yang tersebar di aliran dan bantaran Sungai Way Pintau di kawasan hutan lindung Register 22B. Walhi mendesak Kepolisian Daerah Lampung agar mengusut kegiatan pembalakan liar dan menangkap pelaku.


”Selain merusak lingkungan, tindakan tersebut sudah menyebabkan berkurangnya debit air sungai yang selama ini dimanfaatkan warga sekitar,” ujar Direktur Eksekutif Walhi Lampung Hendrawan, Rabu (8/4).

Hendrawan mengatakan, dari hasil investigasi Walhi Lampung pada 2-6 April 2009 di Register 22B, yang termasuk wilayah hutan lindung Lampung Barat, diketahui balok-balok tersebut merupakan hasil pengolahan dari gelondongan kayu jenis meranti dan krueng yang tergolong kayu langka.

”Berdasarkan penelusuran di aliran dan bantaran Sungai Way Pintau, kami menemukan balok-balok kayu jenis meranti dan krueng yang posisinya tersebar dan tidak beraturan,” ujar Hendrawan.

Tim investigasi Walhi menelusuri sungai sejauh 3,5 kilometer. Tim menghitung di aliran dan bantaran sungai tersebut terdapat 697 batang balok kayu.

Balok-balok tersebut berukuran 20 cm x 30 cm, 15 cm x 30 cm, 10 cm x 30 cm, 12 cm x 15 cm, 10 cm x 40 cm, 15 cm x 40 cm, 10 cm x 25 cm, dan 15 cm x 25 cm, sementara panjang rata-rata balok kayu tersebut 2,5 meter.

Menurut Hendrawan, selain ratusan balok kayu, tim investigasi juga menemukan dua gelondong kayu, yakni satu jenis kayu minyak berdiameter 4 meter dan panjang 30 meter serta satu gelondong jenis kayu meranti dengan diameter 2 meter dan panjang 12 meter. ”Kayu gelondongan tersebut kami pastikan sebagai sisa gergajian,” ujar Hendrawan.

Selain itu, tim juga menemukan delapan tunggul kayu dan beberapa balok kayu yang warnanya telah menyerupai tanah. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pembalakan liar di wilayah itu telah berlangsung lama.

Hendrawan mengatakan, berdasarkan penelusuran dan informasi dari masyarakat di sekitar Register 22B diketahui bahwa kegiatan tersebut telah berlangsung lebih dari dua tahun. Kegiatan tersebut ditengarai dilakukan seorang pemilik penggergajian kayu berinisial Nng. Hanya saja, sampai sekarang belum ada tindakan tegas dari aparat.

Terkait temuan balok-balok kayu hasil pembalakan liar tersebut, Walhi Lampung mendesak Dinas Kehutanan Lampung, Dinas Kehutanan Lampung Barat, dan Polda Lampung untuk mengusut tuntas kasus itu, membongkar jaringan distribusi kayu-kayu hasil pembalakan liar, dan menindak tegas pelaku pembalakan liar di Register 22B.

Hal itu perlu dilakukan sebab kawasan tersebut merupakan kawasan sumber air bagi daerah Lampung.

Selain itu, Walhi Lampung juga menyerukan kepada Balai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) untuk aktif melakukan kontrol dan menindak. Hal tersebut akan menyelamatkan kawasan TNBBS.

Secara terpisah, Kepala Satuan Reskrim Kepolisian Resor Lampung Barat Ajun Komisaris Bunyamin mengatakan, temuan Walhi Lampung tersebut melengkapi informasi yang selama ini diterima Polres Lampung Barat.

Readmore »»

PEMANASAN GLOBAL - Mereka yang Terancam Punah

KOMPAS, Kamis, 9 April 2009 03:39 WIB Oleh: Brigitta Isworo
Kehidupan sejumlah binatang terancam punah. Lalu apa perlunya kita bercemas diri? Toh sekarang juga sudah banyak spesies yang punah, seperti lumba- lumba Sungai Yangtze dan dinosaurus.


Di luar itu, ada beberapa spesies fauna (hewan) yang bahkan kita tidak menyadarinya ternyata telah punah. Toh kita baik-baik saja. Kehidupan kita, manusia, terus berjalan.

Namun coba disimak apa yang dituliskan Michael Soulè, seorang ahli biologi di bidang konservasi dan evolusi yang juga pendiri Masyarakat Ahli Biologi Konservasi.

Dia menuliskan, ”Era milenium segera tamat. Bersamanya akan hilang pula hasil evolusi selama empat juta tahun dengan segala kekayaannya. Ya, sejumlah spesies akan selamat, terutama yang berukuran kecil, yang kuat, yang mampu bertahan di suatu tempat yang amat sangat kering dan terlalu dingin bagi kita untuk bertani atau menumbuhkan rumput. Kita mesti menghadapi fakta bahwa era Cenozoic, era mamalia yang kembali setelah punah akibat bencana besar (katastropi) telah berlalu, dan bahwa era Anthropozoic atau Catastrophozoic kini dimulai.” Yang dia maksudkan mungkin adalah semakin berjayanya spesies manusia.

Dengan punahnya sebagian spesies fauna, sebenarnya telah terjadi gangguan pada keseimbangan ekosistem. Rantai kehidupan tidaklah sesederhana kalimat, ”toh kita baik-baik saja dan masih hidup....” Planet Bumi dengan segenap ekosistem yang terdapat di dalamnya memiliki ketergantungan satu sama lain yang amat erat.

Apabila satu rantai makanan putus, keseimbangan akan terganggu. Hal itu akan mengganggu kesehatan ekosistem tersebut yang pada akhirnya dapat menyeret ekosistem (tetangganya) ke keadaan terganggu.

Contoh yang paling dekat dengan kita adalah serangan harimau di permukiman di daerah Jambi beberapa waktu lalu. Ketika harimau kehilangan habitatnya dan kehilangan mangsanya, hewan itu mulai merambah ke permukiman manusia.

Ancaman terhadap habitat hewan yang berupa penebangan hutan, pembakaran hutan, serta perubahan fungsi lahan yang antara lain menjadi sawah atau permukiman telah secara terus- menerus mengurangi luas habitat hewan-hewan tersebut.

Jenis ancaman bagi semua makhluk hidup kini bertambah, yaitu dengan terjadinya pemanasan global. Pemanasan global terjadi di seluruh permukaan Planet Bumi.

Proses pemanasan global tersebut memiliki dampak yang langsung terlihat, yaitu meningkatnya suhu di permukaan bumi, dan secara perlahan mengubah pola cuaca yang pada akhirnya dapat mengubah model iklim.

Jika tingkatan itu tercapai, semua habitat yang ada akan mengalami perubahan. Proses ke arah perubahan iklim ini terus berlangsung hingga pada suatu titik tertentu nanti, makhluk hidup, banyak spesies fauna, tak akan mampu lagi bertahan hidup pada kondisi habitat tersebut.

Hanya sebagian saja dari suatu spesies yang akan mampu bertahan dengan melakukan sejumlah adaptasi. Di sini kemudian berlakulah hukum Darwin, survival for the fittest, yang kuat atau mampu beradaptasilah yang menang atau selamat—demikian arti kasarnya.

Spesies mana yang akan punah? Yang akan punah pertama kali adalah fauna yang sensitif terhadap perubahan temperatur dan iklim. Fauna itu di antaranya terumbu karang yang mensyaratkan suhu laut sekitar 28° celsius akan mengalami pemutihan (coral bleaching) sebab terumbu karang amat sensitif terhadap perubahan temperatur. Selain terumbu karang, kodok juga disebut-sebut sebagai hewan yang rentan terhadap perubahan iklim dan kenaikan suhu. Hal serupa, akibat dari ancaman yang sama, bisa terjadi di berbagai belahan dunia terhadap beragam spesies baik hewan maupun tumbuhan yang ada.

Di seluruh dunia, saat ini hidup sekitar 8 juta spesies hewan yang masing-masing adalah unik (Time, 13/4). Jumlah itu belum ditambah dengan spesies-spesies lain yang belum ditemukan atau belum diberi nama—yang jumlahnya bisa mencapai ratusan hingga ribuan.

Spesies yang sekarang ada, beberapa di antaranya merupakan spesies yang endemik karena merupakan hasil evolusi dari suatu kondisi geografis dan lingkungan yang amat spesifik.

Dalam laporannya, Time menyoroti spesies di Madagaskar. Madagaskar yang terpisahkan dari India sekitar 80 juta tahun lalu mengalami isolasi.

Akibat dari isolasi tersebut, spesies satwa yang ada di pulau tersebut memiliki kekhasan pada sejarah evolusinya. Jalur evolusinya berjalan secara unik.

Oleh karena itu, di sana terdapat beberapa spesies satwa seperti fossa: binatang pemakan daging ini seperti kucing tetapi memiliki kelenturan tubuh seperti tupai, sementara sifatnya bak anjing hutan (Time, 13/4).

Lokasi lain yang memiliki karakter fauna dan flora yang spesifik antara lain kawasan Garis Wallacea yang memanjang dari utara ke selatan di Sulawesi.

Gelombang kepunahan

Dalam usia bumi yang terentang hingga lima juta tahun telah terjadi berbagai katastropi. Sebagian katastropi tersebut mengakibatkan gelombang kepunahan spesies fauna. Setidaknya telah terjadi lima kali gelombang kepunahan (extinction waves).

Gelombang kepunahan ini adalah gelombang pertama mulai sejak sebelumnya hingga 500 juta tahun lalu ditandai lenyapnya 50 persen hewan termasuk binatang laut sejenis kepiting.

Gelombang kedua yaitu pada zaman Devonian—345 juta tahun lalu, 30 persen jenis hewan punah juga sejumlah jenis ikan.

Gelombang ketiga dari Permian hingga 250 juta tahun lalu, 50 persen famili hewan (kategorisasi di atas spesies), 95 persen spesies hewan laut dan sejumlah amfibi serta pohon-pohon punah.

Gelombang keempat dari Triassic hingga 180 juta tahun lalu ditandai dengan 35 persen famili hewan, termasuk reptil dan binatang laut bertubuh lunak—yang ada sekarang semacam siput laut, teripang.

Pada gelombang kelima, cretaceous sampai 65 juta tahun lalu, dinosaurus dan binatang laut bertubuh lunak punah.

Sekarang, di abad ke-20 ini para ilmuwan menemukan bahwa isu terpenting pada masa ini adalah krisis kepunahan. Sepanjang tahun 1970-an para ahli konservasi dunia telah khawatir akan lenyapnya ribuan spesies serta hilangnya sejumlah ekosistem yang juga beragam di seluruh bagian dunia.

Hutan hujan tropis telah dibabat habis atau hancur dibakar. Gambut banyak dikeringkan airnya dan diubah menjadi perkebunan atau pertanian. Terumbu karang banyak yang mati tanpa tahu apa penyebab kematiannya. Cadangan ikan di laut juga berkurang secara signifikan. Gajah banyak dibantai, sementara kodok atau katak pun mulai menghilang tak terdengar nyanyiannya lagi. Bahkan, leviathan (sejenis paus raksasa) diburu baik di kawasan Antartika maupun di Arktik. Ancaman bagi mereka juga semakin menyempitnya luasan daratan es di kedua kutub bumi. Kini kita tinggal menunggu saat kepunahan mereka tiba.

Kepunahan spesies hewan selalu terkait dengan kehidupan kita karena kepunahan dapat dibaca sebagai: kualitas udara buruk, kualitas air yang buruk, lenyapnya spesies yang sebenarnya bisa bermanfaat bagi manusia misalnya untuk pengobatan. Jika kehidupan mereka punah, kepunahan manusia pun tinggal menunggu waktu....

Readmore »»

LINGKUNGAN - Yang Cocok Memang Energi Alternatif

KOMPAS, Kamis, 9 April 2009 03:37 WIB
Menyandang tugas sebagai produsen minyak nasional, Pertamina sadar benar bahwa mereka disorot sebagai salah satu penyebab rusaknya lingkungan. Kerusakan yang diakibatkan kegiatan eksploitasi dan eksplorasi minyak dan gas bumi memang masif sifatnya.


Aktivitas pertambangan tersebut antara lain menghasilkan emisi karbon yang merupakan ”penjahat” bagi isu pemanasan global. Gas rumah kaca yang disetarakan dengan emisi karbon dioksida adalah penyebab pemanasan global. Jika suhu bumi ini terus meningkat, tak lama akan terjadi perubahan iklim.

Kesadaran tersebut, ditambah dengan pemahaman bahwa suatu hari nanti, setidaknya 40-50 tahun lagi, cadangan minyak bumi nasional mulai habis, mendorong Pertamina melalui tanggung jawab sosial terhadap masyarakat (CSR) mulai melakukan usaha bersama masyarakat untuk memproduksi energi alternatif.

Rudi Sastiawan, Manajer CSR Pertamina, Senin (6/4), dalam perbincangan dengan Kompas mengungkapkan, ”Kami disebut sebagai pencemar nomor satu di Indonesia. Oleh karena itu, CSR kami dititikberatkan pada persoalan besar pelestarian alam. Ini bisa berupa kegiatan di bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur untuk pelestarian alam, dan sarana umum.”

Energi dari jarak

Program besar yang dilakukan sekarang adalah mengembangkan pemanfaatan jarak sebagai alternatif energi dan sekaligus manfaat-manfaat lain dari produk turunannya.

Berlokasi di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Pertamina sekarang menyediakan 3.300 hektar tanah yang ditanami pohon jarak, digarap oleh 2.900 petani, dan ditanami 3,3 juta pohon jarak. Di sana dibangun untuk pabrik dan penyediaan bibit jarak di tanah seluas sekitar 4.000 m².

Biji jarak bisa diperas untuk dijadikan minyak pengganti minyak tanah dan bisa juga dijadikan sabun. ”Sabun jarak ini ramah lingkungan,” tutur Rudi. Bulan Agustus tahun ini direncanakan pabrik di lokasi tersebut selesai dibangun.

Akan tetapi, Rudi menyadari, jika jarak hanya diproduksi sebagai minyak, ”Jelas tidak ekonomis,” katanya, karena minyak dari bahan bakar fosil saat ini masih disubsidi oleh pemerintah sehingga harga minyak jarak tidak bisa bersaing.

Oleh karena itu, saat ini di kawasan itu juga dibangun infrastruktur untuk produksi dan pemanfaatan produk turunan dari jarak.

Sampai ke kulitnya pun jarak masih bermanfaat, yaitu untuk biogas.

Minyak jarak dicampur dengan etanol atau metanol juga bisa menjadi biodiesel. ”Ini baru bisa kalau minyak diesel tidak disubsidi,” ujarnya menambahkan.

Hasil biodiesel ini sudah dicoba pada genset. Menurut Halim Fathoni, konsultan dalam program jarak, pada proyek program Desa Mandiri Energi tersebut, jika produksi semuanya berjalan, petani pada akhirnya tidak akan dirugikan karena jarak bisa dihargai hingga di atas Rp 1.500 per kilogram. Harga jarak pernah jatuh hingga Rp 700 per per kg.

”Kini kami sedang membangun kolam ikan karena salah satu produk turunan jarak adalah pelet makanan ikan. Kami juga membangun kandang ternak (sapi dan kambing) karena ampas jarak bisa dicampur dengan makanan ternak yang produknya lebih murah dari makanan ternak tanpa campuran,” ujar Rudi menambahkan.

Sebelum dijadikan pakan, racun pada jarak terlebih dulu dikeluarkan. ”Racunnya bisa untuk pestisida,” ujar Halim fathoni.

