Senin, 02 Maret 2009

Fauna - Keanekaragaman Katak Belum Dikenal

KOMPAS, Senin, 2 Maret 2009 16:13 WIB
Bandung - Keanekaragaman dan keunikan katak di Indonesia belum dikenal masyarakat. Keanekaragaman itu bisa menyelamatkan berbagai jenis katak dari kepunahan.


Demikian dikatakan herpetolog (peneliti katak) dari Sekolah Ilmu Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Djoko Tjahjono Iskandar, dalam lokakarya tentang katak di Kebun Binatang Bandung, Jumat (27/2). Djoko mengatakan, katak memiliki peranan penting dalam rantai makanan serta merupakan indikator perubahan iklim dan cuaca. Cacat atau hilangnya jenis katak tertentu bisa menjadi indikasi kerusakan lingkungan.

Selain itu, katak juga memiliki banyak keunikan, di antaranya warna, ukuran, dan struktur tubuh. Hal itu, menurut Djoko, bisa dipublikasikan baik sebagai lambang daerah maupun taman nasional. Setelah dikenal masyarakat, ekosistem dan keberlangsungan hidupnya diharapkan bisa terjaga. Katak darah

Di Indonesia diperkirakan terdapat 400-500 jenis katak, antara lain katak raksasa (Limnonectes blythii) asal Sumatera. Ukurannya terbesar kedua di dunia. Panjangnya bisa mencapai 25 sentimeter dan berat 1,5 kilogram.

Selain itu, ada katak darah dari Gunung Halimun, yaitu katak merah (Leptophryne cruentata). Katak ini satu-satunya di Indonesia yang berwarna merah darah. Hidup juga katak yang tidak memiliki paru-paru, yaitu katak kepala pipih kalimantan (Barbourula kalimantanensis). Usianya diperkirakan lebih dari 50 juta tahun dan hanya ditemukan di Taman Nasional Baka Bukit Raya, Kalimantan Barat.

Minimnya peneliti katak juga memengaruhi perhatian pada katak. Djoko mengatakan, Indonesia hanya memiliki sekitar 20 herpetolog. Akibatnya, data mengenai jenis katak di Indonesia belum lengkap. Diperkirakan saat ini masih banyak katak di Indonesia yang belum diberi nama atau belum diketahui keberadaannya.

Tidak ada komentar: