Rabu, 29 April 2009

Pencurian - Flora dan Fauna TNMB Terancam

KOMPAS, Rabu, 29 April 2009 15:10 WIB
JEMBER - Taman Nasional Meru Betiri telah didukung dengan larangan tegas mengambil apalagi menjarah dan merusak flora dan fauna dalam kawasan itu. Namun, larangan tersebut tetap saja dilanggar.

Salah satu contohnya, polisi hutan TNMB, Minggu (26/4), menangkap Sadikan alias P Ivan. Warga Kebun Pantai Bandealit, Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, Jember, itu ditangkap saat ia keluar dari kawasan TNMB dengan bawaan berupa getah pohon bendo (Artocarpus elasticus).
Kepala Tata Usaha TNMB Sumarsono di Jember, Senin (27/4), mengakui, getah pohon bendo yang dicuri tersangka sekitar 10 kilogram. Barang curian itu dimasukkan ke dalam karung dan kemudian diangkut dengan truk ke luar kawasan. Penangkapan tersangka merupakan hasil operasi gabungan tim TNMB bersama aparat terkait pada Minggu pagi. "Kepada petugas, tersangka mengakui barang bukti berupa getah itu miliknya," kata Sumarsono.
Kerugian negara akibat pencurian getah pohon bendo itu hanya sekitar Rp 300.000. Namun, dari sisi konservasi bisa merusak ekosistem hutan. Akibat lainnya, daerah resapan air berkurang, terjadi perubahan iklim mikro, menimbulkan kelangkaan jenis pohon, serta berakibat banjir. Pohon bendo itu, kata Sumarsono, jika sudah diambil getahnya akan mati.
Getah sekitar 10 kg itu merupakan hasil menyadap lebih dari satu pohon bendo. Petugas telah mengamankan pelaku beserta barang bukti 10 kg getah pohon bendo dan truk pengangkutnya.

Readmore »»

Semarang Fun Bike 2009

KOMPAS, Rabu, 29 April 2009 11:41 WIB
Playon Kreadtiv, HMJ Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang, dan HMJ DKV Universitas Katolik Soegijapranata Semarang akan mengadakan Semarang Fun Bike 2009, Recycle for Circle pada Minggu (3/5) mulai pukul 06.00 dengan start dan finis di gerbang Undip Pleburan. Acara yang juga sebagai soft launching acara Caraka Festival Kreatif tersebut akan dibuka Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip dan diikuti sekitar 500 orang dari komunitas sepeda di Semarang, serta masyarakat umum yang peduli kesehatan dan pelestarian lingkungan hidup melalui bersepeda. Acara ini antara lain bertujuan mengajak masyarakat kembali menggunakan sepeda sebagai alat transportasi yang ramah lingkungan.

Readmore »»

Kerusakan Lingkungan - Hutan Bakau Tersisa 30 Persen

KOMPAS, Rabu, 29 April 2009 13:21 WIB
Cirebon - Hanya 4,5 kilometer atau 30 persen dari 54 kilometer garis panjang pantai di Kabupaten Cirebon yang kini memiliki hutan bakau. Padahal, sekitar 20 tahun lalu semua pesisir pantai di wilayah itu ditumbuhi bakau.


Hal itu terungkap dalam Pelatihan Kader Lingkungan Pesisir Utara yang diselenggarakan Forum Masyarakat Cinta Sungai dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup di Kantor Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Selasa (28/4).

Iskukuh, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Cirebon, mengatakan, upaya penanaman bakau sudah dimulai lebih dari tiga tahun lalu, tetapi tidak semua bibit bakau bisa hidup. "Salah satu sebabnya adalah terinjak-injak karena posisi bakau ada di sekitar tambak yang kadang menjadi tempat lalu lalang manusia," katanya.

Persoalan lain adalah adanya sampah yang menggunung di tepi pantai sehingga menghambat pertumbuhan bakau. Bahkan, beberapa daerah pantai juga mengalami sedimentasi.

Sedimentasi, menurut Iskukuh, bisa merugikan, tetapi juga menguntungkan. Kerugiannya adalah mengurangi jumlah daya tampung air di sungai. Keuntungannya adalah bisa memunculkan tanah timbul di pesisir pantai. Tanah timbul itu nantinya digunakan sebagai lahan bakau yang berdampingan dengan tambak warga.

Ture Warsono, Kepala Bidang Pembangunan Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah III, menyepakati bahwa perbaikan lingkungan, termasuk hilir, tidak bisa dilakukan oleh satu daerah saja, tetapi melibatkan berbagai daerah dari hulu hingga hilir. Pertemuan antardaerah untuk membahas persoalan itu sudah lakukan, tidak hanya daerah di wilayah Cirebon, tetapi juga di daerah hulu lain seperti Garut.

"Ada kesepakatan bahwa daerah hulu harus menjaga hutan dan mata air, dan hilir pun harus berkontribusi terhadap kondisi hulu," ujar Ture.

Kontribusi yang dilakukan daerah hilir, kata Ture, di antaranya adalah menyumbang bibit pohon agar ditanam di sepanjang daerah aliran sungai atau di daerah hulu. Sebagai awal gerakan penghijauan, pegawai negeri sipil pun diharapkan turut menanam 5-10 pohon.

Readmore »»

Lingkungan - Partisipasi Masyarakat Terabaikan

KOMPAS, Rabu, 29 April 2009 13:25 WIB
BANDUNG - Partisipasi masyarakat dalam penanggulangan pencemaran di Sungai Citarum telah dilakukan melalui pengolahan limbah kotoran sapi menjadi kompos dan biogas. Namun, upaya itu belum mendapatkan dukungan nyata dari pemerintah setempat.


"Sekitar 30.000 hektar lahan kritis di Kabupaten Bandung membutuhkan penyuburan kembali dengan kompos. Namun, pemerintah malah enggan memanfaatkan kompos buatan masyarakat," kata Koordinator Forum Komunikasi Penggiat Lingkungan (FKPL) Soenardhi Yogantara dalam Sarasehan Komunitas Masyarakat Peduli Citarum di Desa Sindangsari, Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung, Selasa (28/4).

Dede Jauhari dari Masyarakat Peduli Sumber Air menegaskan, banyak program pemerintah yang bertujuan awal mengurangi pencemaran di daerah hulu gagal total akibat kurangnya pendampingan serta tidak pernah ada sosialisasi program itu kepada masyarakat. Salah satu contoh yang diajukan adalah program pembuatan biogas di wilayah Kertasari untuk menekan limbah kotoran sapi yang dibuang ke Sungai Citarum.

Ketua Promotor Aksi Pemberdayaan Masyarakat Tani Saeful Bahri menjelaskan, peran kelompok masyarakat dalam konservasi lingkungan tetap penting meski dampaknya masih terbilang kecil. Yang paling utama adalah membuat jejaring antarkelompok sehingga gerakan konservasi bisa dilakukan secara komprehensif dan tidak tumpang tindih.

"Salah satu upaya yang bisa dirintis adalah membuat daerah konservasi di setiap desa, berapa pun luasnya. Diharapkan masyarakat bisa memahami pentingnya daerah konservasi, seperti kualitas air baku dan udara yang segar," ujar Saeful.

Menurut data FKPL, Dinas Perumahan, Penataan Ruang, dan Kebersihan Kabupaten Bandung baru bisa menangani 22 persen sampah. Sisanya kemungkinan besar dibuang ke badan sungai atau dibakar begitu saja.

Readmore »»

Es Sebesar New York Lepas dari Beting

KOMPAS, Rabu, 29 April 2009 03:18 WIB
Tromsoe, Selasa - Es seluas hampir seukuran Kota New York lepas dari beting es Kutub Selatan menjadi gumpalan-gumpalan es mengapung (iceberg) bulan ini. Hal itu terjadi setelah runtuhnya sebuah jembatan es yang diperkirakan karena pemanasan global, menurut seorang ilmuwan hari Selasa (28/4).


”Bidang es utara dari Beting Es Wilkins menjadi tidak stabil dan gumpalan es mengapung pertama telah terlepas,” kata Angelika Humbert, ahli gletser pada Universitas Muenster di Jerman, menuturkan soal gambar-gambar beting itu dari satelit Badan Ruang Angkasa Eropa.

Humbert mengatakan kepada Reuters mengenai es seluas sekitar 700 kilometer persegi—lebih besar daripada Singapura atau Bahrain dan hampir seukuran Kota New York—telah lepas dari Wilkins bulan ini dan pecah menjadi gumpalan-gumpalan es.

Dia mengatakan, es seluas 370 km persegi itu pecah dalam hari-hari terakhir dari Beting Es Wilkins, yang terakhir dari sekitar 10 beting di Semenanjung Antartika yang menyurut dalam sebuah tren yang dihubungkan oleh Panel Iklim PBB pada pemanasan global.

Gumpalan-gumpalan es yang baru itu menambah 330 km persegi es yang lepas bulan ini dengan runtuhnya sebuah jembatan es yang menahan Beting Wilkins antara Pulau Charcot dan Semenanjung Antartika.

Sembilan beting lainnya—es yang mengapung di laut dan berhubungan dengan pantai—di sekitar Semenanjung Antartika telah menyusut atau runtuh dalam 50 tahun terakhir, seperti Beting Larsen A tahun 1995 atau Larsen B tahun 2002.

Tren ini dianggap disebabkan oleh perubahan iklim karena gas bahan bakar fosil yang memerangkap panas, kata David Vaughan, ilmuwan Survei Antartika Inggris.

Readmore »»

Perbaikan Busway Tidak Memerhatikan Lingkungan

KOMPAS, Rabu, 29 April 2009 04:46 WIB
Transjakarta merupakan alat transportasi yang menjadi program pemerintah di Jakarta. Sayangnya, melihat kenyataan di lapangan, perbaikan jalur bus transjakarta (busway) yang dilakukan di daerah Jakarta Barat tidak memerhatikan dampak lingkungan.


Para pekerja yang dibawahi oleh kontraktor yang memperbaiki busway membuang puing ke Kali Ciliwung yang ada di sampingnya dan ini menyebabkan Kali Ciliwung di kawasan Jalan Gajah Mada, Jakarta, menjadi semakin dangkal. Masalah ini kalau tidak segera ditindaklanjuti, apalagi pada musim hujan, akan membuat air hujan meluap karena dangkalnya kali ditambah dengan sampah yang sebelumnya sudah banyak di kali tersebut.

Kedangkalan kali terlihat apabila sedang panas terik, air yang ada di kali di sekitar kawasan itu menjadi kering dan puing-puing yang sudah mengeras serta menyatu dengan dasar kali terlihat dengan jelas. Sebagai warga di kawasan Jalan Gajah Mada dan pengguna jasa transjakarta yang setiap hari memerhatikan proses perbaikan busway saya melihat perubahan yang cukup signifikan pada kedalaman kali sebelum ada perbaikan busway sampai dengan selesainya proses perbaikan tersebut.

Sangat disayangkan pemerintah tidak memerhatikan dampak lingkungan yang disebabkan oleh program perbaikan busway yang rusak. Pihak pengelola transjakarta dan pemerintah harus bertanggung jawab untuk masalah ini karena bisa berdampak bagi masyarakat banyak yang tinggal di sekitar, terutama pada musim hujan. Semoga masalah ini ditindaklanjuti oleh yang berwenang.
JOHANNA Jalan Alfu Buntu Nomor 57, Maphar, Taman Sari, Jakarta

Readmore »»

PERUBAHAN IKLIM - Indonesiaz Emiter CO Terbesar dari Aspek Konversi Hutan

KOMPAS, Rabu, 29 April 2009 03:32 WIB
Jakarta - Tinjauan Bank Pembangunan Asia terhadap dampak ekonomi akibat perubahan iklim di kawasan Asia Tenggara menunjukkan Indonesia tergolong terbesar mengemisikan gas-gas rumah kaca di tingkat dunia dari sektor kehutanan dan perkebunan. Negeri ini sekaligus paling rentan terkena dampak dari akumulasi gas rumah kaca itu.


David S Mc Cauley dari Bank Pembangunan Asia (ADB) mengemukakan hal itu dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (28/4). Dari hasil analisis ADB berjudul ”The Economics of Climate Change in Southeast Asia: A Regional Review” disebutkan bahwa 59 persen emisi gas rumah kaca (GRK) di kawasan Asia Tenggara tahun 2000 berasal dari Indonesia, terutama diakibatkan meluasnya kerusakan hutan.

Menurut basis data Climate Analysis Indicators Tool (CAIT) World Resources Institute dari Washington, Amerika Serikat, yang dikeluarkan tahun 2008, Asia Tenggara menyumbang emisi GRK dunia 5.187 juta ton. Dari jumlah itu, Indonesia menyumbang 3.060 juta ton (59 persen). Jumlah itu meliputi 7 persen emisi tingkat dunia.

Tata guna lahan

Di Asia Tenggara emisi terbesar bersumber dari perubahan tata guna lahan dan hutan 3.861 juta ton. Sektor ini menyumbang 50 persen emisi global.

Indonesia—dengan 5 persen kawasan tutupan hutan di dunia—berpotensi mengurangi emisi karbon jika praktik pengelolaan hutan dan lahan diperbaiki, yaitu dengan mengurangi kerusakan hutan, reboisasi, dan memperbaiki pengelolaan hutan.

Di negara maju, sektor energi adalah sumber emisi GRK terbesar, 14.728 juta ton, di Asia Tenggara 791 juta ton, dan negara berkembang 9.503 juta ton.

Pakar ekonomi dan lingkungan Emil Salim mengatakan, masyarakat pesisir di Asia Tenggara, 80 persen dari total 563 juta penduduk, akan terkena dampak berupa kenaikan permukaan laut. Dampak lain adalah turunnya curah hujan.

Rizaldi Boer, pakar iklim dari Institut Pertanian Bogor, menambahkan, ”Menghadapi kenaikan muka laut, lebih dari 20 pulau terluar di Indonesia merupakan kawasan yang terkena dampak terbesar,” ujarnya.

Studi ADB menemukan, bila melakukan langkah dini, Indonesia bisa mendapat manfaat lebih besar lewat skema pendanaan dari lembaga dunia. Bila dunia tak melakukan upaya apa pun, negara di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Filipina, Thailand, dan Filipina, akhir abad ini akan rugi per tahun setara 6 persen PDB masing-masing.

Untuk itu, negara di Asia Tenggara diharapkan menerapkan program Stimulus Hijau untuk memperkuat ekonomi, menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, melindungi masyarakat rentan terhadap perubahan iklim, dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

Juga bisa dilakukan upaya fisik, di antaranya memperbaiki sistem pengelolaan air dan irigasi, menggunakan varietas tanaman tahan kering, melindungi kawasan hutan dari perubahan fungsi, dan membangun tembok perlindungan laut, urai Emil.

Tahun 2008, ADB menyetujui pinjaman 10,5 miliar dollar AS untuk negara di Asia, mendanai proyek hibah 811,4 juta dollar AS, dan bantuan teknis 274,5 juta dollar AS. Menurut Dubes Inggris untuk Indonesia Martin Hatfull, Indonesia hendaknya dapat memanfaatkan dana 400 juta dollar AS untuk perubahan iklim.

Readmore »»