Perlu fokus

Namun, saat ini CSR Pertamina yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden masih berjalan berdampingan dengan Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan Usaha Kecil dan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang berjalan atas dasar Peraturan Menteri Negara BUMN No.: Per-05/MBU/2007 tanggal 27 April 2007.

Ironisnya, dana CSR amat kecil jika dibandingkan dengan anggaran PKBL yang mencapai 30 persen laba perusahaan. Tahun 2007 keuntungan PT Pertamina mencapai Rp 24,59 triliun, sedangkan tahun 2006 laba yang dibukukan Rp 19 triliun (Kompas, 28/6/2008). Sementara itu, anggaran CSR Pertamina baru Rp 120 miliar—sekitar Rp 10 miliar-Rp 15 miliar digunakan mengembangkan program jarak di Purwodadi.

Tujuan akhir dari CSR yang sekarang dijalankan, terutama seperti yang dijalankan di Purwodadi, adalah menurunkan penggunaan bahan bakar fosil karena sekarang produk Pertamina adalah bahan bakar fosil yang suatu kali akan habis.

Yang pasti, CSR Pertamina, menurut Rudi, sudah seharusnya fokus pada upaya penemuan teknologi tepat guna yang hemat pemakaian bahan bakar fosil, serta upaya penemuan dan produksi energi alternatif.

Rudi menegaskan, ”Di masa depan, CSR Pertamina akan terus berupaya menciptakan program-program berwawasan lingkungan berkelanjutan. Bisa saja kegiatannya dalam bentuk program pendidikan, usaha kecil menengah, dan membangun lingkungan hijau. Tetapi, dia kembali lagi pada jati diri Pertamina yang berkiprah di minyak dan gas bumi.”

”Mestinya CSR Pertamina itu fokus saja pada energi alternatif. Itu sangat cocok dengan bidang usaha Pertamina. Dana pun bisa dikerahkan ke sana sehingga Pertamina akan tetap menjadi produsen energi, tetapi kali ini energi alternatif yang tidak merusak lingkungan dan bermanfaat secara ekonomis bagi masyarakat sekitar lokasi operasi kami,” ujarnya.

Readmore »»

LINGKUNGAN - Pembukaan Tambak Merusak Habitat Buaya

KOMPAS, Kamis, 9 April 2009 03:36 WIB
Palangkaraya - Habitat buaya muara (Crocodylus porosus) di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, rusak karena tak terkendalinya penebangan bakau untuk kepentingan pembuatan tambak. Jika perusakan hutan rawa bakau di perairan itu tidak dihentikan, kawanan reptilia yang seharusnya dilindungi itu bakal punah karena menjadi ajang perburuan.


”Selama April ini sudah dua ekor buaya muara yang terjerat jaring nelayan,” kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah Eko Novi Setiawan ketika dihubungi dari Palangkaraya, Selasa (7/4).

Jumat pekan lalu, petugas Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Kalteng juga menyita bangkai buaya muara yang terjerat jaring nelayan. Buaya jantan sepanjang 4 meter tersebut terjerat di sekitar muara Sungai Batang Bahalang, Kecamatan Seruyan Hilir.

Bangkai buaya itu kemudian dibawa ke Kantor Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II BKSDA Kalteng di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat. Hari Senin lalu, buaya tersebut diotopsi dan di dalam perutnya antara lain ditemukan robekan jaring, tali, batu, dan ikan.

Eko mengimbau agar habitat buaya di Seruyan tidak dirusak. Dia tidak menampik bahwa masyarakat juga membutuhkan kawasan rawa sekitar muara untuk mencari nafkah dengan membuat tambak.

”Masalah dapat dicari titik temunya dengan tetap menyisakan wilayah konservasi untuk menjaga habitat buaya muara. Jangan semua kawasan muara dijadikan tambak,” katanya.

Berdasarkan Undang-Undang No 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, buaya muara termasuk binatang yang dilindungi. Penangkapan maupun pemanfaatan bagian-bagiannya dapat dikenakan ancaman pidana maksimal lima tahun dan denda maksimal Rp 100 juta.

Readmore »»