Rabu, 04 Februari 2009

MAMALIA - 8 Paus Terdampar di Mangrove Serangan

KOMPAS, Rabu, 4 Februari 2009 00:53 WIB
Denpasar - Delapan ekor paus ditemukan terdampar dalam kondisi mati di kawasan hutan mangrove di sekitar Pulau Serangan, Denpasar, Bali. Ini merupakan jumlah terbanyak dalam sejarah terdamparnya paus di Bali dalam satu kurun waktu tertentu.


Menurut keterangan peneliti dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Budi Utomo, di Denpasar, Selasa (3/2), kondisi semua paus tertancap di akar-akar mangrove.

”Rata-rata sudah membusuk dan diperkirakan sudah terdampar sepekan terakhir. Memang tidak mudah terlihat karena tersembunyi di bawah, tertancap di akar-akar mangrove. Baru kelihatan apabila air pasang surut,” kata Budi.

Kantor BKSDA Bali menerima informasi tentang paus itu hari Minggu (1/2) dari anggota Yayasan Bahtera Nusantara, sebuah yayasan pengelolaan pesisir dan laut berbasis masyarakat di Denpasar. Kedua institusi itu lalu mengecek keesokan harinya. Mereka berjalan 2 kilometer masuk ke hutan mangrove, 500 meter di antaranya daerah berlumpur pada waktu air pasang surut.

”Informasi tersebut terlambat karena ada pengakuan pemancing Serangan yang melihat paus-paus itu sepekan lalu, bahkan ada yang melihat paus tersebut masih hidup. Mereka pikir paus-paus itu akan ke laut ketika air pasang naik,” kata Direktur Yayasan Bahtera Nusantara Wira Sanjaya.

Dari identifikasi, paus-paus tersebut adalah paus pemandu sirip pendek (Short-finned pilot whale/Globicephala macrorhynchus). Tiga ekor berukuran panjang 2,5 meter dengan lingkar badan 2 meter dan lima ekor sisanya lebih besar, estimasi panjang 3-3,5 meter. Paus pemandu sirip pendek merupakan satu dari dua spesies cetacean dari genus Globicephala. Spesies cetacean lainnya adalah paus pemandu sirip panjang (Long-finned pilot whale).

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam, Hayati, dan Ekosistem, satwa liar atau dilindungi yang ditemukan hidup harus dilepaskan kembali ke habitat asalnya. Bila hal itu tidak memungkinkan, dapat dititipkan di suatu lembaga konservasi. (BEN)
Bangkai Paus Jadi Obyek Penelitian
KOMPAS, Kamis, 5 Februari 2009 01:01 WIB
Denpasar - Bangkai paus yang terdampar di hutan mangrove sekitar Pulau Serangan, Denpasar, Bali, dijadikan obyek penelitian mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Selain melihat anatomi tubuh paus, penelitian juga untuk memastikan penyebab terdamparnya paus itu.
Rabu (4/1) pagi sekitar 15 mahasiswa FKH Unud didampingi dosen pembimbing, Nengah Windia, menarik dua dari delapan paus jenis pemandu sirip pendek (Short-finned pilot whale/Globicephala macrorhynchus) ke permukaan. Enam ekor lainnya tidak dapat dipindahkan karena terjepit akar-akar mangrove dan tubuhnya sudah terlalu busuk. Koordinator Perlindungan BKSDA Bali, Budi Adnyana, turut mendampingi penelitian itu.
Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam, Hayati, dan Ekosistem, satwa liar atau dilindungi yang sudah mati harus dimusnahkan dengan dikubur atau dibakar. Namun, hal itu tidak mungkin karena paus- paus tersebut sudah membusuk dan terjebak di bawah.
Mereka akan memeriksa DNA (deoxyribonucleic acid) dan mengambil kerangkanya untuk diteliti anatomi tubuhnya. ”Kami mengambil feses paus untuk mengetahui parasit di tubuhnya,” katanya.
Penyebab terdamparnya paus- paus itu belum bisa dipastikan. Menurut Windia, harus dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahuinya.
Cuaca ekstrem
Budi menyatakan, terdamparnya 8 paus itu terbanyak dalam sejarah di Bali dalam satu kurun waktu tertentu. Biasanya empat paus telah ditemukan mati di pesisir Bali sepanjang Januari lalu. Padahal, biasanya paus terdampar dalam 2-3 tahun sekali. Jenis paus itu antara lain Humpback whale (Megaptera novaeangliae) dan Sperm whale (Physeter macrocephalus).
”Dugaan sementara kami adalah akibat sangat kuatnya arus atau terjadi cuaca ekstrem di perairan sekitar Bali. Ini amat mengganggu proses migrasi biota laut seperti paus-paus itu,” kata Budi.
Muncul dugaan pula paus-paus itu kehilangan arah akibat gangguan sonar kapal ataupun mereka terlalu masuk ke perairan dangkal ketika mengejar pakan.
Paus pemandu sirip pendek juga memiliki ikatan sosial kuat sehingga tidak mungkin meninggalkan anggotanya. Akibatnya, mereka mati terdampar bersamaan di perairan selatan Bali dan terdampar di hutan mangrove sekitar Serangan. (BEN)

Tidak ada komentar: