Kamis, 05 Februari 2009

LINGKUNGAN - Membaca Pesan di Persinggahan Burung Migran

KOMPAS, Kamis, 5 Februari 2009 00:03 WIB
Sudah lama angin tak berembus. Sejak awal Oktober tahun lalu angin ini kembali menerpa rerimbunan bakau di pesisir timur Sumatera. Pergerakan udara ini mengelana bersama kawanan burung dari belahan bumi utara. Mereka sengaja singgah untuk mencari makan. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Australia.


Sayangnya, ribuan ”tamu jauh” yang singgah ini tak mendapat sambutan hangat sebagaimana tahun-tahun lalu. Kondisi ini yang dialami kawanan burung cerek (Charadrius sp) di Pantai Baru, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang. Sumatera Utara. Hamparan lumpur pantai semakin menciut. Sebagian menjadi sasaran pengerukan kapal.

Aktivitas pengerukan pasir pantai seluas 1.511 hektar (ha) sungguh tidak mengenakkan bagi mereka. Atas nama percepatan pembangunan Bandara Kuala Namu, Pemerintah Kabupaten Deli Serdang mengizinkan pengerukan pasir pantai sejak Agustus lalu. Sebagian wilayah pantai, yang sebelumnya menjadi tempat burung mencari makan, terpasang pipa karet sepanjang 2 kilometer.

Pertengahan Oktober lalu, ratusan burung asal Rusia ini mematuk-matuk makanan dalam lumpur pantai. Santapan yang mereka cari antara lain udang kecil, ikan, dan aneka jenis kepiting kecil. Demi makanan inilah mereka terbang ribuan kilometer dari tempat asalnya. Bayangan manis kawanan burung migran menjadi masam, makanan di Pantai Baru makin sedikit.

Beginikah cara orang pesisir timur Sumatera menyambut tamu jauh? Tuan rumah pesisir timur yang setia menyambut hanyalah kawanan burung kuntul (Egrett sp). Burung putih ini turut menemani burung migran mematuk-matuk makanan di lumpur dan pasir laut.

Pada siang itu 315 burung migran dari tujuh jenis yang berbeda singgah di Pantai Baru. Angka ini lebih sedikit dibandingkan dengan angka pada Januari silam di tempat yang sama sebanyak 600 ekor. Tujuh jenis burung migran yang mencari makan siang di Pantai Baru itu antara lain gajahan (Numenius sp), trinil (Tringa sp), trinil pembalik bahu (Arenaria interpres), cerek (Charadrius sp), cerek besar (Pluvialis sp), Biru Laut (Limosa sp), dan dara laut (Sterna sp).

Sebagian burung migran beralih ke pesisir lain yang cukup menyediakan makanan. Pendapat ini disampaikan pemerhati burung migran Junaidi Siregar dari Biologi Pencinta Alam dan Studi Lingkungan Hidup (Biopalas), Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara, Medan.

Menurut Junaidi, Pantai Baru merupakan satu dari sekian banyak titik persinggahan burung migran di Sumatera Utara. Tempat persinggahan di pesisir timur memanjang sekitar 400 kilometer mulai dari Kabupaten Langkat hingga Kabupaten Labuhan Batu. Biasanya tempat persinggahan mereka berupa pantai dengan hamparan lumpur. Umumnya kawasan ini memiliki vegetasi hutan bakau yang cukup terjaga.

Kawanan burung migran ini terlihat September sampai Februari di pesisir timur Sumatera. Begitu pun yang terlihat di Pantai Baru. Sayangnya, kondisi pantai ini tak seperti biasanya saat persediaan makanan masih banyak. Kawanan burung cerek terbang rendah. Berpindah ke lumpur lain di pantai itu. Apa boleh buat, meski sedikit, apa pun yang ada tetap saja mereka makan.

Kerusakan pesisir timur Sumut juga terjadi di Suaka Margasatwa Langkat Timur Laut Karang Gading. Kawasan konservasi di Kabupaten Langkat dan Deli Serdang seluas 15.765 ha ini rusak sekitar 9.000 ha. Hutan bakau di kawasan ini berubah menjadi permukiman warga, tambak ikan, dan perkebunan kelapa sawit.

Berbeda dengan Pantai Baru dan SM Langkat Timur Laut Karang Gading, pesisir Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang memiliki hamparan lumpur yang masih luas. Kali ini di Percut Sei Tuan tak ada pengerukan pasir laut. Luas hamparan lumpur memungkinkan jumlah makanan tersedia lebih banyak. Pada saat puncaknya, kedatangan burung migran ini jumlahnya bisa mencapai ribuan.

Akhir September lalu, Sumatera Rainforest Institute (SRI)—sebuah lembaga nonpemerintah yang bergerak pada pelestarian lahan basah—menyebutkan, jumlah burung migran yang singgah di Pantai Percut Sei Tuan sebanyak 1.950 dari sepuluh jenis yang berbeda. Tiga dari sepuluh jenis paling banyak merupakan burung biru laut ekor blorok (Limosa lapponica), kelompok cerek (Charadrius sp), dan gajahan besar (Numenius arquata).

Dalam The Ecology of Sumatra, migrasi burung dari utara ke belahan bumi selatan diperkirakan 12 sampai 15 juta burung setiap tahun. Mereka menghindari musim dingin di belahan utara sehingga persediaan makanan semakin terbatas. Dari sumber yang sama, selain Rusia, burung migran ini berasal dari China, Korea, Siberia, Sakhalin, pegunungan Himalaya, Jepang, dan Taiwan.

Studi aktivitas burung migran di belahan selatan ini sudah menjadi perhatian ornitolog (ahli tentang perburungan) sejak tahun 1970 an. Pemerhati burung dari SRI, Hasri Abdullah, mengatakan, pergerakan burung migran ini diketahui setelah ada kegiatan percincinan pada burung. Para ornitolog pernah menandai burung migran ini dengan cincin berwarna. Saat musim dingin, jenis burung ini diketahui kembali ke tempat asalnya. Dalam The Ecology of Sumatra, jenis burung-burung ini bukan burung endemis Sumatera.

Sebagaimana yang terlihat di Pantai Baru beberapa waktu lalu, kedatangan burung migran tidak membuat burung lokal terusir. Seakan mereka menjadi tuan rumah menyambut tamu jauh yang bertandang ke rumah. Dari pengamatan SRI, kata Hasri, kawanan burung migran ini membaur bersama burung lokal. Tidak ada perebutan makanan walau di sejumlah titik semakin sedikit. (Andy Riza Hidayat)

Tidak ada komentar: