Jumat, 20 Februari 2009

Inovasi - Pemusnah Sampah dari Dlanggu

KOMPAS, Jumat, 20 Februari 2009 13:18 WIB Oleh: Ingki Rinaldi
Salikun (52), Kurdi (50), dan Bambang Suharto (41) pagi itu memindahkan tumpukan sampah ke dalam sebuah bangunan dari batu bata berukuran tinggi 2,5 meter dan lebar dinding-dindingnya sekitar 2 meter. Dari bagian atas bangunan sederhana di Dusun Kademangan, Desa Dlanggu, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, itu tampak asap putih tebal tiada henti.


Tumpukan sampah basah tadi adalah "penyebab" munculnya asap putih itu. Bangunan batu bata yang sejatinya merupakan tungku berjenjang yang dibuat berdasarkan ide Salikun pada Januari 2006 itu adalah "mesin pemusnah" tumpukan sampah.

Prinsip kerja inovasi sederhana itu didasarkan pada bekerjanya gaya gravitasi dan ketersediaan aliran udara. Di dalam bangunan batu bata itu, Salikun memasang menara kecil dari besi yang berfungsi sebagai penyangga utama jalinan 16 dan 12 batang besi lain yang saling melintang dan seolah membentuk jaring penahan.

Pada bagian bawah bangunan itu dibuatkan penampang melintang ke arah kiri dan kanan untuk menjaga aliran udara yang akan menjaga nyala api. "Sampah basah pun tetap bisa terbakar karena ketika sampai di bagian bawah sampah itu sudah kering. Api pembakaran ini tidak pernah mati selama tiga tahun," kata Salikun.

Sampah apa pun bisa dibakar. Bangunan batu bata itu sekilas mirip insinerator di sejumlah rumah sakit. Abu hasil pembakaran juga banyak dimanfaatkan sejumlah warga untuk menambah campuran media tanam.

Salikun mulai mengoperasikan bangunan pembakar sampah itu sejak 13 Januari 2006, setelah gelisah menyaksikan gunungan sampah di lokasi itu. Selama berpuluh-puluh tahun, sejak Pasar Dlanggu berdiri, lokasi itu dijadikan tempat pembuangan sampah pasar yang menyebabkan gunungan sampah pun tak terkendali.

Tumpukan sampah

Kurdi menyebutkan, selama berpuluh tahun itu gunungan sampah semakin meluas. Bau tak sedap juga makin menyebar ke seluruh penjuru desa. Baunya makin menyengat saat angin berembus. "Saya datang ke desa tahun 1976, dan sejak itu sampah di sini sudah sangat banyak," kata Salikun.

Salikun yang sehari-hari bertugas sebagai anggota Polres Mojokerto di bagian telematika dengan pangkat terakhir brigadir satu akhirnya tak tahan. "Dasar saya orangnya tidak senang menganggur, makanya saya coba buat alat seperti ini dan berhasil," katanya.

Sejak beroperasinya tungku pembakar sampah dalam bangunan batu bata itu, jumlah sampah dari Pasar Dlanggu yang dibuang di desa itu berkurang drastis. Kini tumpukan sampah hanya seluas 15 meter x 15 meter dengan ketinggian tak sampai satu meter.

Pihak pengelola Pasar Dlanggu juga memberikan insentif Rp 250.000 per bulan yang dibagi rata. Jumlah yang terbilang kecil itu tetap diterima ketiganya karena tekad awal mereka memang hanya ingin membebaskan desa itu dari kepungan sampah.

1 komentar:

gondo mengatakan...

apakah mungkin sampah basah kok semuanya bisa terbakar,kalau sudah terbukti sampah basah bisa habis terbakar dimana saja tempatnya, karena saya juga ada masalah sampah